17 Agustus, sebuah hari bersejarah bangsaku yang tercinta, di hari itu seluruh anak bangsa dimanapun berada tengah berbahagia merayakan hari jadi berdirinya republik ini. Kegiatan-kegiatan teatrikal bertema zaman perjuangan dahulu, renungan malam mentafakuri arti kemerdekaan, pengajian-pengajian akbar, hingga lomba-lomba semarak diadakan untuk menyambut HUT RI yang pada tahun ini mencapai usia 64 tahun. Namun jauh dalam hati ini (sebagai bagian dari anak bangsa ini) terbesit sebuah tanya, apakah kita memang benar-benar telah merdeka dalam arti yang sebenarnya ? dan apakah generasi saat ini (termasuk aku) paham akan arti perjuangan para moyang penyusun pondasi kemerdekaan republik ini? Karena secara jujur banyak diantara kita yang hanya memaknai bulan Agustus sebagai hari upacara, baris-berbaris, karnaval dan berbagai lomba.
Masih teringatku akan sebuah tulisan dari salah seorang budayawan kawakan negeri ini dalam sebuah Esai yang dimuat oleh surat kabar terkemuka, beliau menuliskan pandangannya dengan kaca mata seorang bijak tentang makna-makna yang tersirat di balik acara lomba-lomba yang lumrah diadakan untuk menyambut Hari Kemerdekaan. Salah satunya adalah ketika melihat lomba balap karung, tersadar atau tidak, bahwa itu adalah salah satu gambaran keadaan ekonomi mbah-mbah kita dulu yang pakaian-pakaiannya jauh dari layak. Karung goni yang digunakan dalam lomba balap karung, tentunya menyimpan memori masa lalu tersendiri bagi para buyut-buyut kita tentang betapa sulitnya keadaan ekonomi mereka masa itu, karena menurut tuturan orang-orang tua ternyata tidak sedikit dari mereka pada masa yang sulit dulu menggunakan goni sebagai alternativ bahan pakaian mereka. Karena meski proklamasi telah dikumandangkan, namun bukan berarti perjuangan mereka telah selesai, karena ternyata upaya mempertahankan kemerdekaan itu tidak kalah sulitnya dengan merebutnya. Masih kita ingat dalam buku-buku sejarah bagaimana tidak relanya para penjajah melepas bangsa ini dari genggaman mereka, seperti kasus agresi militer I dan II oleh Belanda yang sebelumya kembali ke Indonesia dengan membonceng kepada NICA, lalu ada pula peristiwa 10 November di Surabaya yang melibatkan Inggris, Bandung Lautan Api, Peristiwa Ambarawa, Serangan Umum 11 Maret di Jogja dan banyak lagi pertempuran yang dihadapi negeri ini yang saat itu baru seumuran jagung. Belum lagi kekacauan politik pasca kemerdekaan yang tentunya membuat rakyat sangat menderita saat itu, terutama dalam bidang ekonomi.
Dan yang lebih mengejutkan adalah sebuah fakta yang dipaparkan oleh Ketua Pusat Studi Kebijakan Ekonomi UGM (Universitas Gajah Mada), Bapak Revrisond Baswir yang mengatakan bahwa setelah merdeka ternyata Republik Indonesia mewarisi utang sekitar Rp 44 Triliun yang baru lunas dicicil pada tahun 2003 lalu. Utang tersebut diwariskan berdasarkan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Berdasarkan risalah Konferensi tersebut, utang itu harus dibayar kepada Nederland Bank dan Javanese Bank senilai 44,6 Juta Gulden, lalu kepada Nederland Exim Bank sebesar USD 15 Juta, dan kepada para Kreditor lain seperti Pemerintahan Amerika Serikat, Australia, dan Kanada*. Soni (Panggilan akrab pak Revrisond) mengaku mendapat salinan transkrip dan mendengar rekaman persidangan di Konferensi Meja Bundar tersebut. Dan hal lain yang terungkap dalam persidangan itu adalah pernyataan sepakatnya delegasi Indonesia mematuhi aturan Organisasi Moneter Internasional (IMF), padahal waktu itu Indonesia belum menjadi anggota PBB. Menurut dosen senior UGM tersebut, pada tahun 1973 utang warisan kolonial itu direstrukturisasi 35 tahun dan baru lunas pada tahun 2003. “Jadi sebenarnya kita baru merdeka dari kolonialisme Belanda pada 2003,” ujar Pak Revrisond.
