Gempa Tasikmalaya

Gempa Tasikmalaya

Ibu Pertiwi kembali berduka. Pada pertengahan bulan suci Ramadhan ini, tepatnya pada Rabu (02/09) wilayah selatan Jawa diguncang gempa bumi yang lumayan dahsyat, yaitu pada angka 7,3 SR. Wilayah yang menderita kerusakan paling parah akibat bencana ini adalah Tasikmalaya dan beberapa Kabupaten di sekitarnya seperti Cianjur, Bandung, Garut dan Ciamis dan beberapa daerah di Jawa barat lainnya. Data terbaru yang dihimpun hingga Minggu lalu (06/09) mengenai jumlah korban tewas pada gempa Tasikmalaya adalah 74 orang, 34 orang hilang 82.593 orang mengungsi 54 ribu lebih rumah rusak berats, 118 ribu rumah rusak ringan, 2.200 lebih sekolah rusak berat 17 Pondok Pesantren rusak berat dan 1.700 lebih Masjid rusak berat (Jawa Pos, 08/09/09).

Menurut para pakar yang ahli di bidang Lindhu, gempa seperti ini terjadi akibat adanya pergeseran lempengan bumi di dasar tanah (bumi) tempat kita berpijak ini. Ya, mungkin dapat dimaklumi pula, karena mengingat umur bumi yang telah begitu renta. Yang oleh Kanjeng Nabi Muhammad pernah diibaratkan seperti nenek-nenek yang sudah tua renta. Dan hal itu beliau isyaratkan sekitar 14 abad yang lampau. Nah bisa dibayangkan seberapa makin renta dan rapuhnya bumi kita saat ini.

Menilik sifatnya yang khas, gempa bumi adalah salah satu bencana alam yang hingga kini tidak bisa diprediksi awal kedatangannya. Nah kedatangannya yang tanpa permisi inilah yang menjadikan korban yang berjatuhan maupun kerugian yang diakibatkannya lumayan membuat kita begidik. Betapa tidak, meskipun pada 1855 –selang seabad setelah peristiwa gempa dahsyat yang melanda Lisabon pada 01 November 1755- manusia telah berhasil membuat alat pencatat (perekam getaran) gempa pertama yang disebut Seismograf, namun tidak ada satupun alat tersebut yang mampu menyingkap titik asal getaran gempa. Karena untuk mengetahui dan menentukan tempat asal gempa (Episentrum) dibutuhkan minimal 3 Seismograf di 3 Observatorium Seismologi pada 3 kota yang bekerja bersama.Tiap Stasiun menentukan selang waktu antara kedatangan gelombang primer yang cepat dan gelombang sekunder yang lebih lambat. Dan jarak yang ditempuh gelombang itu ditaksir berdasarkan lamanya selang waktu tersebut. Kemudian pada sebuah peta dilukiskan 3 buah lingkaran dengan panjang jari-jari yang sama dengan jarak tersebut. Nah, pada titik pertemuan ketiga lingkaran inilah terdapat Episentrum dari gempa yang direkam tersebut. (Arthur Beiser dalam The Earth, Pustaka Alam LIFE, terbitan TIRA PUSTAKA JAKARTA).

Meskipun manusia dengan segala kecanggihan dan kemajuan akalnya masih belum mampu mendeteksi awal kedatangan gempa yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan tindakan Preventif guna mengevakuasi penduduk untuk meminimalkan jumlah korban, ternyata toh manusia masih bisa belajar pada tanda-tanda yang ditunjukkan oleh alam sebelum musibah gempa terjadi. Dengan catatan manusia mau menggunakan kepekaan dan ketajaman mata batin mereka yang nampaknya sudah terlalu tumpul karena di abad yang serba canggih ini kita sebagai manusia terlalu menuhankan logika dan nalar semata.

