Resep Surga

Resep Surga

Mungkin telah kita ketahui bersama bahwa di negeri ini begitu banyak sekali ahli kuliner yang  jago memberi resep kepada kita mengenai cara agar masakan kita lezat. Banyak pula ahli kesehatan memberikan resep agar kita tetap sehat. Dan lagi tak sedikit pula ahli keuangan dan perencanaan masa depan yang mahir memberi resep kita agar hidup bahagia dengan segala kekayaan duniawi. Namun dari semua resep-resep “semu” tersebut, ternyata sangat sedikit sekali ahli yang memberi kita resep untuk menjadi manusia yang mulia. Dan dari  yang sedikit tersebut salah satunya adalah Al Hujjatul Islam, Imam Ghozali. Beliau memberi resep agar kita mampu menjadi manusia yang rendah hati (tawadhu’). Karena barangsiapa yang ingin disayang Tuhan dan disanjung seluruh penduduk langit, sifat rendah hatilah kuncinya. IMAM AL GHAZALI rahimahullah memberi nasihat agar kita jangan sampai melihat diri kita lebih baik. Karena kebaikan yang hakiki adalah dari penilaian Allah di akhirat kelak dan itu masalah ghaib. Hal itu juga tergantung dengan keadaan bagaimana keadaan kita waktu meninggal.

Sebab itu, Imam Al Ghazali pun menyampaikan agar kita memandang pihak lain dengan kacamata tawadhu’,”Jika engkau melihat anak kecil, katakanlah dalam hatimu, ‘Ia belum pernah bermaksiat kepada Allah. Sedangkan aku telah bermaksiat. Tidak diragukan lagi bahwa ia lebih baik dariku.’ Jika engkau melihat orang yang lebih tua katakanlah,’Orang ini telah beribadah sebelum aku melakukannya. Tidak diragukan lagi bahwa ia lebih baik dariku.’ Jika melihat orang alim (pandai), katakan,’Orang ini telah memperoleh apa yang belum aku peroleh. Maka, bagaimana aku setara dengannya.’Jika dia bodoh, katakan dalam hatimu,’Orang ini bermaksiat dalam kebodohan, sedangkan aku bermaksiat dalam keadaan tahu. Maka, hujjah Allah terhadap diriku lebih kuat, dan aku tidak tahu bagaimana akhir hidupnya dan akhir hidupku.’ Jika orang itu kafir, katakan,’Aku tidak tahu, bisa saja dia menjadi Muslim dan akhir hidupnya ditututup dengan amalan yang baik dan dengan keislamannya dosanya diampuni. Sedangkan aku, dan aku berlindung kepada Allah dari hal ini, bisa saja Allah menyesatkanku, hingga aku kufur dan menutup usia dengan amalan keburukan. Sehingga ia kelak termasuk mereka yang dekat dengan rahmat sedangkan aku jauh darinya.’” (Maraqi Al Ubudiyah, hal.79).

Subhanallah, resep yang sangat indah jika kita manfaatkan dalam mem-bumbu-i kehidupan kita agar kita menjadi manusia-manusia mulia. (ms/senyapandaan)

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena (senyapena@gmail.com)

Diseduh Di      : Senyapandaan

Bahan Racikan : http://www.hidayatullah.com/read/21052/08/02/2012/memandang-orang-lain-dengan-%E2%80%9Cmata-tawadhu%E2%80%99%E2%80%9D.html