Reuni SMKPUR

Reuni SMKPUR


Teruntuk para kawan lawas yang sangat dikagumiku. Berhubung ada sebuah uzur yang merintangiku untuk dapat hadir di majelis reuni kalian. Maka dengan sangat menyesal aku hanya dapat bersua dengan kalian melalui kedai reot ini yang kuharap dapat sedikit mengobati kerinduanku pada para kawan yang aku merasa terhormat pernah merasai hidup (dalam bangku sekolah) di tengah anda-anda semua. Berikut daftar harga cabe dan bawang goreng, eh maaf, maksudku sedikit goresan kesanku pada kalian yang tentunya sangat sedikit jika dibanding besarnya kesanku pada kalian. Kesan yang jujur dari dalam hatiku, terlepas dari sesuai tidaknya menurut orang lain, karena toh ini kesan yang benar-benar kutangkap dari kepribadian mereka selama kurang lebih 3 tahun bersama dalam kelas. Dan juga beberapa pengalaman kejadian2 unik mereka yang hingga kini masih baik terekam di benakku :

– Ika Sri Lestari Anggraeni

Seorang kawan yang kukenal tegar dalam menghadapi masalahnya. Dan padanya seolah tak pernah ada kata menyerah untuk mengetahui sesuatu (pelajaran) yang kebetulan belum dimengertinya yang dibuktikannya dengan tidak malu dan canggung untuk bertanya pada siapa yang dianggapnya lebih paham. Teringatku pada waktu dia mendadak pingsan –belakangan kami ketahui karena ‘amanah langit’ (berupa cobaan penyakit) yang hanya diketahui oleh orang-orang dan kawan dekatnya saja- kami beberapa orang (plus sang wali kelas kami yang cantik) seusai sholat Jum’at memutuskan untuk mengantarnya ke kediamannya yang jaraknya kalo ga’ salah sekira 10-12 KM. Yang unik adalah kala itu kami – minus dia dan sang wali kelas yang berada di dalam- berada di bak terbuka karena mobil yang digunakan mengantar adalah mobil Pick Up (Colt bak) milik sekolahan. Jadilah kami belajar gimana rasanya memendam sedikit rasa malu ketika mobil melewati sekumpulan orang yang ngelihatin kami dengan sedikit perasaan aneh, apalagi di bak terbuka tersebut ga’ hanya cowok tapi juga beberapa cewek teman sekelas kami yang kebetulan ikut karena dipaksa anak-anak cow, toh arah pulang mereka sejalur dengan kami.
Sesampainya di rumah kawan kami yang satu ini, aku dibuat takjub ketika sedikit banyak orang tuanya bercerita tentang kondisi kawan kami tersebut. Yang dapat kutngkap adalah ternyata betapa banyak pengorbanan orang tua pada kita meski kondisi mereka sesusah apapun. Dan ternyata aku juga nemuin sesosok anak manusia pada diri kawanku yang satu ini yang dengan segala keterbatasan dan kegigihannya untuk sebisa mungkin tidak mengecewakan pengorbanan orang tua yang dengan susah payah menyekolahkannya.

– Dian Puspita

Dia seorang kawan yang jujur semenjak kelas 1-2 kurang begitu aku kenal karena kurang akrab. Yang aku tahu hanya bahwa dia adalah salah seorang sisiwi yang sering telat dan alasan ketelatannya -yang sering berulang kali- jarang diterima oleh sang ketua jurusan kami. Dan ini berlaku hingga kami berada di tingkat (kelas) 3. Namun ternyata alasan keterlambatannya adalah karena jarak rumahnya yang sangat jauh dari sekolahan. Dia berdomisili di daerah Bromo tepatnya di Pasrepan. Nah loh, jauh amat. Tetapi entahlah kegigihannya untuk masuk sekolah seolah memendekkan jarak yang harus ditempuhnya setiap berangkat sekolah yang kata kawan-kawan lain dia selalu berangkat sangat pagi, konon sehabis subuh. Sebuah semangat sekolah yang mengingatkanku pada semangat si Lintang dalam novel Laskar Pelangi.
Menginjak kelas 3, kawanku yang agak pendiam ini mulai menunjukkan taringnya, dia ternyata ‘jago’ bahasa Inggris yang sungguh membuat kawan-kawan sekolah terperangah karena selama kami tidak pernah mengetahuinya. Sang New Rising Star yang muncul di kelas kami tersebut pada tes TOEC kelas 3 pra UAN adalah salah satu peraih nilai tertinggi yang sebenarnya berhak mengantarnya mendapat semacam beasiswa dari penyelenggara tes bahasa londho tersebut. Lagi-lagi aku belajar kesederhanaan dan keterbatasan ternyata tak mampu untuk membunuh cita-cita kita jika kita mempunyai semangat dan kegigihan yang tinggi untuk terus berusaha dan belajar.

