Miss Universe

Miss Universe

Wanita muda nan cantik itu melenggak-lenggokkan tubuh di atas podium yang tayangannya dapat diakses oleh jutaan tatap pasang mata di seantero jagat ini melalui berbagai media modern. Dengan Tubuh semampai yang aduhai dengan percaya diri si wanita memamerkan kemolekan tubuhnya di hadapan juri-juri tersohor yang diklaim berkompeten di bidang-bidang yang konon ada hubungannya dengan kecantikan dan seluk beluk kesempurnaan wanita yang nantinya akan terpilih sebagai ‘ratu sejagat’. Dengan dalih Brain, Beauty, dan Behaviour ajang yang fungsi sebenarnya masih dipertanyakan ini (konon agar menginspirasi para wanita di seluruh dunia agar dapat berprestasi seperti para kontestan) setiap tahun rutin diadakan di tempat-tempat berbeda. Dan salah satu sesi dalam kontes ini yang banyak ditunggu oleh ‘mata-mata lapar’ adalah sesi pemakaian pakaian renang, dengan dalih untuk menilai kesehatan dan kesempurnaan seorang wanita “sempurna” bakal ratu sejagat. Dan dalam sesi ini para kontestan biasanya memakai Swimsuit model One Piece atau Two Pieces. Dan salah satu wanita dalam kontes itu adalah seorang putri bangsa Indonesia yang merupakan negeri Muslim terbesar di planet ini dan yang konon masih menjunjung norma-norma ketimuran.

Dalam beberapa pernyataannya ketika berbincang melalui internet dengan salah seorang dari Yayasan Puteri Indonesia, sang putri ­­—- yang pose foto “setengah” telanjangnya (atau mungkin telanjang secara keseluruhan dalam kacamata Islam yang menganggap seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan sebagai aurat) plus tayangan videonya yang di relay beberapa stasiun TV tanah air ketika sedang berlenggak-lenggok dengan memakai bikini dalam sesi pemakaian Swimsuit yang membuat hati para lelaki “normal”,termasuk penulis, hehehe…dan juga para orang tua baik ibu-ibu maupun bapak-bapaknya di kawasan kabupaten Pasuruan yang konon masih teguh memegang norma agama ini dag dig ser (baik dag dig ser karena (maaf) kenormalannya sebagai lelaki, maupun bagi kaum hawa yang dag dig ser karena malu, ketika menyaksikan prototype tubuhnya yang selama ini dijaga ketertutupannya kecuali pada yang berhak, di’obral’ sedemikian rupa di hadapan jutaan pasang mata) —- mengaku lega dan makin optimis menyongsong keberlanjutan kontes ini karena keputusannya memakai bikini tidak menimbulkan kehebohan yang luar biasa seperti yang menimpa para wakil Indonesia di tahun-tahun yang lalu. Apalagi ketika mendengar pernyataan sang Menteri Pemberdayaan Perempuan yang tidak terlalu mempermasalahkan kepemakaian bikini dan menganggapnya sebagai bagian kecil dari kontes ini. Memang hingga tulisan ini ditulis (22/8) ZLS yang merupakan Mahasiswi Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia angkatan 2007 itu masih menduduki peringkat teratas dalam polling online dengan raihan poin 2,78 di atas posisi wakil dari Brazil (2,76) dan Thailand (2,69). Dia tentunya juga makin merasa di atas angin karena ukiran sejarah baru yang sudah di depan mata nampaknya akan terwujud, yaitu sebagai wanita Indonesia pertama yang berhak menyandang sebagai Ratu Sejagat. Apalagi ditambah dukungan penuh dan secara langsung dari kedua orang tuanya yang dikabarkan sudah terbang ke Atlantis, Paradise Island , Nassau , Bahama tempat dimana perhelatan final akan digelar .

