Sudah menjadi rute tetapku jika hendak sholat Maghrib berjamaah di Surau, aku selalu melewati kebunan (pekarangan) belakang rumah tetanggaku yang masih khas pedesaan. Pekarangan yang diramaikan oleh rerimbunan pohon pisang, semak belukar, tanaman liar dan berbagai ‘keberserakan’ laiknya pekarangan pada umumnya.
Namun ada yang sedikit berbeda ketika aku lewat di tempat ini ketika hari hujan tlah tiba. Kalau biasanya aku berjalan sembari mengamati indahnya pendar-pendar cahaya akhir surya yang ditelan senja, namun saat hujan suasananya lebih indah dan syahdu lagi, karena sepanjang aku berjalan para katak dengan riangnya kulihat menyambut ‘Hari Raya’ mereka ini dengan begitu antusiasnya melompat kesana kemari. Nampaknya terbayar sudah kerinduan mereka selama ini yang dengan sabar menantikan “Salam Balik’ dari langit. Mereka merayakannya dengan bersenandung memuji-Nya dan melompat kesana ke segala penjuru pekarangan dalam jumlah yang di hari-hari biasa aku dapati tidak sebanyak ini.
Oh, betapa indah dan syahdunya ‘Teater Alam’ ini. Karena ternyata melalui tingkah polah para katak tersebut tersirat untaian Tamsil kehidupan yang dalam makna. Yaitu kesetiaan (kesabaran) dan kerinduan Sang Pecinta (yang dalam hal ini dicontohkan oleh Katak) kepada sang Kekasih selama apapun pasti suatu saat akan terbalas dengan ‘Bingkisan ‘ yang lebih indah dari Sang Kekasih yang dirindui (Dalam Teater alam ini diperankan oleh Langit sebagai Metafor bersemayamnya kekuasaan Ilahi).
Sebenarnya Tamsil kehidupan di balik ‘hari raya’ hujan ini begitu luas. Dan salah satunya dapat pula digunakan sebagai gambaran Sang Pendoa yang bersabar dengan sangat untuk menanti jawaban dari Tuhan-Nya, karena Doa memiliki 3 sifat yaitu langsung dikabulkan saat itu juga; diganti dengan balasanyang berbeda dari Sang Kuasa; atau ditunda untuk beberapa waktu dan dikabulkan dalam jangka waktu tertentu. Untuk sifat doa yang terakhir ini tentunya Tuhan punya alasan tersendiri diantaranya untuk mengetahui (meski Dia Maha Mengetahui keadaan hambaNya) seberapa sungguh Si Pendoa memohon padaNya. Karena ketika doanya terkabul setelah sekian lama menanti , tentunya indah dan bahagianya bukan kepalang, selayak katak dan para perindu hujan di muka bumi ini yang begitu girangnya ketika air langit itu turun setelah sekian purnama menantikannya dalam gerahnya kemarau. Inilah inti dari Tamsil kehidupan di balik fenomena hujan tersebut, yaitu Tuhan mengajari kita lewat Balada Katak dan Sang hujan tentang menghargai proses keber-sabar-an dan ke-istiqomah-an dalam doa dan ikhtiar kita menjemput jawaban doa tersebut agar nantinya kita dapat lebih lebih dan lebih bersyukur ketika doa kita telah terkabul. Seperti Katak yang sangat mensyukuri jawaban Langit dalam rupa Hujan tersebut.
Kawan, di balik hujan pun masih ada Pelangi, bukan? Jadi mari mulai menyibak pelangi makna yang lebih indah lagi di balik semua Teater Ilahi yang di tayangkanNya di segenap penjuru alam ini. Toh Dia sendiri yang menyuruh kita memikirkan Tanda – tanda kekuasaanNya di semesta jagad ini. Wallahu A’lam.