Stop Tayangan Tak Bermutu

Stop Tayangan Tak Bermutu

Pernahkah anda merasa jenuh atau bahkan muak dengan tayangan TV di negeri ini. Secara jujur mungkin kita semua banyak yang merasakannya. Tayangan – tayangan yang dapat membuat kita malas menonton, toh sangat banyak di negeri ini. Mulai acara infotainment yang kurang mendidik dan menyebarkan budaya pop dan permisiv (serba boleh), sinetron yang bertema Monothon dan parahnya lagi ditayangkan setiap hari dan di saat Prime Time pula. Acara-acara music di pagi hari yang juga kadang kurang layak ditonton generasi muda dan masih banyak lagi tayangan-tayangan sejenis yang harusnya selalu kita kritisi. Banyaknya tayangan tak bermutu di negeri ini bukanlah isapan jempol belaka. Menurut Henny Supolo, Penggiat Pendidikan, tujuan undang – undang Nomor 32 Tahun 2002 mengenai penyiaran adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa (seperti amanah pembukaan UUD 45). Dan hal tersebut harusnya menjadi acuan kegiatan penyiaran. Bukan malah dengan menjadikan peringkat acara sebagai acuannya. Menurut Henny – pada acara Indonesia Broadcasting Expo 2013 (IBE), Kamis (18/04) di Jakarta- stasiun TV hendaknya menghindari tayangan yang mengumbar kekerasan, diskriminasi, dan pelecehan. Seduhan Lengkap


SAHABAT SEJATI

SAHABAT SEJATI

Di akhir zaman seperti ini sungguh sangat sulit bagi kita dalam menentukan siapakah sosok yang dapat menjadi sahabat sejati bagi kita. Nah, berikut ini ada tips dari seorang wali Allah penulis kitab Al Hikam, Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary. Mari direnungi bersama.

“Tak ada sahabat sejatimu kecuali dia yang paling tahu aibmu, dan tidak ada (sahabat seperti itu) kecuali Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Sebaik-baik sahabatmu adalah yang menuntutmu, tetapi sama sekali tuntutan itu tidak ada kepentingannya darimu untuk-nya.”

Tak ada yang lebih tahu aib kita secara detil dan rinci melainkan Allah swt, karena Dia-lah yang tak pernah meninggalkan anda ketika anda dalam kondisi hina dan tidak menolak anda ketika anda dalam kondisi sangat kurang, bahkan senantiasa mengasihi anda dalam situasi apa pun. Seduhan Lengkap


I Love My Faith

Bismillah, meski telat namun untuk mengawali tahun baru 2013 ini saya berkeinginan untuk membagi sebuah nasihat/petuah dari seorang Pemikir Islam dan Melayu kenamaan, Prof.Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud . Karena saya kira nasihat dalam bingkai puisinya tersebut sangat dalam tuk direnungi bersama.

Kenapa Begitu Sekali?

Apabila agamaku dipertahan teguh
Diamalkan ikhlas bersungguh
Aku konservatif jumud kau tuduh
Enggan maju berfikiran masa bodoh

Apabila bahasa Kebangsaan diterapkan
Di semua bidang dan lapangan
Kau melaungkan kebimbangan
Bangsa tercinta terus terkebelakang
Dalam pertandingan menambah harta dan wang
Tenggelam tertelan globalisasi menggelombang

Apabila bahasamu diangkat melangit
Bahasaku kau serang sengit
Aku kau minta berlapang dada
Demi kebaikan bersama

Apabila Tuhanku kau hina
Dengan sifat syirik segala
Kau mengibar bendera toleransi
Menyanyikan lagu hak asasi

Aku hanya bisa menulis di sini
Para penguasa sibuk mengemis undi
Insan pembawa kitab kerap menafsiri
Menurut kehendak pengikut dan kawan terkini
Kenapa begitu sekali?