Edan tenan, ternyata selain menghisap kekayaan negeri kita selama kurang lebih 350 tahun, Belanda ternyata masih juga mentholo (dalam Bahasa Jawa yang artinya tega) menyiksa bangsa ini melalui warisan hutang yang sedemikian besarnya. Dengan kata lain, ternyata bangsa ini telah berhutang sejak dalam kandungan. Dan yang lebih unik adalah dimana-mana yang ceritanya orang meninggalkan suatu tempat ya dengan meninggalkan kesan yang baik, wong orang mati saja meninggalkan warisan pada yang ditinggalkan, tapi kasus yang satu ini memang lain. Sudah ‘numpang’ dan ‘merampok’ di negeri kita selama 3,5 abad masih saja ninggalin utang. Dan dimana-mana yang ceritanya orang bertamu ke rumah orang biasanya kan membawa oleh-oleh yang bisa membuat bahagia si tuan rumah, namun mereka (mantan penjajah itu) berkunjung ke ‘rumah’ kita (Indonesia) membawa oleh-oleh berupa iming-iming bantuan berupa hibah dan dalam bentuk hutang luar negeri. Bayangkan, Cicilan yang harus dibayar tahun 2009 sebesar US$22 milyar, artinya tahun 2009 Negera kita harus mengeluarkan Rp 250 triliun. Terdiri dari, utang pemerintah US$ 9 miliar dan utang luar negeri (LN) swasta US$ 13 miliar. Di antara utang pemerintah itu, uang LN yang jatuh tempo pada 2009 senilai Rp 59 triliun. Sedangkan cadangan devisa kita hanya $50miliar. (Kompas, Senin 24 November 2008)
Cicilan tahun 2009 tersebut kalau kita komparasikan dengan jumlah penduduk Indonesia (± 230juta jiwa) maka total cicilan yang harus dibayar tahun 2009 adalah Rp. 1,086,000/jiwa penduduk. Bandingkan dengan UMR DKI Jakarta tahun adalah RP. 1,069,865. Akan tetapi kalau kita mau melunasi utang kita tiap penduduk kita harus membayar 106juta/jiwa penduduk.
Dengan total utang 2,335 milyar Dollar Perlu kita ketahui dengan tingkat bunga sekitar 5%, jumlah bunga yang harus kita bayarkan berkisar 116,7 milyar Dollar.!!! Seandainya kita mengasumsikan tiap hari seorang penduduk Indonesia untuk makan tiap hari mengeluarkan biaya Rp 15 ribu rupiah sekali makan dan 3 kali makan dalam sehari (Rp. 45,000). Maka untuk bunganya saja dari utang kita dalam setahun sangat mencukupi untuk makan penduduk Indonesia sebanyak 71, juta jiwa selama setahun!!!!
Dan yang lebih aneh lagi, bangsa ini seakan tidak bisa mengatakan “tidak” untuk hutang tersebut. Apakah bangsa ini tidak bisa belajar dari masa lalu atau mungkin bangsa ini sedang mengidap Amnesia sejarah ? padahal sesuai Sabda Rasulullah, “Hutang hanya akan membuat anda terhina di pagi hari dan gundah di malam hari.” (Al Hadist).
Bukan rahasia bahwa bangsa ini masih tidak bisa lepas dari ketergantungannya pada negara asing. Lihat saja tambang-tambang starategis milik bangsa Indonesia yang ternyata masih banyak yang dikuasai pihak asing selama berpuluh-puluh tahun hingga saat ini, dan bahkan mungkin untuk masa datang karena banyak dari kontrak antara pihak asing itu dan pemerintah republik ini untuk mengolah sumber-sumber kekayaan Indonesia yang diperpanjang hingga masa beberapa puluh tahun mendatang. Dalam sebuah siaran radio pernah aku mendengar dialog seorang Indonesia dan seorang warga negeri jiran yang mana sang warga negeri seberang tersebut bertanya pada si Indonesia, “Tahukah anda kenapa bangsa asing banyak yang dengan senang hati membantu bangsa anda dalam bentuk hibah, utang luar negeri dsb ,” sebelum si Indonesia menjawab , si penanya tadi kemudian menjawabnya sendiri, “Karena mereka ingin agar bangsa anda makin bergantung pada mereka dan tidak menginginkan bangsa anda mandiri. Karena Jika Bangsa Indonesa menjadi mandiri maka Bangsa anda akan menjadi sebuah bangsa yang besar dan berpengaruh di dunia ini.”
Ternyata bangsa ini adalah sebuah “raksasa” yang ditidurkan dan perlahan dijadikan sebuah “Kurcaci”. Nah mumpung masih dalam suasana hari-hari bersejarah dalam almanak sejarah bangsa Indonesia ini, mari bertanya pada diri masing-masing sebagai seorang Indonesian (orang Indonesia), sudah benar-benar merdekakah Indonesia kita? Dan sudah seberapa besarkah sumbangsih kita untuk membangunkan bangsa “Raksasa” yang di-”Kurcaci”-kan ini ?

Bahan Racikan :
* Jawa Pos, 24 Februari 2008