Indonesia

Indonesia

20 Mei dalam Almanak hari-hari nasional adalah hari yang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Ditetapkannya tanggal tersebut sebagai Hari Kebangkitan merupakan penghormatan Bangsa terhadap Jasa Boedhi Oetomo yang ‘konon’ dianggap sebagai Organisaasi masa pertama yang berhaluan kebangsaan dan memiliki andil besar dalam mempelopori perjuangan bangsa menuju kemerdekaan melalui organisasi politik. Benarkah demikian?

Boedhi Oetomo (BO) lahir pada 20 Mei 1908 yang dimotori oleh Mahasiswa-mahasiswa kedokteran pribumi lulusan STOVIA seperti Dr.Soetomo dkk yang rata-rata berasal dari kalangan ningrat Jawa dan Madura (Priyayi). Ketua pertamanya adalah Raden T. Tirtokusumo yang merupakan seorang Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda yang memimpin BO hingga 1911. Penerus kepemimpinan berikutnya adalah Pangeran Aryo Notodirojo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh Belanda dan dia sangat loyal pada majikannya tersebut.

Di dalam setiap rapat pertemuannya dan juga dalam susunan Anggaran Dasar (AD) Organisasi, BO tidaklah menggunakan bahasa Indonesia melainkan memakai bahasa Belanda. Organisasi yang tokoh-tokohnya sering melecehkan Islam ini “hanya” bertujuan untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah serta bangsa Jawa dan Madura secara harmonis [Pasal 02 Anggaran Dasar BO]. Arah perjuangan BO yang a-nasionalis dan cenderung Chauvinisme sempit yang sebatas memperjuangkan Jawa dan Madura inilah yang membuat Dr.Soetomo dan Dr.Cipto Mangunkusumo yang merupakan 2 tokoh teras BO akhirnya memilih hengkang dari organisasi tersebut.

Tidak hanya a-nasionalis, BO juga anti Islam dan Arab (Hal ini dibenarkan oleh sejarawan Hamid Algadrie dan Dr.Radjiman). Dalam sebuah pidatonya mengenai Gedachten van Kartini alsrichtnoer Voor de Indische Vereniging, Noto Soeroto yang merupakan tokoh BO pernah berujar, “Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya…sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan.”

A. Hassan dalam majalah Al-Lisan juga pernah mengutip pernyataan-pernyataan yang melecehkan Islam yang dimuat dalam sebuah artikel di Suara Umum yang merupakan media massa milik BO di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya yang berbunyi,”Digul lebih utama daripada Mekah, Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu kamu punya Kiblat!”[ (M.S) Al Lisan no. 24,1948].

Dan yang lebih mengejutkan adalah sebua fakta bahwa ada pengaruh Yahudi dalam tubuh BO melalui organisasi rahasia internasionalnya yang melegenda, Freemasonry (Tarekat Mason bebas). Karena ternyata ketua pertama BO yakni Raden Adipati Tirto Kusumo adalah seorang anggota Freemasonry yang aktif di Loge (Rumah Setan) Mataram sejak 1895. Dan ada juga Boediarjo sekretaris BO (1916) yang aktif sebagai Mason dan bahkan mendirikan cabangnya sendiri yang dinamainya Mason Boediarjo.

Upaya sistematis penyebar luasan pengaruh Yahudi di Indonesia yang bahkan kala itu masih berbentuk embrio yang disusupkan melalui BO ini tercantum dalam buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962 yang ditulis oleh Dr.Th.Stevens yang hanya dicetak 5000 eksemplar oleh Pustaka sinar Harapan dan hanya diterbitkan sekali cetak tahun 2004 yang diperuntukkan hanya bagi para anggota dan mantan anggota dari Freemasonry di Hindia Belanda dulu dan Indonesia ini berbunyi,”…Pengaruh Tarekat Mason Bebas atas emansipasi segmen penduduk Indo-Eropa telah mendapat perhatian, tidaklah terlupakan bahwa mereka juga mempunyai pengaruh dalam gerakan nasional indonesia. Kaum Mason Bebas sudah pada tahap dini mengadakan hubungan dengan salah satu organisasi politik Indonesia yang pertama, yang bernama ‘Boedhi Oetomo’…(Hal. Xviii).

