Hujan

Hujan

Sabtu sore itu, langit sekitaran kandang imadjie di daerah pinggiran kota Pandaan tempat aku tinggal, langit terlihat muram dan mendung sedari tadi menggelayut tak lama kemudian meneteskan air langit yang perlahan kian menderas membasuh wajah bumi. Sembari menikmati suasana hujan yang menebarkan aroma tanah yang berasal dari luruhan debu-debu genting, kuamati tetes-tetes ini di dedaunan luar sana. Oh, sungguh betapa indah dan damainya hati meresapi hujan ini.
Sejenak teringatku akan Kalam Ilahi yang begitu indah menjelaskan gejala ala mini yang berbunyi, “Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang telah mati. Seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” [QS. Az-Zukhruf (43) :11].
Harun Yahya maenjelaskan secara ilmiah ayat ini secara bagus. Kadar dalam hujan yang disebutkan oleh ayat di atas ternyata sesuai dengan temuan penelitian modern. Diperkirakan dalam 1 detik, sekitar 16 juta ton air menguap dari bumi. Angka ini menghasilkan 513 triliun ton air per tahun yang ternyata sama dengan jumlah air hujan yang jatuh ke bumi dalam waktu setahun. Ini berarti air senantiasa berputar dalam suatu siklus yang seimbang menurut ‘ukuran’ (kadar) tertentu dan kehidupan di bumi ini bergantung pada siklus air ini. Siklus seperti ini tidak akan sanggup dibuat oleh manusia meski dengan menggunakan semua teknologi tercanggih di planet ini.
Per tahunnya, debit air yang menguap dan turun kembali ke bumi dalam bentuk hujan berjumlah ‘TETAP’ yaitu 513 triliun ton yang dalam Alqur’an jumlah yang tetap ini dinyatakan menggunakan istilah ‘Menurunkan air dari langit menurut kadar’. Stagnansi jumlah ini sangat vital bagi keberlangsungan keseimbangan Ekologi dan kehidupan karena satu penyimpangan kecil saja dari jumlah ini akan menghancurkan keseimbangan Ekologi yang dapat mengakibatkan berakhirnya kehidupan di bumi ini.
Namun, Dengan Kebesaran-Nya hal ini tidak pernah terjadi dan hujan selalu turun tiap tahun dalam jumlah yang ‘Nyata’ sama dengan penjelasan Alqur’an.
Kawan, sebenarnya masih banyak sesuatu hikmah dan pelangi hidup yan besar di balik fenomena huja ini. Namun InsyaAllah akan kami seduhkan di lai waktu, pasti, BiIdznillah. So, bersambung dulu seduhannya…Wallahu A’lam Bil Shawab.
Diseduh oleh : Musyaf Senyapena
Bahan Racikan : Dari berbagai sumber