– Tri Dian Fitriyana

Jujur dulu aku agak sedikit memiliki pandangan yang su’uzhon pada kawan yang satu ini. Pasalnya dulu di awal-awal kelas 1 cara berpakaiannya agak sedikit, whuh, chui- witz, dengan badan yang lumayan molek ditunjang dengan senyum yang manis plus pipinya yang berlesung pipit apa ga’ ngebuat kami para siswa cowok ga’ berpikkir yang agak gimana ya ? khas pikiran cowok lah. Sempat terpikir sih, apa anak ini naksir aku, teman sebangkuku, atau teman di depanku, karena dia yang duduknya di deret ke dua di depan meja guru sering melihat ke arah belakang ketika ngobrol ama kawan di belakangnya. Apalagi kami para cowok yang duduk di deretan paling belakang ini adalah para Cover Boy (model) majalah SoBeK (Sorotan Berita Kriminal) ya pantas lah kalo sedikit gedhe rasa. Tapi ternyata itu cuma pikiran buruk kami. Ternyata semakin aku mengenalnya dia adalah kawan yang baik, murah senyum dan enak buat dicurhatin. Belakangan aku tahu darinya kalo dulu dia di SMP adalah seorang CheerLeaders (moga ga’salah nulisnya). Pantas dia kalo waktunya olahraga terlihat lincah banget, soal cara berpakaiannya yang dulu juga sering disindir guru agama kami, ya dia hadapi dengan senyuman manis + lesung pipi yang khas itu.
Tapi alhamdulillah terakhir kali aku ketemu di pernikahan salah seorang kawan kami, dia ternyata tlah memutuskan untuk mengenakan Jilbab yang bagi kami para kaum adam muslim merupakan raihan tertinggi dari kesadaran spiritual seorang wanita. Apalagi ditambah tuturan dari seorang kawan yang kebetulan satu perusahaan dengan dia bekerja, kaawanku tersebut bilang kalo si cewek dengan lesung pipi ini kini ga’ hanya berjilbab doank tapi tingkah dan polahnya juga berubah lebih kalem dan santun.
Dari pegalaman ini aku belajar bahwa ternyata jangan hanya memandang seseorang dari luarnya, Don’t judge a book by its cover gitu mungkin bahasa kerennya. Dan ternyata hidayah Nya ntu terserah Dia sendiri, kita hanya bisa andil di dalamnya sebatas memberi jalan dan mendukung dia sepenuhnya di jalan Hidayah tersebut.

– Sri Endah

Salah satu kawan yang pada akhir-akhir masa sekolah, tepatnya di tingkat 3 adalah salah seorang yang muncul sebagai D’ new Rising Star dalam pelajaran ilmu hitung hitungan. Semenjak itu dia yang pada mulanya diabaikan dan dianggap sebagai siswa biasa (kayak aku, yang bahkan hingga kelas 3 ya gitu gitu aza, ga’ pinter2,hehe) perlahan mulai dijadikan salah satu rujukan kami untuk sharing about matematika. Dari hasil obrolanku dengannya, ternyata dia emang udah jago dan suka metematika dari SD dulu, dan kenapa baru di tingkat 3 dia mulai menunjukkan kehebatannya itu, dia –seingatku- cuma bilang kalo dia lebih suka ga’ dianggap sebagai salah satu siswa yang ‘lebih’. Mending jadi yang biasa-biasa aza, katanya. Sebuah prinsip yang patut ku tiru tentang kerendah hatian yang merupakan sifat terpuji di samping prilaku rajin, suka menabung dan tidak sombong. Toh akhirnya ada waktunya ke’lebih’an kita itu akan nampak dengan sendirinya di saat yang tepat dan di tempat yang tepat pula. Buktinya nilai UAN kawanku ini sungguh memuaskan. Bahkan Nilai Matematikanya sempurna, yaitu 10.

