Demi Rakyat, atas nama rakyat, berjuang untuk rakyat,dan semua jargon yang mengandung kata rakyat akhir-akhir ini marak didengungkan kembali oleh mereka para calon pemimpin bangsa dalam berbagai kampanye di manapun mereka berkoar. Rakyat, ya, sebuah kata yang seakan terbenam dan dilupakan oleh para wakil rakyat kita ketika sedang asyik masyuk berkuasa dan menjadi ‘kata ampuh’ yang mereka gunakan kembali ketika masa kampanye tiba dengan tujuan menarik simpati publik agar memilih dirinya.
Bagaimana tidak, ketika mereka menduduki kursi kepemimpinan, berapa banyak kebijakan mereka yang menyengsarakan rakyat kecil seperti kenaikan harga sembako, BBM, sekolah mahal, kesehatan mahal, nyari kerja sulitnya bukan main dll, namun justru yang keluar dari mulut mereka adalah semua kebijakan tersebut demi RAKYAT. Dan ketika banyak mereka yang berdemo (karena aspirasi mereka tidak pernah terwakilkan) menentang kebijakan2 mereka tersebut (Para Penguasa) seakan tuli dan dengan angkuhnya menggunakan aparat sebagai tameng sekaligus pasukan bulldozer untuk membubarkan para penuntut aspirasi rakyat yang sebenarnya tersebut. Munafik bukan?
Dan memang mungkin ada benarnya juga jika ada yang diuntungkan dengan kebijakan2 tersebut. Namun, cuma segelintir bagian dari rakyat saja yang merasakannya. Ya seperti sanak famili dan kerabat para pembuat kebijakan tersebut sendiri, kaum2 berduit yang mampu menggerakkan lidah dan memutar otak penguasa2 yang gila duit untuk menge-Goal-kan Undang-undang yang tidak merugikan mereka seperti UU Migas, UU Ketenagakerjaan macam system OutSourching yang merugikan kaum buruh namun menguntungkan pemilik perusahaan, UU Pendidikan yang bikin stress pelajar macam ujian nasional dan banyak UU lagi yang kata Slank ujung2 nya duit.
Ada satu pengalaman unik ketika aku kerja di sebuah pabrik sepatu dulu, saat itu aku dan ketua Reguku (semacam Mandor) terlibat sebuah dialog santai saat tengah rehat kerja. Ya dialog mengenai masalah keseharian khas topik kaum buruh seperti kami. Beliau bilang, “Tau ga’ kenapa mereka (para penguasa) selalu pake slogan pro rakyat, demi rakyat dan serba rakyat lainnya?” aku jawab, “kenapa?”. ” karena dalam bahasa Jawa rakyat itu artinya pasangan hidup atau istri gitulah. Makanya jangan heran jika mereka selalu bilang kebijakan2 negara dan UU di negeri ini demi rakyat, memang benar demi rakyat, yaitu demi rakyat (Istri) mereka sendiri.” Kamipun tertawa lepas dalam obrolon khas kaum Margin tersebut.
Orang Jawa memang biasanya menggunakan kata Rakyat (Baca :Rayat) dalam menyebut istri mereka. Bukankah rakyat atau istri adalah pihak yang wajib diberi nafkah dan hak2 lainnya. Jadi jika para penguasa itu sering menggemborkan slogan demi rakyat, pro rakyat dsb dan dikemudian hari mereka berhasil duduk di kursi dewan lalu membuat kebijakan yang menyengsarakan RAKYAT dan malah memakmurkan keluarga dan golongan (partai) mereka sendiri, jangan kaget karena berarti kita yang terlalu Ge’er dengan bualan mereka, karena yang mereka maksud rakyat itu bukan kita tapi rakyat (rayat/istri) mereka sendiri2. Bandingkan aja istri dan anak2 mereka dengan anak-istri anda, woih bagai langit dan bumi nasibnya.
Sudahlah, para abang becak, ojek, tukang sayur, buruh dan kaum pinggiran lainnya, jangan mudah percaya dan fanatic membela mereka. Jangan hanya karena melihat mereka datang ke pasar2 untuk menyapa dan menanyakan kondisi dagangan anda atau bahkan membeli dagangan anda dengan harga yang banyak lantas anda jadi kagum dan sreg pada mereka. Pikirkan matang2 dulu, suara anda tidak sebanding dengan duit 100 ribuan yang mereka keluarkan untuk membeli cabai, pisang, dan buah pare (yang meskipun uang tersebut terlampau banyak dibanding harga sayur2an tersebut) jika dibanding nasib kita, ya minimal 5 tahun ke depan. Jangan terlalu berharap pada penguasa, berharap aja padaNya. Bukankah dengan mengingatNya hati menjadi tenteram? Untuk para penguasa busuk, ingat bung, jeng, Akhirat itu nyata lho, tapi kalo ga’ percaya ya terserah anda…