Toleransi Islam

Toleransi Islam

Hari ini satu hari mendekati hari Natal. Banyak kita saksikan kaum Kristen sibuk dengan berbagai keperluan menghadapi hari raya mereka tersebut. Unik, di negeri yang dihuni mayoritas Muslim ini semarak Natal tak kalah bahkan lebih meriah dari 2 hari raya umat Islam. Mulai dari acara televisi, hingga kesibukan pusat-pusat perbelanjaan tak mau ketinggalan tuk ikut menyemarakkannya. Hal ini sangat lumrah kita saksikan di sekitaran kita. Karena Indonesia ini memang sebuah rumah besar yang dihuni mayoritas Muslim “Moderat”. Jadi kegiatan apapun yang berhubungan dengan perayaan keagamaan akan didukung oleh pemerintah Republik ini dan dipersilahkan oleh masyarakat luas dengan dalih toleransi beragama.

Namun yang menjadi masalah adalah jika toleransi itu terlampau kebablasan. Seperti adanya ajakan untuk melakukan Natal bersama dan doa lintas agama.Kami umat Islam jelas dilarang untuk mengikuti ajakan tersebut. Meskipun ada himbauan dari pengurus PBNU Pusat yang menyatakan bahwa iman warga NU (Mayoritas di Negeri ini) tidak akan luntur hanya dengan mengucapkan selamat Natal kepada teman-teman kita dari kalangan Kristen. Dan meskipun pak Kyai tersebut dapat menjamin akidah kita tidak akan terganggu, namun kami toh harus lebih patuh kepada Tuhan kami yang melarang hal itu. “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan:“Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga.” Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS Al-Maidah Ayat 73). Seduhan Lengkap


Selamatkan Indonesia Indonesia negeri kaya raya, mungkin itu dulu. Serpihan surga di bumi dimana tongkat kayu ditancapkan pun akan jadi pohon (Sumber Makanan), itu juga nampaknya hanya akan jadi tembang tempo lalu. Karena menurut kabar termutakhir, kekayaan negeri ini telah dirampok. Siapa pelakunya? Tak lain tak bukan adalah anak negeri ini juga. Demikian benang merah isi pidato Busyro Muqoddas (Wakil Ketua KPK), Anis Baswedan (Rektor Universitas Paramadina sekaligus penggagas Program Indonesia Mengajar), dan Agus DW Martowardojo (Menteri Keuangan) saat memperingati Hari Antikorupsi Sedunia di Kantor Direktorat Jenderal Pajak , Jakarta, (04/12). Dijelaskan uang negara telah digarong sebesar Rp 39,3 Triliun selama kurun 2004-2011. Hal ini dibuktikan dengan terungkapnya 1408 kasus korupsi yang berhasil ditangani Aparat Penegak Hukum selama 2004-2011 (Kompas, 05/12/12).

Padahal dana sebesar itu jika dikelola akan dapat dipergunakan untuk membangun 393.000 rumah sederhana, menyediakan sekolah gratis bagi 68 juta anak SD selama setahun, membangun 311.000 ruang kelas SD, dan dapat dipergunakan untuk memberikan 4,6 Miliar liter beras gratis bagi rakyat miskin. (Litbang KPK).

Selain membangkrutkan negeri, perilaku korupsi juga menandakan ada yang tidak beres dari para pemangku tugas publik di negara ini. Yaitu mulai pudarnya Integritas. Dan uniknya lagi, di Indonesia ini para pemimpin yang tuna integritas masih diberi tempat. Hal ini dibuktikan dengan kasus masih banyaknya para mantan napi koruptor yang setelah bebas dari bui masih diangkat lagi untuk menduduki jabatan-jabatan strategis dalam pemerintahan daerah seperti yang terjadi di daerah Riau dan beberapa daerah lain beberapa waktu lalu. Selain itu, yang gawat dari negeri ini adalah adanya proses “alami” regenerasi masif pembibitan koruptor. Jadi korupsi ini di-estafetkan di negeri ini dan bahkan di jamaah-kan. Jangankan urusan duniawiah, urusan dengan Tuhan pun dikorupsi juga seperti pada kasus korupsi pengadaan Al Qur’an yang kemarin santer dibahas. Nah, kalau sudah begini apakah masih layak kita berbangga dengan romantisme masa lalu yang mana negeri ini selalu disanjung sebagai negeri gemah ripah loh jinawi, padahal saat ini untuk mencari sandang, pangan, dan papan saja susahnya minta ampun.

Dari sini sebenarnya kita dapat menarik sebuah benang merah bahwa akar masalah bangsa ini adalah Korupsi dan melimpahnya stok pemimpin cacat integritas. Korupsi jelas merusak. Korupsi ibarat bakteri yang menyerang pohon (baca : bangsa) ini bahkan hingga ke akarnya. Seperti artinya, Corruptio/Corruptus, yang berarti busuk/pembusukan atau rusak (Dalam Bahasa Latin). Bangsa ini dibusukkan agar lekas tumbang dan hanya sisa nama. Maka tidak ada alasan untuk tidak membenci perilaku keji ini. Yang berikutnya adalah Melimpahnya stok pemimpin cacat integritas. Ini juga membahayakan. Karena tingkah polah mereka sangat berdampak besar bagi kehidupan rakyat dan kelangsungan hidup bangsa ini. Sebab merekalah nahkoda kapal besar bernama Indonesia ini. Merekalah para pembuat undang-undang yang nantinya mengatur hajat hidup orang banyak. Bahkan tanpa tedeng aling-aling, Abdullah Dahlan seorang peneliti dari Indonesia Corruption Watch (ICW) berani menyebut bahwa DPR yang notabene adalah tempat berkumpulnya para penggodok kebijakan/undang-undang bagi rakyat adalah Episentrum Korupsi. Mengerikkan bukan?

Seduhan Lengkap


Free Palestine

Free Palestine

Jalur Gaza memanas kembali, pasca Syahidnya komandan tertinggi Brigade Izzuddin Al Qasam (Sayap Militer HAMAS), Ahmad Ja’bari, Rabu 14 November 2012. Dari peristiwa yang hingga seduhan ini tersaji, korban jiwa masih terus berjatuhan karena Israel masih secara massiv menggempur Gaza, ada satu berita menarik yang berupa surat yang dikirimkan oleh salah seorang penduduk Gaza yang meskipun bukan merupakan orang besar di daerah itu, namun setidaknya ada sebagian besar potret isi hati warga Gaza dalam isi suratnya tersebut. Semoga dapat menjadi bahan perenungan bersama bagi kita agar dapat lebih dapat mensyukuri hidup dan lebih berempati terhadap penderitaan manusia lain di sekitar kita dan juga yang berada di sisi bumi yang lain. Berikut isi surat tersebut.

Surat dari Gaza untuk Muslim Indonesia
Oleh Noer Malaky

“Untuk saudaraku di Indonesia, mengapa saya harus memilih dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia. Namun jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki adalah karena negeri kalian berpenduduk muslim terbanyak di punggung bumi ini, bukan demikian saudaraku? Seduhan Lengkap


Our Prophet's Honour

Our Prophet’s Honour

Dunia Islam gempar. Demikian situasi yang belakangan terjadi. Apa pasal ? seperti yang diketahui bersama, semua itu akibat sebuah film “nista” yang bertajuk Innocence Of Muslim besutan sutradara Amerika berdarah Mesir, Nakoula Basseley Nakoula (Sam Bacile). Film pendek yang kabarnya didanai oleh 100 tokoh Yahudi ini memang sangat mencederai perasaan umat Islam di seluruh dunia. Sebab di film tersebut Nabi Muhammad yang sangat diagungkan kehormatannya dilecehkan dan difitnah sangat kejam, mulai dari sosok yang gila perempuan, pedhofil, haus darah manusia lewat pedangnya dan kelakuan-kelakuan biadab lainnya. Semua itu jelas fitnah yang sangat keji. Dan dampak dari pemutaran film tersebut di Youtube tentu saja sangat besar.

Berawal dari Libya dengan tewasnya Dubes AS dan beberapa stafnya. Dan selanjutnya badai protes terus menerjang mulai dari timur tengah, asia selatan, hingga asia tenggara. Ada sesuatu yang unik dari kasus ini, Amerika yang selalu mengagungkan demokrasi dengan toleransi antar umat beragama sebagai turunannya, nyatanya hanya diam saja bahkan cenderung membela sang penggagas film tersebut dengan dalih kebebasan ekspresi dilindungi konstitusi Amerika. Seduhan Lengkap

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.