“Jika ada orang asing memakai SORBAN dan JUBAH dan berJENGGOT, laporkan saja ke pihak keamanan. Masyarakat harus lebih peka terhadap hal-hal seperti itu.” Demikian pernyataan Mayjend Haryadhi Soetanto M, sang Pangdam IV Diponegoro seusai mengikuti peringatan detik-detik Proklamasi di Lapangan Pancasila Simpanglima Semarang (17/8) ketika mengomentari kasus diciduknya 18 warga negara Filipina oleh Polda Jateng yang kebetulan mereka adalah anggota Jamaah Tabligh yang sudah dimafhumi selalu berkelana dari satu negeri ke negeri lain untuk menyampaikan dakwah Islam, apalagi di saat suasana bulan Ramadhan seperti saat ini. Bila kita tarik benang merah, sebenarnya Ini adalah salah satu keberhasilan para musuh Islam dalam sebuah mega proyek yang sistematis untuk mulai menciptakan suasana keterasingan bagi Umat Islam yang mencoba berpegang kepada agamanya secara Kaffah terutama yang mencoba berIttiba’ pada Nabi melalui sunnah beliau seperti Memelihara jenggot, memakai celana agak cingkrang (agar tidak Isbal) dan bagi wanitanya yang bercadar, kini mulai dikondisikan sebagai ciri-ciri teroris seperti yang diberitakan di media-media tanah air belakangan ini. Hal ini sesuai Sabda Nabi yang mengatakan bahwa, “Islam datang dalam keadaan asing dan ia akan kembali asing sebagaimana awal mulanya” (HR. Muslim).
Aneh bin ajaib, di negeri yang konon Umat Islam bertengger di puncak dalam hal kuantitas (meski kualitasnya masih dipertanyakan), justru ajaran Islam yang mulia ini masih dipilah-pilah sesuai kepentingan para elit negeri, termasuk mereka yang mengaku dan diposisikan oleh media-media kita sebagai cendikiawan, intelek, pembaharu dan gelar-gelar keren lain yang di belakangnya diembel-embeli kata Islam yang anehnya pemikiran dan pernyataan-pernyataan mereka tidak sedikit yang nyeleneh bahkan cenderung menuju ke arah yang menyimpang (untuk tidak menyebut sesat).
Dan salah satu paradoks-Ironi yang jelas di negeri ini adalah dengan mudahnya para ‘penguasa’ (negara, media, dan para elit pengatur kebijakan negeri ini) melabeli kelompok yang oleh karena kelakuan jahat segelintir orang di dalamnya, menjadi sekumpulan orang jahat pula (dalam hal ini Islam). Jangan hanya karena mereka yang diklaim sebagai para teroris itu berciri-cirikan berjenggot, berjubah, bercelana cingkrang, membuat kita menjadi paranoid melihat orang-orang yang demikian, karena hal ini bukan sebuah sifat orang yang terpelajar. Seperti kejadian yang beberapa hari belakangan ini hangat dikabarkan, ketika seseorang yang mengontrak di rumah yang kebetulan berada di belakang sebuah Depo pengisian BBM yang pernah terbakar (dan konon beberapa kali menjadi target ancaman peledakan) yang kebetulan orangnya agak jarang bergaul dengan tetangga di sekitarnya, diusir warga dan dilaporkan ke aparat karena di teras kontrakannya banyak dijumpai kabel berserakan. Namun telisik punya telisik, ternyata si orang yang disangka teroris itu berprofesi sebagai tukang reparasi AC, ya jelas banyak kabel toh di rumahnya, mana mungkin seorang tukang benerin AC tidak berhubungan dengan kabel, ah nonsense toh. Kejadian yang menggmbarkan betapa tingkat paranoid di lingkungan masyarakat bangsa ini kini mulai menuju titik kulminasinya. Dan hal ini juga tidak terlepas dari pengaruh media-media massa di sekitar kita yang telah membentuk pola pikir dan opini satu arah yang jika tidak disikapi dengan bijak maka salah satu akibatnya adalah kejadian di atas.
Memang bukanlah sebuah kewaspadaan itu tidak baik, bahkan kewaspadaan itu sangat perlu, namun sebagai manusia yang berbudi bukankah kita dapat menggunakan kewaspadaan itu secara bijak bukan dengan serampangan seperti meng-Generalisasi suatu komunitas karena ulah sebagian ‘anggotanya’ seperti penyamarataan simbol-simbol Islam yang ada dasarnya dalam agama dengan simbol-simbol teroris.
Bukankah bila kita jujur, ketika melihat berita tentang para koruptor, pasti yang nampak adalah para mereka yang berdasi, duduk dalam lingkaran kekuasaan, biasanya berbadan tambun dan memakai jas yang parlente. Lalu apakah kita dapat menyimpulkan bahwa seluruh manusia yang ‘kebetulan’ berciri-ciri sama dengan para koruptor tersebut adalah juga sama seperti mereka ?. Silahkan kita jawab dari hati masing-masing dengan akal dan hati yang bijak. Karena adagium yang mengatakan Don’t Judge a Book by Its Cover (Jangan melihat seseorang hanya pada tampilan luarnya saja) ternyata benar-benar bijak adanya untuk menjawab sebuah fenomena paranoid massal akan simbol-simbol Islam di tengah masyarakat kita saat ini. Lantas jika hari ini Islam dianggap asing atau memang sengaja diasingkan, maka beruntunglah mereka yang asing tersebut.