– Sucik Indraini

Sebenarnya dari SMP aku udah tahu dia karena kita satu skul, meski ga’ pernah sekelas. 3 Tahun di SMK bareng nih kawan membuat aku yang dulu agak kurang akrab menjadi perlahan sedikit akrab, apalagi pas tingkat 3, toh kami juga sama-sama anak Pandaan yang jurusan bus nya otomatis sama. Seingatku dari kawan yang katanya kini dah married dan udah dikaruniai anak ini adalah bahwa dia adalah seorang yang sering membuat kami sekelas ketawa. Karena jika guyon-guyon ama temen2 dan pas jalan bareng teman2 cew dia tidak jarang tiba-tiba jatuh yang dalam istilah jawa disebut Lephok yang konon bahwa orang yang Lephok ini dikarenakan di masa kecilnya tidak atau jarang di adakan selamatan untuknya, katanya sih, entah benar apa tidak.

– Wieke Widya Lestari weleh-weleh

(Sebelumnya aku baca Ta’awudz dulu ya,hehehe)
Anak Purwodadi yang merupakan salah seorang ikon di kelas kami. Nih anak memang supel banget kalo bergaul. Bahkan ibuku bilang kalo dia lumayan cantik saat beliau bertemu dia pada wisuda sekolah dan ketika dia silaturrahim ke rumah, padahal aku dari dulu paling anti memuji dia sesakral itu, hehe. Dia selalu bikin aku dan kawan sebangku ku merasa gemez. Bahkan kalo aku berbarengan tiba di depan gerbang sekolah ketika berangkat skul dan ngliat dia baru turun dari angkot langsung az aku ngambil kerikil kecil dan kulempari (tapi ga’ sampai ngebuat cedera karena pelan banget asal dia merasakannya) dia dengan gemez dan berikutnya balasan dari dia adalah dia mengejarku dan mencubit lengan tanganku yang sebelumnya telah ada ‘ribuan’ bekas2 cubitannya. Kawan yang berbadan ‘seksi’ alias berisi (hehe) kayak yang ada di film Bridget Johns ini sering menganggap dirinya sebagai saudara sepupu Bunga Citra Lestari (BCL) dengan dalih nama belakang mereka yang sama persis seolah itu adalah nama keluarga besar mereka yang sebesar khayalannya tersebut. Dia juga seorang cewek penggemar musik dan pemerhati cowok2 tampan, baik kakak kelas kami maupun pesohor2 di dunia selebritas.
Tapi anak ini adalah seorang pendengar yang baik, aku paling sering kalo curhat ama dia cz dia emang ga’ ada lelah2 nya dan selalu ada waktu untuk nampung curhatku. Satu dari beberapa hal yang aku kagumi darinya adalah niat mulianya untuk dapat segera bekerja selepas skul untuk bantu emak, bapak dan adik kecilnya yang baru lahir. Aku dapat membaca sebuah ketulusan niat dari matanya ketika dia bercerita mengenai hal ini padaku. Ngomong tentang anak ini memang ga’ akan pernah ada habisnya sama seperti kalo kita makan kwaci si biji bunga matahari yang ga’ habis-abis.

– Fitrian Akhmadi

Sang penggila Naruto. Hampir di setiap Folder dan File selalu diberi namanya yang diembel-embeli nama belakang dari tokoh favoritnya tersebut. Kalo soal game dia termasuk yang paling ahli di lingkungan kelas kami. Meski sama-sama anak Pandaan, namun frekuensi ketelatannya termasuk yang paling banyak daripada anak-anak Pandaan yang lain. Ya emang wajar karena kalo berangkat mepet banget dengan jam masuk sekolah. Kawan yang unik juga sih, kadang kalo guru yang pelajarannya bikin ngantuk (apalagi setelah praktek Olahraga di lapangan) dia sering tidur-tiduran, aku juga kadang-kadang melakukannya sih, tapi ga’ sesering dia karena letak tempat duduknya juga mendukung keamanannya untuk melakukan aksinya tersebut.
Di sisi lain dia juga seorang kawan yang ga’ pelit ketika dimintai pertolongan semisal jika kami ingin burning tugas, lagu maupun mengerjakan tugas di rumahnya. Juga tidak keberatan ketika aku meminjam buku2 nya yang emang bagus2 kayak 7 Habits…nya Stephen R.Covey dan buku2 agama yang ga’ kalah kerennya.