***

Kontes Ratu Sejagat pada mulanya merupakan sebuah kontes kecantikan yang bertujuan untuk mempromosikan produk pakaian renang Catalina nya Pacific Mills pada tahun 1952 (Wikipedia Indonesia) yang merupakan tahun yang sama dengan awal penyelenggaraan Miss USA, dan pada tahun 1996 hak kepemilikan kontes ini dibeli oleh taipan bisnis asal AS, Donald Trump yang salah satu acara terkenalnya (The Apperentice) pernah ditayangkan di salah satu TV tanah air. Baru pada tahun 1970 an ketika pembangunan Satelit rampung, kontes Ratu Sejagat yang awalnya hanya diadakan di negeri Paman Sam ( Kontes Miss Universe adalah satu produk dengan Miss USA dan Miss Teen USA di bawah payung The Miss Universe Organization) merambah keluar Amerika Serikat. Dan pada tahun 1972 untuk pertama kalinya tayangan kontes Ratu Sejagat ini disiarkan Via Satelit dari luar Amerika Serikat, tepatnya di Dorado, Puerto Rico dan hingga kini penyelenggaraanya rutin diadakan tiap tahun di negara yang berbeda.

Nah bila melihat jejak rekam sejarahnya kita sudah dapat menebak mengapa sesi pemakaian pakaian dalam yang mereka kamuflasekan dengan dalih untuk menilai kesempurnaan, kebersihan, dan kesehatan fisik seorang bakal Ratu Sejagat yang dianggap paling Kontroversial bagi sebagian kita di Indonesia wa bil Khusus di Pasuruan tetap diadakan. Ya karena memang pada awal lahirnya kontes ini ditujukan untuk mempromosikan dodolan mereka yang berupa pakaian dalam (pakaian renang). Jujur, wong saya sendiri meskipun seorang Pria, ketika membeli (maaf) pakaian dalam saja selalu nitip karena malunya luar biasa, padahal yang jual juga kaum Adam. Dan saya juga teringat dengan salah satu adegan dari salah satu film Mandarin yang pernah saya tonton. Waktu itu sang aktor utama karena suatu hal harus membeli (maaf) pakaian dalam

berupa CD, nah karena dia seorang pemalu (kayak saya, hehe..) dia akhirnya memakai siasat ala perampok. Dengan penutup muka dan sebuah pistol yang entah asli apa palsu, dia masuk ke toko tersebut dan menodongkan pistolnya ke arah kasir yang kebetulan seorang perempuan. Dia dengan sedikit membentak meminta si kasir memilihkan beberapa buah (maaf) pakaian dalam yang kira-kira sesuai dengan ukurannya. Lalu setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, si tokoh utama tersebut melemparkan uang sesuai harga pakaian dalam tersebut dan nyelonong pergi dengan wajah malu di balik balutan topeng yang dikenakannya.

Lantas bandingkan dengan apa yang dilakukan oleh para perempuan yang berlaga di arena kontes tersebut yang kayaknya tidak ada malu-malunya mengenakan setelan pembungkus aurat terakhir (kayak Bikini tersebut) dan di hadapan jutaan pasang mata pula, plus tanpa topeng layaknya sang aktor Mandarin di atas. Sebagian orang mencerca orang-orang kayak saya yang dinilai berpikiran sempit dan kolot alias tidak modern. Dan menganggap ajang tersebut tidak terlalu penting untukdiperdebatkan karena masih banyak hal lain yang lebih penting yang perlu dibahas di negeri ini.

Tapi bagi saya yang juga sebagai seorang anak bangsa, semua ini menjadi penting karena mereka selalu menggembar-gemborkan tetap menjunjung budaya ketimuran. Nah, apakah sampeyan-sampeyan yakin jika para contoh wanita asli Indonesia yang benar-benar menjunjung adat ketimuran sudi memakai pakaian kayak para wanita-wanita “modern” tersebut. Jangankan R.A. Kartini, emak saya saja (dan kebanyakan emak-emak sampeyan juga) ketika melihat tayangan pemakaian bikini tersebut di TV ngucap Masya Allah, “opo-opoan iki ?”

Apalagi di bulan yang suci ini, ketika bangsa yang mayoritas Muslim ini mencoba menggali kembali khazanah keislaman dan mempelajari lelaku para teladan agama seperti pada zaman Rasulullah dulu yang salah satu teladannya adalah memiliki rasa malu. Karena Iman yang memiliki 70 an cabang itu ternyata salah satunya adalah malu, demikian Kanjeng Nabi Dawuh dalam Hadisnya. Dan sekian contoh sifat malu yang luar biasa telah diukir oleh sang Ummul Mukminin, Aisyah RA. yang pernah bertutur, ”Setelah Rasulullah dan ayahku (Abu Bakar RA.) dikuburkan, aku masuk ke dalam rumah tempat keduanya di kubur dengan melepaskan kain Hijabku (penutup wajah). Kukatakan bahwasannya ini adalah suamiku dan ayahku. Namun, ketika Umar Bin Khattab dikuburkan di sana , aku tidak pernah masuk ke tempat tersebut kecuali dengan memakai pakaian lengkap (dengan Hijab), karena malu kepada Umar.”

Subhanallah, betapa agungnya wanita yang seperti ini, jangankan kepada yang hidup, kepada yang sudah berada di perut bumi pun beliau masih merasa malu jika melepas Hijab apalagi menampakkan aurat.

Dan tentunya kita ingat kisah seorang wanita hitam budak yang punya penyakit ayan (Epilepsi) yang oleh Kanjeng nabi disebut sebagai seorang wanita ahli surga. Yaitu ketika si wanita itu datang kepada Nabi untuk mengadukan penyakitnya yang ketika kambuh selalu membuat sebagian auratnya terlihat ketika dia tak sadarkan diri, sehingga dia memohon agar didoakan supaya sembuh. Namun jawaban nabi diluar dugaan, beliau memberikan pilihan kepada wanita itu apakah minta sakitnya didoakan sembuh atau memilih bersabar dan kelak mendapat surga, wanita itu memilih opsi kedua untuk bersabar dengan penyakitnya namun dengan syarat agar Rasulullah mendoakannya agar auratnya tidak lagi terlihat ketika dia tak sadarkan diri saat kumat.

Nah menjadi sebuah paradoks abad modern ketika wanita yang mengaku beriman namun dengan sadar diri (tidak dalam keadaan tak sadar diri seperti wanita yang berpenyakit ayan tersebut) tidak malu ketika auratnya disajikan kepada mata-mata lapar dan mata yang sebenarnya tidak begitu lapar namun karena ada sajian aurat tersebut jadi pingin “ngemil” juga, hehe.. (semacam papin nya mata gitu lah). Padahal “Malu dan Iman itu dua sejoli, jika salah satunya dicabut, maka yang satunya pun akan tercerabut.” (HR. Al Hakim)

Dan sebuah kesimpulan dari saya pribadi, bahwa wanita bangsa Indonesia sejati yang sebenarnya adalah tidak seperti yang dicontohkan wakil kita dalam ajang ratu-ratuan itu. Namun bukan sebuah kebohongan juga jika selempang yang bertuliskan Indonesia yang bertengger di bahu salah seorang puteri bangsa Indonesia di ajang itu juga mewakili ‘sebagian’ gambaran wanita Indonesia “masa kini” (yang mungkin istilahnya Totum Pro Parte). Yang jelas melalui kontes-kontes semacam ini memperlihatkan gejala mulai lepasnya sifat asli wanita Indonesia (Miss[ing] Indonesia) yang menjunjung budaya Timur yang santun, anggun, dan pemalu dalam sebuah ajang kontes dunia di jaman edan yang mulai keluar dari jalur-jalur ke-universal-an (Miss[ing] Universe) yang menentang eksploitasi wanita dan perbudakan dalam bentuk apapun, terutama perbudakan Fashion, dan Pseudo-beauty.

Note : Pernah di kirim ke Radar Bromo, tapi kayaknya ga’ dimuat, hehehe