Pagi di Sabtu pagi itu seorang kawan mengajakku ke rumah seorang teman sekolah dulu dalam sebuah keperluan. Rumah teman tersebut berada di sekitaran Pekuburan Cina yang termasyhur di wilayah Kecamatan Sukorejo Pasuruan. Sepanjang jalan menuju rumah teman tersebut mata dimanjakan oleh pemandangan hijau persawahan plus hawa sejuknya yang menyelingi pemukiman penduduk. Puncak ketakjuban adalah ketika kami telah sampai di pekuburan Cina yang melegenda tersebut. Ternyata benar kata Ibuku yang mengatakan bahwa area pekuburan Cina itu sangat luas dan masing – masing makam yang didesain bagus dan berbeda dari makam2 di kampong kami itu sudah dipesan jauh hari oleh si empunya ketika masih hidup. Beliau taunya saat ikut mengantar jenazah seorang pemilik Pabrik tempat beliau bekerja. Jadi jangan kaget jika masih banyak pula makam yang di dalamnya masih kosong meski makam tersebut sudah rampung total, karena orangnya ternyata masih hidup.
Dalam pengamatanku selama melewatinya, tidak sedikit mereka (yang kelihatannya para Tunawisma) yang menjadikan makam2 tersebut tempat tidur dan hunian sehari2 mereka. Yang aku maksud tentunya bukan di dalam makamnya namun di atasnya dan di sekitarannya. Toh mereka juga dapat berteduh dari panas dan hujan karena banyak pula makam yang dinaungi atap yang menjadikannya kelihatan seperti pendopo kecil. Aku sempat berfikir bagaimana jika dana pembangunan makam yang bahkan masih lebih mewah jika dibandingkan gubuk2 reot di kampungku tersebut dialihkan untuk pendanaan fasilitas umum seperi Panti, Rusun dan tempat Sosial semacamnya yang tentunya akan banyak membantu meringankan kehidupan para kaum papa. Namun toh inilah realita sosial dan budaya masing2 etnis yang harus saling dihormati. Dan seduhan ini tidak ada maksud sedikitpun untuk menyinggung Sosio-Kultur Etnis tertentu di negeri tercinta ini.
Hanya saja saya yang mencoba melihatnya melalui kacamata seorang Muslim menjadi sedikit tergelitik. Apakah Liang2 sunyi tersebut nantinya memang benar2 akan ditempati oleh si empunya. Karena saya teringat dengan sebuah Firman Ilahi yang berbunyi, “ …Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.”[QS.Luqman : 34]. Dan ada sebuah kejadian nyata yang dikisahkan oleh Abdurrahman As Sanjari dalam bukunya (yang berjudul Atheisme vs Eksistensi Allah terbitan Iqra Insan Press) yang terpaut dengan ayat tersebut yang pernah terjadi di Lebanon. Bahwa pernah hidup seorang Milyader yang bernama Amel Al Bustani yang terkenal suka meremehkan dan menertawakan setiap permasalahan termasuk soal maut. Milyader yang di awal mula perjuangannya meraih kesuksesan sering berjalan berkil-kilo meter hanya untuk membelikan roti untuk ibunya tersebut, harta dan kesuksesannya banyak dikagumi orang. Suatu hari Amel Al Bustani membangun sebuah kuburan yang sangat mewah di negaranya yang hingga kini masih ada. Untuk membangun kuburannya yang memakan biaya ratusan ribu Poundsterling tersebut dia mengimpor Marmer terbaik dari Italia. Dia memang berniat menjadikannya sebagai peninggalan yang sangat berharga dikemudian hari. Dan tujuan dari pembangunan kuburan super mewah tersebut tidak lain merupakan salah satu upayanya yang nyata untuk memperolok-olok kematian.
Pada hari ulang tahunnya, ia mengundang teman-temannya untuk menghadiri pesta yang diadakan di kuburan tersebut yang diisi dengan acara mabuk-mabukan hingga pagi. Setelah acara usai, ia memohon kepada para hadirin untuk mengadakan pesta seperti ini tiap tahun setelah ia meninggal untuk mengenang dirinya. Bahkan ia berkata pada mereka sambil tertawa,”Aku akan selalu meminum minuman keras dan berpesta bersama kalian, bahkan setelah matiku nanti.” Beberapa hari kemudian dia bepergian dengan pesawat. Namun nahas, pesawat yang ditumpanginya tersebut mengalami kecelakaan di atas laut dekat negaranya. Pesawat itu terbakar dan puing2nya jatuh ke laut. Berita ini secara cepat tersebar melalui media massa, sedangkan Tim SAR yang saat itu bertugas terus berusaha berkali-kali mencari jenazah para korban. Tim SAR akhirnya berhasil menemukan seluruh jasad korban kecuali satu jasad yang masih hilang , jasad tersebut tidak lain adalah jasad Amel Al Bustani.
Tiap orang yang berkunjung ke Beirut Lebanon, dapat menjumpai dan menyaksikan kuburan super megah tersebut. Namun jangan harap akan dapat melihat jasad si empunya. Jasad Amel Al bustani yang tenggelam di Laut Tengah dalam kecelakaan pesawat tersebut kini mungkin ada di perut – perut ikan yang memakannya.
Kawan, betapa kematian memang merupakan hal Ghaib bagi kita dan hanya Dialah yang mengetahui kunci-kunci perbendaharaan semua hal yang ghaib di semesta ini. Marilah bertanya ke dalam diri di tengah kehidupan yang diliputi multi krisis seperti sekarang ini, sudah cukupkah bekal kita untuk berpulang pada-Nya. Dan kitalah yang dapat menilai mana yang lebih Urgen dan bijak antara memikirkan dan mengkhawatirkan bagaimana cara kita mati (Khusnul atau Su’ul Khotimah kah kematian kita nanti) atau berlomba – lomba membangun kuburan mewah yang belum tentu kita diami nantinya.
Sekali lagi seduhan ini tidak ada maksud untuk menyinggung maupun melecehkan adat dan kebudayaan Etnis tertentu.
Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena