Kiamat
Bulan Puasa kini sudah pamit meninggalkan kita. Banyak pengalaman unik yang tlah terukir di bulan yang dimuliakan ini baik dalam segi ruhani maupun materi keduniawiaan. Mulai dari tempaan ruhani yang kian deras menjamah relung-relung kalbu kita yang dalam kurun waktu sebelas bulan hampir kerontang dari guyuran hujan hikmah dan nilai-nilai spiritualitas, hingga yang ‘paling’ penting bagi masyarakat -di tengah kondisi ekonomi yang sedang semrawut ini- yang berupa guyuran rezeki tahunan bagi mereka yang bekerja pada ladang-ladang kerja yang dikenai aturan pemerintah berupa Tunjangan Hari Raya. Di pertengahan dan ada pula yang hampir di penghujung bulan pra Hari Raya, rezeki tahunan ini menjadi salah satu sumber dana yang diandalkan oleh para mereka yang mendapatkannya. Sumber dana yang sudah dinanti-nantikn tersebut digunakan untuk memenuhi berbagai keperluan si empunya. Ada yang digunakan untuk memborong belanjaan bagi mereka para Shopaholic, ada yang digunakan untuk menutup hutang-hutang mereka selama ini, ada pula yang ditabung atau mungkin digunakan untuk keperluan hari raya lainnya, dan masih seabrek cara pemanfaatan uang tersebut. Yang menarik dari fenomena tahunan ini adalah, apapun dan bagaimanapun cara dana THR tersebut digunakan, yang pasti semua yang merasakannya merasa senang. Mereka yang menerimanya tanpa peduli darimana sebenarnya asal dana THR. Padahal uang THR tersebut memang hak mereka sebagai pekerja dan bukan semata kebaikan pengusaha yang mempekerjakan mereka. Aneh dan miris jika kita melihat saudara kita para pekerja yang sampai harus turun ke jalan (Demonstrasi) di depan tempat mereka bekerja dan bahkan ada yang mendatangi sarang para wakil rakyat di kantor dewan setempat menuntut haknya yang hal ini tidak akan terjadi jika para pengusaha (yang berkewajiban) tidak berusaha mangkir dari tanggungjawab mereka.
Nah, dibalik seluk-beluk Tunjangan Hari Raya yang memiliki keunikan ceritanya sendiri tersebut, ada sebuah titik perenungan yang dapat kita tafakuri- secara kita adalah para alumnus Ramadhan yang merupakan sebuah universitas terbuka yang langsung diadakan oleh Langit sekali tiap tahunnya-. Yaitu mengenai sebuah hari dimana pada hari itu harta kekayaan yang meski sebesar Himalaya, status sosial yang meski setinggi menara Babel maupun kekuasaan yang meskipun sebesar singgasana Sulaiman takkan ada artinya pada hari yang Maha Dahsyat tersebut. Kedahsyatan Hari yang oleh Alqur’an digambarkan ketika itu para janin akan saling berguguran dari perut ibunya, para ibu yang lalai menyusui anak-anaknya karena saking takutnya, dan manusia dikabarkan seolah-olah pada hari itu seperti orang mabok padahal dia sebenarnya sadar. Belum lagi berbagai peristiwa alam yang ikut meramaikan ‘festival’ akhir masa semesta tersebut. Gunung-gunung berjalan, langit robek dan mengeluarkan kabut yang mencekam, bumi yang menceritakan kisahnya dan mengeluarkan berbagai material yang dikandungnya, dan masih banyak peristiwa mencekam pada hari itu yang sungguh tidak pernah terbayangkan oleh indra kita sebelumnya. Ya, hari itu adalah hari kiamat, sebuah penghabisan maha dahsyat di semesta ini. Musnahlah semuanya di jagad ini kecuali wajah Tuhanmu (demikian Alqur’an mengisahkan).
Lalu apa hubungannya fenomena THR dan hari kiamat ini ?. Sebenarnya hubungannya tidak ada, namun ada satu persamaan dan titik temu antara keduanya yang patut direnungkan. Yaitu, pada hari itu (baca : hari kiamat) dimana tidak ada kekayaaan duniawi yang masih melekat di tubuh kita, kita membutuhkan sebuah Tunjangan semacam THR yang di hari itu disebut sebagai Tunjangan Hari Akhir. Karena pada waktu itu tidak ada yang dapat kita andalkan selain tabungan kita yang satu ini karena Tunjangan inilah satu-satunya yang masih dalam genggaman kita. Tunjangan inilah satu-satunya yang dapat menolong kita dari ketakutan-ketakutan di hari mencekam nan melelahkan tersebut. Lalu dari mana dan bagaimana bentuk dari Tunjangan Hari Akhir (selanjutnya disingkat THA) tersebut ? Bentuk dari THA tersebut adalah berupa nilai-nilai pahala amal shaleh yang telah kita tabung di dunia ini. Dan cara memperbanyak jumlahnya agak berbeda dengan THR. Karena jika besaran THR biasanya tergantung pada lamanya masa bakti, posisi (jabatan) si penerima dan beberapa pertimbangan lain sesuai kebijakan perusahaan yang dapat berbeda antara satu dan yang lainnya. Namun pada THA, besarannya berbanding lurus dengan seberapa banyak (kuantitas dan kualitas) amal kebajikan kita di dunia ini tanpa peduli posisi sosial kita. Dan ketika kita matipun jumlah rekening pada THA kita tetap dapat bertambah. Karena jika kita memiliki pahala dari amal kebajikan yang disebut amal jariyah, maka nilai rekening kita masih bisa terus bertambah karena amal jariyah nilai pahalanya tetap diakumulasi (bahasa alqur’annya : tetap mengalir) meski si empunya tlah berada di pelukan pekat bumi. Pahala Jariyah inilah salah satu yang menjadi pemasukan tak terduga pada rekening akhirat kita kelak.
Nah, THA inilah yang nantinya dapat menolong meringankan keadaan kita di depan majelis peradilan Tuhan. THA inilah yang oleh para guru ngaji kita disebut sebagai bekal akhirat yang semasa hidup kita harus kita persiapkan agar ketika berpulang padaNya kelak kita sedikit banyak telah membawa bekal yang memadai. Jikalau berwisata dan bersafari di tempat-tempat di dunia saja kita harus membawa bekal yang memadai, padahal selesai wisata dan safari tersebut kita masih bisa pulang ke rumah, bagaimana jika kita bandingkan dengan safari (perjalanan) akhirat yang sangat jauh dan melelahkan dan dalam perjalanan tersebut kita tidak akan lagi pulang ke rumah dan berkumpul dengan orang-orang yang kita kasihi, tentunya perjalanan akhirat inilah yang lebih patut kita persiapkan secara matang selagi kita masih di rumah (baca : dunia). Bukankah banyak dari kita yang hari ini lebih banyak mengumpulkan bekal hidup untuk masa depan namun orientasi masa depan tersebut masih tetap dalam dimensi dunia, tidak dimensi yang lebih luas yaitu akhirat. Padahal jujur perlu kita akui bukankah kita membangun rumah mewah sebagai sarang bertumpuknya harta kita hanyalah untuk orang-orang sesudah kita ? karena meski kita yang membangunnya tapi kita tidak akan menghuninya, hunian kita adalah kuburan pekat yang penuh misteri di dalamnya. Jika harta yang kita tinggalkan selanjutnya dapat berpindah tangan pada mereka-mereka, dan jika suami ataupun istri yang selama ini kita puja dapat pula ‘dimiliki’ orang lain saat kita meninggal nanti, lantas apa sebenarnya yang benar-benar menjadi HAK PENUH kita sebagai manusia. Hak penuh tersebut adalah amal kebajikan yang berorientasi pada akhirat yang sedari sekarang harus kita titipkan (kita tabung) pada Nya, karena sesuai janjiNya dalam Kitab yang Agung bahwa, “Apa yang ada di sisimu akan lenyap dan apa yang ada di sisi Tuhanmu adalah kekal”
Semoga di hari yang maha dahsyat tersebut rekening Tunjangan Hari Akhir (Kiamat) kita cukup untuk menemani kita melalui hari-hari mencekam nan meletihkan tersebut. Ameen, Oh My Lord.

Seduhan OLeh : Musyaf Senyapena