– Muhammad Zainul Arifin

Disegani di kelas kami karena dia pandai, terutama Matematika dan yang lebih membuat dia disegani dan dihormati bahkan oleh para guru seklipun adalah karena akhlaknya yang terpuji khas Muslim idaman. Tutur kata dan bahasanya yang sopan dan halus. Plus Gesture Tubuhnya yang ga’ bekasa’an makin membuat kami mengaguminya. Bahkan karena kepandaian matematikanya, dia dipanggil dengan nama Pak Zainul, sebuah nama yang sama dengan nama pengajar Matematika kami yang Master tersebut.
Setiap ada tugas Produktif (Sesuai jurusan kelas kami) dia selalu mengerjakannya sebaik mungkin, meskipun di rumahnya ga’ ada Komputer (Senasib dengan aku dulu) dia ngerjakannya di rumah teman kami meski sampai pulang agak petang. Terkadang juga di rental dengan bermodal beberapa keping Disket (padahal kala itu sudah sudah hampir ga’ berlaku lagi karena semua memakai Flashdisk). Padahal ketika pulang dia masih harus mengambil sepeda Onthel nya di penitipan sepeda dan masih harus mengayuhnya dalam jarak yang lumayan jauh dan ditemani gelap area persawahan dan kebun tebu di sisi-sisi jalannya.
Satu hal yang masih aku ingat darinya, mungkin sedikit kawan yang tahu, saking menghormatinya pada ilmu, sehabis selesai menggunakan bukunya dan sebelum memasukannya ke dalam tas, dia selalu menciumnya selayak ketika mencium kitab suci Alqur’an. Aku mengetahuinya karena bangkunya tepat di depan bangkuku namun beda deret. Dan ritual itu hampir selalu aku perhatikan secara diam-diam. Sebuah penghormatan kepada ilmu yang sangat kukagumi dari kawan yang menjadi sesosok panutan di kelas tersebut
Kini dengan izin Allah, dia mengemban amanah kuliah di salah satu perguruan tinggi elite di pertiwi ini, di ITS (Institut Tekhnologi Sepuluh Nopember) Surabaya yang mana di tempat tersebut sedikit banyak aku pernah menggali kenangan dan
pengalaman hidup dari oang2 hebat. Semoga berhasil untuk Wak Zainul dalam menempuh amanah tersebut dan kelak mampu menyumbangkan ilmunya bagi bangsa ini dan membuat kami para kawanmu semakin bangga padamu. Keep Ur Silent, Ur akhlak n Ur Faith. Gud Luck

– Deny Herianto

Dulu dia pingin masuk jurusan Otomotif tapi Takdir malah membawanya ke jurusan yang ada hubungannya dengan ketak-ketik ini. Kalo naik motor (untuk ga’ bilang kebut2an) jago dia. Selain motor, sesuatu yang digandrunginya adalah olahraga terutama sepak bola. Ditambah fisik yang kuat dan paras yang cakep membuat dirinya seakan cocok menjadi pemain bola profesional. Jujur yang membuat aku ‘iri’ sebagai lelaki adalah rambutnya yang bagus dan senantiasa klemis.
Yang kuingat lagi dari dia adalah meski suka guyon (apalagi bangku kami para cowok ada di belakang) tetapi bila diajak serius ngbahas masalah yang agak berat semisal tentang teori konspirasi Zionis yahudi dan masalah2 Dunia Islam lain di berbagai penjuru dunia, karena bagi kami yang meski lumayan agak sedikit ndablek, tapi masalah gituan kami juga excited banget. Apalagi ngebahas film2 yang sedikit banyak temanya seputar konspirasi dan misteri seperti The Da Vinci Code yang diangkat dari judul novel yang sama karya Dan Brown. Dan salah satu artis favoritnya adalah si banyol Stephen Chow.

