Awalnya aku agak malu dan risih memakai sepatu kelas dunia hasil pemberian kakakku tersebut. Kakakku memberikannya padaku sebenarnya bukan tanpa sebab, aku tahu dia sedang butuh uang untuk keperluan sekolah anaknya yang notabene keponakanku juga. Dan yang aku salut adalah caranya mendapatkan uang itu, dia sampai rela ‘memberikan’ sepatu Dolce & Gabbana itu kepadaku, ya, dengan segala kebaikannya selama ini padaku yang rasanya aku belum mampu membalas atau paling tidak mengimbangi dalam hal kebaikannya padaku. Aku tahu sepatu ini harganya sangat mahal dan merupakan sepatu yang di pasarkan di benua biru (Eropa) khususnya Italia. Aku mengerti karena selain memang terpampang warna bendera Itali di badan sepatu tersebut dalam bentuk jahitan warna, toh aku juga pernah punya pengalaman kerja di pabrik sepatu ekspor di kota kecilku yang salah satu produknya adalah sepatu merek Italia D&G alias Dolce and Gabbana tersebut.
Lantas darimana kakakku bisa mendapatkan sepatu yang harganya sedikit mustahil terjangkau oleh kalangan bawah seperti keluarga kami itu, jangan Su’udzon dulu kawan, ternyata dia mendapatkannya di toko sepatunya seorang Pengusaha Sepatu yang domisilinya masih satu kelurahan denganku. Pengusaha sepatu tersebut memang masih memiliki beberapa stok sepatu di gudangnya dengan varian dan merek yang berbeda. Karena dia dulu memang adalah salah seorang petinggi pabrik sepatu di Kota mungilku yang sangat berjaya di masa itu yang walau akhirnya kini bangkrut.
Sepatu D&G itu dibawa pulang kakakku dengan harga sangat sangat miring. Dan salah satu alasannya mengapa harganya sampai semurah itu didapat kakakku, karena selain dia kenal baik dengan bos (pengusaha sepatu) tadi, sepatu tersebut juga memang masuk dalam kategori tidak layak kirim. Kalau dalam istilah semasa aku kerja di Pabrik sepatu dulu sih, tidak lolos Inspect oleh tim QC (Quality Control) dan petugas Inspectnya. Karena di badan sepatunya juga ada bekas jahitan yang melintang dari atas ke bawah.
Nah, awal ‘tragedinya’ adalah ketika dengan segala keterpaksaan aku pakai sepatu itu kerja, kawan2 melihatnya dengan sedikit meledek. Karena warna sepatuku yang putih plus bawahnya (sambungan Sol alas) juga putih mengkilap khas warna perak, tak ayal kawan2ku meledek sepatuku lucu, seperti sepatunya Mayonet, seperti kemayu, ada yang bacanya sepatu Dolce Gamalama bahkan ada yang bilang kayak Astronot. Wah,, gila mereka ini, dasar ga’ ngerti kali yah, kalau sepatu yang kini kupijak ini adalah sepatu muahal (meski aku dapatnya murah). Dan Cuma satu orang kawanku yang ngerti dan yang paling awal tahu aku pake sepatu ini yang terperangah dan kagum. Wah emang dasarnya dia sedikit banyak ngerti sih tentang merek sepatu yang aku pake ini (Ga’ narsis lho ya).
Dengan sedikit merenung akan pengalaman ga’ pentingku ini, aku mulai tersadar ketika di salah satu majalah kesayanganku aku menemukan sebuah kata bijak yang bunyinya, “Jangan berusaha menjadikan pakainmu sebagai sesuatu yang paling mahal pada dirimu, agar suatu hari engkau tidak mendapati dirimu lebih murah daripada apa yang kamu pakai”.Selain karena sepatu ini aku malah risih jadi pusat perhatian dadakan kawan2 kerja, sepatu ini juga sedikit membuat tumit lecet, katanya sih biasa sepatu yang baru dipakai emang gitu, tapi apa ga’ ada tips agar sepatu kita ga’ bikin kaki lecet?
Yah, inilah mungkin salah satu dampak dari ‘tragedi’ Dolce and Gabbanaku tadi
Sebuah perenungan buatku bahwa ternyata sesuatu yang ‘rendah’ seperti sepatu dapat membuat kita kelihatan sedikit lebih terhormat atau malah sebaliknya menjadikan kita sedikit dipandang rendah (kan kelihatan kalo sepatunya jelek tandanya ga’ bisa beli sepatu) di mata manusia, dasar manusia, masih ada aja yang melihat seseorang dari apa yang ia kenakan daripada apa yang ia hsilkan.