Jika telah sedemikian telanjangnya kepalsuan sejarah BO yang dikultuskan sebagai pelopor pergerakan kebangkitan bangsa, mengapa kah sejarah masih dipertahankan. Padahal sebelum BO telah ada sebuah organisasi yang arah perjuangannya jelas menentang Kolonialisme yaitu Sarekat Dagang Islam/Sarekat Islam(SDI/SI) yang berdiri pada 16 Oktober 1905. Yang membedakan BO dan SI adalah karena SI bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya; bersifat Nasional dan keanggotaannya terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas Islam, terbukti dengan susunan pengurusnya seperti H. Samanhudi (Jateng), HOS. Tjokroaminoto (Jatim), H. Agus Salim dan Abdoel Moeis (Sumbar) dan A. Sangaji dari Maluku. Anggaran Dasr SI ditulis dengan bahasa Indonesia; bersikap non-kooperatif dan anti Kolonialisme Belanda sedangkan BO menggalang kerjasama dengan Belanda karena tokoh-tokohnya kebanyakan Priyayi pegawai pemerintah Belanda; SI memperjuangkan kemerdekaan dan mengantar bangsa melewati pintu gerbang kemerdekaan sedangkan BO Pro Kolonial dan telah bubar pada 1935; SI yang bersifat kerakyatan dan kebangsaan adalah korban perjuangan karena banyak anggotanya yang dipenjara, ditembak mati dan dibuang ke Digul sedangkan anggota BO yang Feodalisme dan keningratan tidak pernah merasakannya.

Lantas mengapa sejarah begitu kabur mengenai fakta ini. Ada 2 kemungkinan , pertama adalah sejarah tersebut ditulis oleh mereka yang tidak memiliki data Shahih fakta sejarah. Kemungkinan kedua , sejarah tersebut ditulis oleh sejarawan-sejarawan nasionalis sekuler pengidap Islamphobia yang menerima “pesanan” oknum tertentu sehingga bersekongkol menutupi sejarah karena Asas SI adalah Islam yang sangat mereka khawatirkan jika kelak SI dianggap sebagai motor kebangkitan bangsa yang sesungguhnya dan dapat menginspirasi generasi muda Isla m untuk melanjutkan perjuangan Islam seperti SI dalam wadah NKRI. Hal ini sesuai dengan ungkapan Napoleon Bonaparte yang berbunyi,”Sejarah adalah persekongkolan kebohongan”.

Sungguh perjuangan pengaburan sejarah tersebut berlangsung hingga kini melalui buku2 sejarah di sekolah, tulisan dan opini mereka di media Massa juga masih gencar berlangsung.

Dan yang lebih membuat miris adalah sejarah palsu kebangkitan ini masih didoktrinkan pada generasi muda bangsa sejak dini di sekolah oleh guru-guru yang hanya berpaku pada teks buku sejarah tanpa berusaha menelusuri fakta sejarah di berbagai literatur sejarah Yang lebih Shahih sebagai pembanding. Semoga kita tidak termasuk mereka yang disindir dalam Al Qur’an, “Bahkan yang sebenarnya , mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya…”(QS.Yunus [10] :39).
Kawan, seduhan ini disajikan bukan karena ada tendensi apapun dari penyeduh. Kami hanya berusaha menyuguhkan kebenaran yang tersembunyi atau yang memang sengaja disembunyikan oleh ‘mereka’ yang berkepentingan. Toh, bukan rahasia lagi dalam perjalanan bangsa ini bahwa begitu banyak fakta sejarah yang shahih yang sengaja dikaburkan oleh tangan-tangan penguasa dan ‘mereka2’ yang berkepentingan. Jika timbul dalam benak anda mengapa versi sejarah kebangkitan dapat dikaburkan dari kita dan didoktrinkan kepada kita semenjak pendidikan dasar, salah satu jawabannya menurut penyeduh adalah karena ‘siapa yang berkuasa maka merekalah yang dapat mendiktekan sejarah semau tujuan mereka”..
Dan saatnya anak2 bangsa ini bangun dari buaian dusta-dusta mengenai sejarah kebangkitan bangsa yang selama ini menidurkan liang pikir kita. Dan jika tak berlebihan, maka marilah kita ‘sadar’ bersama2 dalam Hari Kebangunan Nasional” untuk menghargai para pahlawan republik ini. Bukankah bangsa yang besar adalah yang menghargai pahlawan (yang sebenarnya) nya…?

Wallahu A’lam
Diseduh Oleh : EmEs Ka (Musyafucino’s crew)