Obrolan Kedai Kopi

Obrolan Kedai Kopi

Hujan masih mengguyur deras di langit kota itu sedari pagi. Memang cuaca akhir-akhir ini sungguh kurang bersahabat dan sangat mengganggu aktivitas para penduduk kota kecil tersebut dan membuat mereka malas untuk keluar rumah jika tidak adakeperluan yang berarti. Namun ada juga beberapa warga yang memilih berkumpul di sebuah kedai kecil di pinggiran jalan yang dijadikan tempat nongkrong favorit warga pinggiran semacam sopir angkot, tukang ojek, buruh, dan juga mereka yang sekadar mampir karena kebetulan lewat dan memilih berteduh di situ sambil ngopi bareng. Di salah satu sudut meja yang berada di dekat sebuah kaca yang memungkinkan untuk dapat melihat-lihat keadaan di luar kedai, duduklah dua orang yang terlihat sangat kontras dari segi usia. Maklum saja mereka adalah seorang pemuda yang berusia sekitaran 18 tahun dan di sebelahnya adalah seorang tua yang ternyata adalah guru Geografi yang juga wali kelas pemuda tersebut. Ditemani rinai hujan yang kian menderas mereka asyik membincang berbagai topik, mulai mapel di kelas, headline berita saat itu sampai hal yang lebi mendalam seperti tentang makna kehidupan. Pemuda tersebut juga mengeluhkan keadaannya yang sering dialaminya akhir-akhir ini. “Pak Harfan, kenapa ya saya selalu ngerasa gamang menghadapi masa depan saya nanti?” tanya pemuda itu dengan gaya bahasa yang santai namun serius. “Saya bingung dengan cita2 saya, saya menyukai Geografi, Matematikapun oke, apalagi Sastra, wuih doya banget.” Pak Harfan lantas bertanya balik,”Lalu apa yang kamu bingungkan?bukankah kamu sudah tahu bidang2 apa saja yang kamu kuasai dengan baik?”. “Justru karena itulah Pak, saya bingung karena terlalu banyak bidang yang saya geluti maka persentase keseriusan saya terhadap salah satu bidang2 tersebut tidak bisa seratus persen. Konsentrasi saya seolah terbagi2.”
Pak Harfan hanyatersenyum simpul menanggapi unek2 muridnya itu. Sambil menyeruput secangkir hangat musayafuccino di dekatnya, pandangannya diedarkan ke arah hujan di luaran sana. “Boy, Coba perhatikan air hujan yang jatuh dari genting2 tesebut,” seraya telunjuknya menuding ke sebuah rumah di seberang kedai. “Memang kenapa Pak?Boy bertanya dengan heran. “Begitulah kurang lebih keadaan konsentrasimu sekarang yang terpecah2 sehingga persentasenya kecil seperti air yang menetes dari genting2 itu. Da coba perhatikanlah pancuran atap di rumah itu, begitulah perumpamaan konsentrasi yang terkumpul dan terpusat dengan baik. Bukankah air yang meluncur ke tanah menjadi lebih banyak dan lebih memiliki persentase yang besar tidak seperti air yang menetes dari genting2 tadi yang meski sama2 meluncur ke arah yang sama dengan air pancuran namun kekuatannya kecil rintik2. Maka sedari sekarang kumpulkanlah konsentrasimu yang terbesar pada satu bidang yang benar2 kamu tuju,niscaya persentase keberhasilannya akan menjadi lebih besar seperti derasnya air pancuran tadi.”
Boy yang mulai mengerti tamsil yang dijelaskan gurunya tersebut berujar, “Benar,itulah intinya FOKUS pada satu bidang yang benar2 aku kuasai”. Hujan masih turun diluaran sana, dan obrolan para pengunjung di kedai kopi itu kian hangat saja.