– Muhammad Mukhlison

Neh salah satu kawan karibku. Udah tak terhitung kebaikannya padaku yang aku merasa tak akan bisa membalasnya sampai kapanpun. Mulai dari numpang mengerjakan tugas di rumahnya sampai menginap segala. Karena mengkisahkan kawan yang kami panggil Samson ini akan terlalu panjang, maka singkatnya aza ya.
Dia anak yang meski terkesan ugal2an dari penampilannya dan jika seumpama dijadikan bintang film lebih cocok peran Preman dan sejenisnya, namun hatinya sungguh sangat mulia. Kalo bantu teman ga’ pake perhitungan, ikhlas seperti arti dari nama belakangnya tersebut. Berangkat da pulang sekolah berucap salam dan mencium kedua tangan ortunya, baik emak dan bapaknya. Neh yang aku kagumi darinya. Dia juga sangat sayang kedua adiknya, dia kini juga bekerja untuk membantu kedua ortunya ngebiayain kuliah dan sekolah adiknya. Ga’ pernah malu untuk melakukan sesuatu yang dianggapnya benar. Loyal pada kawan, terbukti jika tugas kawannya belum selesai (terutama aku yang di kelas selalu kalo ngumpulin tugas paling akhir) dia akan trus menemani ngerjakan tugas meski sampai malam dan bahkan pernah sampai menginap segala. Wuih emang kawan karib yang satu ini adalah salah satu motor semangat yang sedikit banyak menginspirasi ku untuk tidak gamang dalam menghadapi tiap masalah (terutama tugas sekolah), karena seperti kata pepatah, “Betapapun besar rintangan di depan anda, masih lebih besar kekuatan di belakang Anda.” Ya, dan kekuatan itu adalah kekuatan persahabatan yang seolah selalu mengiangkan slogan U’r not alone (Lagunya si Michael ‘Mikhael’ Jackson) dan slogannya Liverpool Fc, “U never walk alone.”

– Maya Taurussya Dewinta

Dulu –jujur kuakui- aku dan beberapa kawan (Cowok) agak gimana gitu padanya. Dia dulu selain sebagai anggota PASKIBRA yang memiliki strata lumayan tinggi dalam pandangan kami di lingkungan sekolah karena merupakan organisasi ‘Plat Merah’selain OSIS yang sedikit banyak nama2 yang menjadi anggota dari kedua perkumpulan itu lumayan berpengaruh. Karena mereka juga lebih dikenal dan lebih ‘akrab’ dengan para dewan guru daripada siswa2 semacam kami.
Aku ingat betul sewaktu di tingkat 1, kebetulan dia diamanahi sebagai Bendahara (kalo ga’ salah) yang tugasnya ngumpulin uang kas rutin (seingatku dipungut tiap senin selepas upacara). Nah, dalam masalah ‘upeti’ kas kelas ini, aku berada di daftar hitam nomor wahid dan disusul oleh kawan2 ku yang lain yang jarang sekali bayar uang kas alias selalu menunggak. Selalu namaku dan disusul nama dalam urutan berikutnya yang dipanggil dengan suara yang dapat di dengar oleh seantero kelas. Wah, diam-diam aku perlahan mulai ‘sedikit’ muak dengan sifat-sifat elite kelas kayak kawan yang satu ini yang menurutku – dan yang senasib denganku masuk dalam Black List kas kelas – terlalu pongah dan yang sejenisnya.
Namun ya itulah, manusia memang unik, waktu di tingkat 2 yang otomatis kita sebagai pelajar SMK wajib magang di sebuah institusi sesuai Jurusan masing2. Aneh bin ajaib, ketika suatu hari ada seorang Jilbaber dengan suara sejuk nan lembut menyapaku dan kawan2 di depan gerbang sekolah dengan uluk salam. Dan dengan keterkejutan yang masih menggelayut, ku perhatikan benarkah dia kawanku sang ‘Pemungut Upeti Kelas’ dulu? Belakangan semenjak saat itu kami menjadi akrab karena sering berdiskusi terutama tentang agama (ya meskipun tampang ane yang konon ngebikin kabur alias segan para cewek adek2 kelas kalo mau ngegoda kawan sebangkuku, namun gini2 juga orang yang beriman, hehehe).
Berdasar tuturan lisannya, dia dapat berubah drastic seperti itu karena di tempat magangnya dia kenal seorang Ikhwan yang agama dan akhlaknya bagus banget, apalagi disekujur tubuhnya nampak jelas cara berpakaian plus dekorasinya yang meniru Sunah Rasul. Singkat cerita, setelah perkenalan itu dan bimbingan dari sang Ikhwan inilah kawanku yang satu ini memulai ber-methamorphosis menjadi Muslimah yang sebisa mungkin mendekati ke arah yang Kaaffah.
Aku –mendengar kisah rohani kawanku ini- dapat menyimpulkan bahwa pengaruh dari luar diri manusia yang fitrah adalah pengaruh lingkungan. Yang dalam tamsil kehidupan digambarkan melalui proses pembuatan mutiara alam di dasar samudera secara alami. Prosesnya kurang lebih demikian : Sebuah tempat yang berbentuk seperti tiram, membuka ‘mulutnya’ alias menganga lebar untuk perlahan mengambil sedikit pepasir yang dibutuhkannya. Setelah menutup kembali, pasir yang berada di dalam tubuh si tiram tadi perlahan mulai dibentuk menjadi butiran mutiara dengan zat tertentu di dalam tubuh si tiram (kerang). Dan proses pembentukan mutiara ini tentu memakan waktu yang tidak sebentar yang merupakan sunatullah di jagad ini bahwa segala sesuatu membutuhkan proses.
Nah seperti itulah kira-kira pengaruh lingkungan bekerja pada diri manusia. Seperti kawanku ini yang melalui proses perubahan dirinya menjadi ‘mutiara’ yang perlahan-lahan melalui dukungan lingkungan yang sehat. Kini dia (kawanku) ini bukan lagi pasir biasa di wajah lautan yang luas, namun tlah berubah menjadi ‘mutiara’ yang Insyaallah tetap Istiqomah untuk terus menempuh dan menyempurnakan jalan ke-mutiara-annya tersebut.
Seorang Jilbaber yang santun dan mempunyai Azzam yang sangat kuat dalam mepelajari agama yang selalu menginspirasi kami para kawan2nya.

