Malam itu seorang editor buku di sebuah penerbitan terlihat sedang sibuk dan suntuk memelototi komputer di depannya dan memainkan jemari seraya mengedit beberapa tulisan yang deadline terbitnya beberapa hari lagi. Di temani suara hujan di luaran sana, dia terus mengerjakan tugas maha membosankan tersebut. Sesekali ditutupinya mulutnya yanmg berkali-kali menguap, tanda kepenatan tubuhnya yang tidak mau diajak kompromi kembali. Kemudian, Mang karta sang OB di kantor tersebut yang selalu pulang agak belakangan karena tuntutan amanah tugasnya untuk melayani kebutuhan2 staff menghampiri sang editor tersebut sembari menawarkan secangkir kopi hangat. Tentu saja sang editor merasa sedikit terhibur. Nyatanya dia tak sendiri melewatkan malam ini. Di tengah guyuran hujan malam di luaran sana yang kian deras, dua insan tersebut terlibat obrolan sekadarnya untuk sedikit meramaikan suasana ruangan tersebut yang malam ini hanya dihuni oleh mereka berdua dan beberapa ‘makhluk lain’ tentunya. Obrolan mereka mengalir begitu saja tanpa tema tertentu. Mulai dari curhatan hidup, suasana kerja, bola dan lainnya.
Di sela2 obrolan2 tersebut, sang Editor juga tanpa sungkan juga menceritakan keluh kesahnya menjadi seorang ‘Tukang Reparasi Tulisan’. Bahkan dia sempat iri melihat kehidupan Mang Karta yang meskipun hanya seorang OB namun dia tetap kelihatan lebih bahagia dalam menjalani hidup ini. “Mang, apa sih resepnya agar hidup terasa lebih hidup?”,tanya sang Editor. “Ah, Mas bisa saja, masak bapak bertanya masalah beginian kepada saya”, jawab Mang Karta polos. “Bukannya begitu, saya lihat Mang Karta dalam melakukan pekerjaan sehari-hari di kantor selalu nampak ikhlas dan tidak pernah sedikitpun menggerutu. Beda dengan saya yang selalu merasa tertekan, jenuh, dan serasa hidup tak ada variasinya.” Mang Karta hanya diam penuh perhatian menanggapi keluhan rekannya tersebut. Lalu beliau menunjuk ke arah papan Keyboard di depan sang Editor, “Mas Erwin, benda paling panjang ini apa ya namanya?. “Oh tombol ini disebut Spasi yang berfungsi untuk memisahkan teks2 agar kata per kata terpisah alias berjarak satu dengan yang lainnya sehingga rangkaian kata2 yang tersusun menjadi kesatuan kalimat tersebut memiliki arti,” Sang Editor menjelaskannya dengan santai. “Lantas jika kita tidak menggunakannya, apa akan berpengaruh besar?” Mang Karta bertanya masih dengan wajah polos khas Orang2 bawah. “Tentu saja pengaruhnya sangat besar bahkan Vital, karena jika tiap kata tidak dipisahkan dengan spasi , maka keseluruhan kata tidak akan memiliki arti karena sulit dipahami.”
“Oh mungkin itulah jawaban dari kepenatan hidup Mas Erwin selama ini, sampeyan terlalu sibuk dan gagal memanfaatkan kesempatan rehat di sela2 kesibukan kerja sehingga hidup sampeyan terasa monoton dan kurang memiliki arti”. Ucapan tersebut sontak menyadarkan Sang Editor, dia baru menyadari nilai filosofi dari tombol Spasi yang notabene di pijitnya sehari2. Dan yang lebih mengesankan adalah bahwa ungkapan bijak tersebut meluncur dari mulut Mang Karta. Sesosok manusia bersahaja yang polos dan neriman dalam menjalani hidup.
[ Diseduh oleh Musyaf ]