Sebuah gambaran betapa kita (manusia) tidak bisa belajar dari tingkah polah alam sekitar adalah ketika terjadi Gempa dahsyat yang melanda wilayah Sichuan di China pada 12 Mei 2008 yang berdasarkan laporan resmi pada 08 Juni pukul 12.00 CST menyatakan bahwa 69.136 orang disahkan meninggal dunia, termasuk 68.620 di wilayah Sichuan, sementara 374.061 orang yang lainnya berhasil terselamatkan dengan cedera , dan 17.686 orang hilang, serta mengakibatkan 4,8 juta orang kehilangan tempat tinggal mereka. Nah, sebelum musibah tersebut terjadi, ada sebuah fenomena aneh yang sayangnya diabaikan oleh manusia di sekitarnya. Tepat 2 hari sebelum terjadinya gempa di Sichuan tersebut, secara aneh kawanan ribuan katak melompat-lompat di jalanan, jembatan dan tembok-tembok kota . Namun penduduk sekitar mengabaikannya dan tidak berusaha mencari tahu makna di balik fenomena ganjil tersebut. Dan apa lacur, setelah kejadian maha dahsyat yang merenggut ribuan nyawa tersebut, diketahui bahwa ternyata posisi munculnya kawanan katak dalam jumlah besar tersebut tepat berada di daerah dekat gempa dan dan daerah –daerah yang jauh dari pusat gempa. Dan yang lebih hebat lagi ternyata para katak tersebut telah merasakan adanya getaran bumi yang menandakan akan datangnya gempa, dan hal itu mereka ekspresikan melalui fenomena ganjil tersebut untuk mengingatkan manusia di sekitarnya. Sayangnya peringatan mereka -yang notabene juga makhluk Tuhan yang mengkin memiliki kelebihan lain dibanding manusia yang konon makhluk paling sempurna- tidak pernah dihiraukan. (Majalah Qiblati Ed.10 Thn. III, Juli 2009).

Kini semuanya telah terjadi. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah saling bahu membahu menolong saudara-saudara kita yang menjadi korban melalui sumbangan kita berupa materi, tenaga ataupun doa. Toh mumpung saat ini masih dalam suasana Ramadhan yang suci yang kita yakini sebagai bulan bertabur Rahmat. Karena dibalik musibah pasti ada makna dan Hikmah besar yang harus kita gali. Inilah salah satu Teka-teki Tuhan yang bila tidak bijak disikapi pasti jluntrungnya kita akan menyalahkannya dan berujung pada keputus asaan yang akut untuk menatap masa depan bangsa ini yang lebih cerah. Karena di balik musibah ini ternyata ada saudara kita yang lain yang tidak sengaja “merasakan” berkah. Seperti yang terjadi di Brebes, yang dengan adanya gempa ini muncul 3 mata air panas baru di lokasi wisata Pemandian Air Panas Buaran di Desa Bantarkawung yang disebabkan oleh pergeseran lapisan bagian bawah bumi. Gempa tersebut juga meningkatkan debit air di salah satu sumber di lokasi wisata tersebut, padahal saat ini musim kemarau (Jawa Pos, 7/9/09). Semoga saja ini adalah dapat dicatat sebagai Shodaqoh warga yang terkena musibah kepada saudaranya yang lain, yang secara tidak langsung mungkin dapat dijadikan tambahan pahala di sisiNya selain pahala Sabar dan Syukur para korban karena mungkin dapat pula dicatat sebagai bentuk Itsar (Altruis).

Dan dengan musibah ini pula kita dapat mengambil sebuah pelajaran agar selalu waspada dan semakin mendekatkan diri padaNya terutama di bulan Puasa ini. Karena Karena inilah salah satu dari sekian banyak contoh jika Tuhan menghendaki kehancuran sebuah tempat di bumi yang makin rapuh ini, apalagi jika di tempat kita banyak bertaburan berbagai bentuk kemaksiatan, bukan tidak mungkin tempat kita masuk dalam daftar hitam catatan Tuhan berikutnya, seperti peringatanNya, “Dan berapakah banyaknya kota yang Aku tangguhkan (Azab-Ku) kepadanya, yang penduduknya berbuat zhalim, kemudian Aku azab mereka. Dan hanya kepada-Ku lah kembalinya (segala sesuatu) [ Qs.(22) : 48 ]. Tapi yakinlah Tuhan tidak melulu marah-marah dan suka mengazab makhlukNya. Karena Dia juga bilang pada kita bahwa “Rahmat-Ku mendahului azab-Ku” (alhadis). Nah mari sama sama bertobat agar sudilah kiranya Dia melindungi Bumi Pertiwi kita ini dari bencana-bencana yang mungkin bakal melanda bumi ini untuk yang kesekian kalinya.