– Melati Bayu Pramesti

Sesosok kawan yang periang yang di awal perkenalan kami –meski melalui pengamatanku belaka- mengenalnya sebagai cewek yang jago nyanyi. Respect terhadap kawannya meski dia –dalam pandangan sebagian kami- status sosial dan ekonominya termasuk dalam jajaran yang lebih mapan dari rata-rata kami. Namun toh hal tersebut tak menghalanginya untuk tetap supel bergaul dengan kawan2 yang lain. Dia termasuk salah satu penghuni kelas kami yang –kalo bahasa kerennya- gaul. Mulai dari cara berpakaiannya yang seperti artis ibukota (hehe, maaf ya non) ditambah bakatnya di bidang tarik suara yang pada tiap tahunnya mengantarkan kelas kami merebut ‘piala bergilir’ ketika skul kami lagi ngadain ultah atau perayaan HUT RI. Sesuai nama kecilnya, Memes, nampaknya dia emang cocok jadi penyanyi yang mungkin suatu saat nanti bisa menjadi diva baru Indonesia yang menggantikan sang Memes Senior, Penyanyi yang juga istri Konduktor tenar Adie M.S. Ya sapa tau aza, kalo Memes Senior istrinya Konduktor Orkestra, dan Memes temenku ini, istrinya Konduktor Kereta (Conductor, hehe, bercanda)

– Ekky Ayusta

Sering dipanggil bunda oleh sebagian kawan2, terutama di ‘genknya’. Dia salah satu siswi kelas kami yang aktif bik di kelas maupun di organisasi Sekolah. Pantas jika dia lebih dikenal dan dekat dengan para elite sekolah dibandingkan dengan kami. Di ajang perlombaan pun dia sering diikutsertakan, ya karena selain akademisnya bagus, dia juga pintar ‘ngomong’ (presentasi) yang jarang sekali siswi di kelas kami yang berkemampuan ngoceh seperti dia (hehe, cory prend). Termasuk motor penggerak kegiatan di kelas, karena dia juga seorang ketua kelas kami di tingkat 3 dulu. Juga seorang Jilbaber yang istiqomah mempertahankan ‘atribut sakral’ dari langit tersebut. Dan mempunyai pengaruh besar di kelas, baik dalam pelajaran maupun ketika menyumbangkan opininya saat di kelas sedang ada diskusi maupun pas lagi ada masalah.

