Senja syahdu

Senja syahdu

Ini tentang kisah seorang Tuna Netra yang pernah hidup di desaku. Semasa akhir kehidupannya beliau berkhidmat di Masjid di kampong kami sebagai seorang penyeru Shalat (Muadzin). Dari pitutur para tetua di sekitarku, termasuk dari cerita ibuku, beliau sebenarnya dahulu sebelum menerima amanah berupa ‘kelebihannya’ sebagai seorang Tuna Netra tersebut pernah merasakan legit dan genitnya indah dunia ini dengan kedua indra lihatnya yang masih normal. Namun karena suatu musabab hingga akhirnya beliau diberi amanah berupa ‘kegelapan permanen indra penglihatannya tersebut’.
Tanpa berniat untuk membuka aib seseorang, maka akan aku kisahkan kronologis kehidupan beliau yang dapat kita ambil sebagai sebuah sisi lain makna kebersyukuran hidup yang dapat kita teladani. Berdasar pitutur yang terucap dari lisan ibuku, beliau dahulu semasa mudanya termasuk seperti pemuda kebanyakan. Berjiwa pemberontak, agak nakal khas anak muda, pokoknya sifat-sifat khas darah muda ada pada diri beliau. Hingga pada suatu saat setelah beliau selesai menyabit rumput sekitaran siang hari, beliau memutuskan untuk singgah ke sebuah sumber air yang oleh orang-orang kampong kami (mungkin juga oleh sebagian masyarakat Jawa) disebut Kepuh/Kepoh. Tempat ini sungguh sedikit banyak disakralkan oleh masyarakat kampong kami, bahkan hingga hari ini sisa-sisa nilai kearifan lokal untuk tidak sembarangan alias harus menjaga tata karma dan kesopanan jika mandi di tempat tersebut nampaknya masih dipertahankan.
Di tengah panasnya tatapan matahari siang hari itu, setelah selesai merampungkan pekerjaannya menyabit rumput tersebut, beliau hendak mandi di kepoh itu. Namun tidak seperti adatnya orang yang mandi seperti membuka baju dan membasahi tubuhnya, beliau yang tengah kepanasan dan kepenatan langsung menceburkn dirinya ke dalam sumber air yang memang digunakan warga untuk mandi dan mencuci pakaian mereka, namun dengan aturan harus dengan tata karma seperti memakai gayung alias tidak boleh menceburkan badan atau mencelupkan cucian langsung ke dalam sumber air itu. Kembali ke kisah si bapak Tuna Netra di atas, setelah menceburkan dirinya, ada satu hal ganjil terjadi, di sekitaran mata beliau mendadak ada semacam benjolan yang tentunya mengganggu penglihatan beliau. Nah kejadian inilah yang menjadi awal mula beliau mengalami kebutaan hingga akhir hayat beliau.
Namun ada satu dari sekian fragmen kehidupannya yang menimbulkan decak kagum dan dikenang masyarakat kami hingga hari ini. Singkat cerita meski mengalami cobaaan tersebut, beliau tidak melulu mengutuki dan menyesali keadaan dirinya. Di separuh akhir perjalanan hidupnya beliau memutuskan untuk menerima amanah berkhidmat pada Masjid di kampung kami sebagai seorang Muadzin utama hingga titipan nafas terakhir diambil dari jasadnya oleh Yang Maha Kuasa.
Dalam ingatan kami para generasi muda kampung, beliau bukan hanya bertugas sebagai penyeru shalat namun juga dikenal sebagai Sang Pengabar Kematian. Jika ada saudara (warga/tetangga) di kampung kami yang meninggal dunia, maka beliaulah yang bertugas menyiarkan berita ‘Maha Penting’ tersebut melalui corong pengeras suara di masjid. Ada memori yang unik jika mengingat kekhasan suara Sang Pengabar Kematian tersebut ketika menyiarkan berita duka. Suaranya yang menggelegar dan ada penekanan dalam intonasinya seakan mengandung kekuatan magis nan sedikit mistis. Magis karena baru di awal kalimat siaran kematian yang beliau awali dengan Uluk Salam saja telah mampu membius liang dengar seluruh warga dan membuat mereka terperangah sesaat di tempat pijaknya masing-masing hingga disebutkan siapa gerangan warga yang mendapat giliran kembali padaNya. Ada kesan mistis karena baru mendengar suaranya saja yang diawali dengan uluk salam dengan intonasi yang berat dan menggelegar, anak-anak kecil kala itu pada ketakutan karena bocah-bocah itu dan juga seluruh warga sudah menerka-nerka dengan yakin bahwa pasti ini kabar kematian. Sehingga jika pada malam hari terdengar suara burung (dalam kepercayaan penduduk kampung pada umumnya disebut burung serak, entah ini hanya mitos atau memang benar adanya. Yang jelas hingga hari ini penduduk kampung kampung memang sering mengait2kannya dengan pertanda kematian yang akan dialami salah seorang warga) maka biasanya pada pagi harinya disambung dengan kabaran kematian melalui corong Masjid. Maka dapat disimpulkan jika sedikit banyak tertanam dalam benak kami jika 2 subjek ini (Burung Serak dan suara Sang Pengabar Kematian) seolah-olah menjadi keunikan tersendiri yang terkesan mengandung nilai mistis dari keduanya.

