rose

Di sebuah taman yang sangat indah dan ditumbuhi beragam bunga dan tetumbuhan lainnya, terkisah dialog ini. Percakapan antara dua primadona di dunia bunga yang sangat termasyhur yaitu antara Melati dan Mawar. Kali ini dengan disaksikan oleh khalayak penghuni taman tersebut, dialog ini berlangsung seru. Sebenarnya awal mula semua ini adalah karena banyaknya komentar komentar miring di dunia bunga dan seluruh penghuni taman dan bahkan kalangan manusia pun sering membincangkannya. Yaitu tuduhan dan stereotipe yang menyatakan bahwa Sang Mawar adalah perlambang kemunafikan dan suka melukai. Hal ini secara Massive didoktrinkan secara terus menerus di kalangan manusia melalui cerita cerita percintaan picisan yang banyak memakai perlambang merah dan mawar sebagai lambang seseorang yang jahat, munafik dan hal hal negatif lainnya. Sedangkan sang Melati sebaliknya dianggap sebagai perlambang sesuatu yang baik, bersih, suci dan hal hal baik lainnya karena warnanya yang putih dan ‘tubuhnya’ yang tak berduri.
Namun untuk lebih bijaknya mari kita dengar pembelaan dari sang Mawar yang dipojokkan sedemikian kejinya.
Mawar : “Manusia dan mereka2 menganggapku sebagai lambang kemunafikan dan jahat dalam cerita2 kehidupan mereka baik melalui sinetron, film, novel atau hal2 picisan lainnya. Namun setahuku bahwa Sang Nabi Mereka yang mulia (Muhammad SAW) telah menjelaskan bahwa tanda2 kemunafikan ada 3 yaitu;Jika berkata dia berbohong, jika
berjanji dia mengingkari (Tidak Konsisiten terhadap janjinya), dan jika diberi amanah dia berkhianat. Dan aku dengan ini mengatakan bahwa aku tidaklah memiliki ciri2 tersebut sama sekali, lihatlah :
1. Aku tidak pernah berbohong bahwa aku berduri dan dapat melukai bagi mereka yang mencoba2 menyentuh (menjamah)ku dengan seenaknya. Duriku tidak lain adalah perisaiku untuk menjaga dan melindungi kehormatanku dari ‘tangan2 jahil mereka’. Bukankah sama dengan yang diwajibkan Tuhan kepada para wanita agar berhijab (melimdungi diri mereka dengan menjaga kesucian aurat agar tak mudah dijamah oleh yang tak berhak) yang salah satu caranya dengan berjilbab Syar’i. Toh sebenarnya duriku tidak akan melukai bagi mereka yang mengerti cara memetikku sama dengan penghalalan diri wanita kepada lelaki jika telah sah menjadi suaminya melalui pernikahan
2. Aku tidak pernah mengingkari janjiku kepada Nya yang menitahkan aku agar tetap mewangi sepanjang hidupku ketika aku merekah. dan ketika gugur bungaku akan menjadi pupuk bagi kesuburan generasi setelahku yang akan menjadi Mawar setelahku. Bukankah hal ini perlambang kesetiaan seperti setianya seorang istri yang juga seorang ibu kepada suami dan keluarganya dalam menjalankan kewajibannya. Dan mempersiapkan anak2nya sebagai penerusnya dan setelah wanita tersebut telah tua dia akan menjadi ‘pupuk inspirasi dan keteladanan’ bagi anak2nya nanti.
3. Dan Aku tidak pernah menghianati amanah TuhanKu untuk menjaga kesucian diriku sekuat dayaku. Baik melalui Duri sebagai perisaiku dan keindahanku pun tidak pernah aku salah gunakan. Karena aku yakin dengan inilah Aku akan menjadi Bunga Terhormat selayak Muslimah Mukmin kebanggaan Tuhanku.
Perihal mereka yang menganggap kesucian dapat dilihat melalui warna, menurutku itu pendapat yang naif. Toh Aku (Mawar) juga ada yang berwarna putih. Bagiku kesucian adalah ketika kita bisa menjaga kehormatan diri dari tangan tangan jahil yang berniat merendahkan harga diri kita sebagai bunga yang ‘Mahal dan Terhormat’ dan salah satu caraku adalah dengan menggunakan duriku. Aku tidak mau seperti ‘bunga2 lain’ yang begitu mudahnya menyerahkan tubuh mereka untuk dijamah dan dipermainkan tangan2 keji yang tak berhak. Demikian pembelaanku semoga dengan semua ini mereka yang selalu menganggap aku negatif akan tersadar. Amin.
ALJAMAALU BULAA HAYA’ KAL WARDHATI BILAA ITHRIN
KECANTIKAN TANPA RASA MALU ADALAH SEPERTI MAWAR TANPA KEHARUMANNYA