– Ana Kristianingsih

Cah Blitar yang berperawakan mungil yang entah kena angin mana memutuskan sekolah di daerah Pasuruan ini. Anak Indekost yang berani meski seorang cewek. Padahal dia ga’ punya sanak familiy di daerah sekitar tempatnya kost. Kegigihannya skul jauh dari rumah sedikit banyak ‘menampar’ ku yang kadang berangkat sekolah dengan semangat yang nggak jarang up-down. Padahal jarak rumahku dan skul nggak jauh2 amat, paling sekira 15-20 KM plus masih satu atap ama Induk semang. Beda sekali dengan kawan yang kini memutuskan menjadi seorang Jilbaber ini. Meski kecil namun anunya besar. Maksudku semangatnya. Ditambah kemandiriannya selama 3 tahun hidup indekost dan kini (semasa kuliah) masih melanjutkan tradisi kostnya tersebut.
Banyak pengalaman menarik nan unikku bersamanya. Apalagi pas kita bareng2 kost di Surabaya dulu saat magang. Wah banyak jasanya yang hingga kini belum sempat kubalas. Mulai kebaikannya meminjamkan panic pemanas air buat bikin mie di kost dulu (Panci itu aku rusakkin ama kawan sekamarku, cory banget ya non, buat kenang2an, hehe). Juga kesediaannya berbagi pulsa buat aku dan kawanku saat ingin menghubungi keluarga di Pandaan dari Asrama tempat kost kami. Minjamin pemutar MP4 plus CDnya seperti lagu2 Malaysia, Dan Boyband macam Blue. Wah banyak deh jasanya, nggak bisa dan nggak muat ku sebut di sini semuanya.
Yang jelas dia juga menginspirasi kami bahwa menuntut ilmu itu wajib dan harus sungguh-sungguh, tak peduli sejauh mana jarak kita umtuk menggapai ilmu tersebut.

– Ribut Wahidi

Dia seingatku suka guyon dan termasuk pandai nan kritis. Meski dari penampilannya kurang meyakinkan (hehe, cory bercanda Bro). Yang tak bisa kami lupa hingga kini adalah rutinnya dia dipethali (dipotong rambutnya secara paksa) oleh para guru saat operasi kerapian. Namun anehnya, meski diploncoi kayak gitu, terkadang dia tetap pede besoknya ke skul tanpa merapikan rambutnya yang terkena kemarin alias dibiarin keadaan rambutnya seolah eman dan mungkin di benaknya menganggapnya sebagai warisan leluhur sekolah yang patut dilestarikan (cz Operasi kerapian semacam ini dah dari dulu digalakkan di sekolah kami dan diwariskan hingga zaman kami)
Teruntuk para kawan lawasku
Chapter II

– Akhmad Subhan

Biasa juga dipanggil Nob, kawan yang entah dia sadari atau tidak mengindikasikan terkena gejala Peterpan Syndrome, karena selalu saja tingkahnya bikin seisi kelas tertawa. Kalo tingkahnya aneh dan kadang kekanak-kanakan, kadang serius. Dia sering cerita tentang si Spongebob CS plus diserti gesture tubuhnya yang lucu kala menirukan salah satu adegan dalam film tersebut yang dianggapnya pantas untuk diceritakan.
Disamping itu, dia adalah kawan yang sangat cerdas, terutama dalam bidang yang ada hubungannya dengan angka dan rumus macam Matematika dan Fisika. Inilah yang membuatbya unik di mata kami. Kadang ‘Gila’, kadang nggilani, kadang seriusnya minta ampun. Kalo lagi serius (misal mecahi rumus) nggak bisa diganggu seolah dia adalah Edison yang lagi menyelesaikan percobaan lampunya yang dia yakin akan berhasil setelah sekian ribu percobaannya yang gagal.
Dalam kelas Animasi, Design, dan 3D dia juga termasuk joss di kelas kami. Dan satu motonya yang hingga kini masih terngiang di benakku. “Nob nob, Nob nob…!” entah apa artinya? Mungkin semacam mantra ajaib yang bisa menarik cewek padanya layaknya kodok jantan yang mengorek di pinggir kali untuk memancing si betina agar mau kawin dengannya. Atau hanya sekedar mantra untuk menutupi kegilaannya. Atau mungkin hanya kata asal2an yang terucap tanpa makna, bukankah di zaman ini banyak kita jumpai kata2 yang sia2 yang nggak ada manfaatnya namun terus diucapkan oleh manusia, ya macam lagu2 berlirik cabul yang nyatanya makin digandrungi oleh kita.