Sekitar awal tahun 2006, jejak tinta ini tertumpah di wadah pikirku, yaitu ketika aku dan seorang sahabat yang kebetulan sedang magang di salah satu Instansi pendidikan tinggi di bumi Jawa Timur sedang berada dalam sebuah bus kota yang melaju dari arah terminal Purabaya (Bungurasih) Surabaya menuju terminal dalam kota Surabaya, tepatnya di Terminal Bratang. Di sela-sela perjalanan selayaknya dalam bus kota ada seorang musisi jalanan (Pengamen)yang sedari tadi menghibur kami para penumpang yang tentunya seperti kawan2 ketahui suaranya yang meskipun semerdu apapun jarang ada yang mendengarkan dengan seksama. Nah, setelah puas bernyanyi untuk mencari sesuap nasi atau cuma lagak iseng cari tambahan nafkah, pengamen tersebut mengucapkan terima kasih dan berucap (Uluk) salam kepada seluruh penumpang. Kemudian, sembari dia menyodorkan bungkusan tempat recehan hasil mengamennya tadi, dia berucap dengan suara agak dikeraskan yang kedengaran oleh seisi bus. Ketika sampai di salah satu penumpang yang memberi recehan padanya, Dia bilang,”Terima kasih Mas (atas apresiasinya) dan terima kasih juga telah membalas ucapan salam saya, padahal siapalah saya ini. Jarang-jarang ada yang membalas Salam dari seorang pengamen seperti saya.” Sontak aku yang duduk di bangku belakang yang mendengar ucapan pengamen tersebut merasa tersindir. Bagaimana tidak, bukankah Kanjeng Nabi Muhammad bilang bahwa menjawab salam (Assalamu’alaikum) itu hukumnya wajib. Dan akan berakibat dosa bagi yang tidak menghiraukannya, dan kewajiban menjawab ini akan gugur meski hanya satu orang yang menjawabnya dalam kumpulan orang bayak. Namun untungnya ada bapak tadi (yang diberi ucapan terima kasih oleh si pengamen) yang masih menjawab salam tersebut sehingga dosa tersebut tidak membebani kami. Sebuah pelajaran bagiku, bahwa “terkadang ucapan malaikat nan mencerminkan kalimat surgawi seperti Salam misalnya, tidak hanya melulu meluncur dari bibir yang disangka tiada pernah berdusta, namun juga dapat terucap dari lisan sederhana seseorang yang ‘dianggap’ tidak memiliki status sosial dan cenderung dicap negatif akibat asal lingkungannya seperti pengamen tersebut yang berlatar anak jalanan.” Toh, Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga pernah bilang,” Jangan lihat siapa yang bicara (berucap) tetapi lihatlah apa yang dibicarakan (diucapkan)”. Nyatanya pengamen tersebut juga Seorang Muslim seperti aku yang derajatnya mungkin saja di sisi-Nya lebih mulia dibanding yang memandangnya sebelah mata. Oh Rabb, ampuni aku dan makaci telah beri akuteguran bijak lewat lisan salah seorang hamba-Mu yang teriring dengan dawai2 gitar kopong milknya.
Diseduh oleh : Musyaf Senyapena