Kisah kebajikan lainnya dari tokoh kampung kami yang satu ini adalah keistiqomahannya mengumandangkan Azan 5 kali sehari hingga akhir hayatnya. Terkecuali jika beliau sedang ada uzur semisal sakit seperti yang beliau alami menjelang akhir nafasnya. Dan masih ada hal yang membuat orang-orang di sekitar beliau berdecak kagum. Selama berjalan pulang pergi dari Masjid ke kediamannya, beliau seakan telah hafal rute tersebut hingga frekuensi peristiwa menabrak dinding, tersandung dan tersasar sedikit beliau alami. Memang terkadang beliau dipapah anaknya atau terkadang digandeng jamaah atau warga yang kebetulan lewat sekitar masjid. Mungkin dari sinilah beliau mempelajari dan menghafalkan rute pijakan yang aman saat sendirian melewati jalanan tersebut.
Dari untaian perjalanan hidup sang tuna netra ini, teringatku akan Hadis Nabi kita yang mulia, bahwa “Barangsiapa yang Aku (Allah) ambil kedua penglihatannya dan dia bersabar atas keadaan tersebut, maka tiadalah yang pantas baginya kecuali surga” [HR…].
Bukan hanya bersabar dalam cobaan, beliau ternyata juga bersabar dalam hal ketaatan seperti tugasnya sebagai seorang Muazin yang ganjarannya tidak tanggung-tanggung seperti tuturan Mu’awiyah r.a, yang berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Para Muazin adalah manusia yang paling panjang lehernya kelak di hari kiamat (Orang yang paling banyak melihat Rahmat Allah).” Dan yang lebih hebat lagi adalah beliau juga mampu membuat setan terbirit-birit ketika mendengar kumandang azannya seperti yang diberitakan oleh Abu Hurairah r.a. yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Apabila dikumandangkan azan untuk sholat, maka larilah setan hingga terkentut- kentut, sampai ia tidak mendengar azan. Setelah azan selesai, setan kembali menghadap lagi, sampai saat iqomat untuk sholat akan dikumandangkan setan lari lagi. Sesudah iqomat selesai setan kembali datang sehingga ia dapat melintas diantara seseorang dengan nafsunya. Ia membisikkan,”ingatlah ini ingatlah itu.” Mengingatkan tentang apa saja yang tadinya tidak ingat, hingga tak tahu lagi berapa raka’at ia telah sholat.” [HR. Bukhari dan Muslim]. Bukankah sosok beliau ini juga mengingatkan kita pada salah seorang sosok sahabat nabi yang mulia yang bernama Abdullah ibn Umi Maktum r.a yang juga seorang Tuna Netra namun perannya sebagai seorang Muazin bersama sahabat Bilal bin Rabah r.a sungguh telah ikut tercatat dalam tinta emas sejarah Peradaban awal mula Islam di jagad ini. Seperti sosok Tuna Netra dalam seduhan musyafucino kali ini yang telah terukir di benak kami warga kampung yang semoga dapat diteladani oleh siapapun.

***
Kawan semoga kisah nyata dari teladan seorang tokoh Tuna Netra yang legendaris di kampung kami tersebut sanggup menginspirasi kita agar lebih baik, lebih bersyukur dengan keadaan kita,dan lebih bersabar memahami alur hidup kita. Terakhir, semoga arwah beliau tenang di sana dan amal baiknya tercatat sebagai Tunjangan Hari Kiamat nanti dan semoga segala kekhilafannya diampuni oleh Nya, Amin.
Seduhan musyafucino ini teruntuk Sang Pengabar Kematian yang telah berpulang karena sakit yang diamanahkan padanya di sisa-sisa akhir nafasnya.