kursi PanasAlkisah pada zaman keemasan Islam di Baghdad yang pada waktu itu dipimpin oleh Sultan Harun Al Rasyid, hidup seorang rakyat yang biasa dipanggil si majnun oleh masyarakat sekitar. Kisah ini terjadi pada saat seluruh penduduk negeri termasuk juga Khalifah Al Rasyid sedang melaksanakan Sholat Jum’at. Seperti kebiasaan kaum Muslim pada umumnya, setelah menunaikan ibadah agung tersebut, Sang Khalifah beserta para menteri dan segenap penghuni istana beristirahat sejenak untuk melepas penat dan bercengkrama. Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari dalam istana yang tentu saja mengagetkan Khalifah dan para menteri yang bersamanya. Kemudian Sang Khalifah mendatangi sumber keributan tersebut. Setelah sampai di tempat asal keributan tersebut, sang baginda bertanya kepada para hulubalang yang menyaksikan kejadian yang menyebabkan istirahat sang raja terusik. Sang Khalifah bertanya kepada salah seorang hulubalang istana”apakah gerangan yang terjadi wahai penjaga”?. “Ampun tuanku, jika tindakan kami lancang dan mengusik istirahat baginda. Namun orang gila inilah yang menyebabkan keributan ini terjadi. Dia begitu lancang dan berani duduk-duduk di atas kursi singgasana kebesaran baginda ketika para penduduk negeri tengah menunaikan Sholat Jum’at.”Jawab hulubalang. Namun sang baginda mencoba untuk bersikap bijaksana dalam hal ini. Dan bertanya langsung kepada pria yang dipanggil Si Majnun tersebut.”Hai salah seorang rakyatku, apakah benar yang dikatakan hulubalang ini?”. “Ampun Tuanku, sebenarnya hamba tidak bermaksud lancang untuk duduk di atas Singgasana anda. Saya hanyalah satu dari sekian banyak rakyat jelata yang telah terbiasa hidup sengsara. Saya mendengar dari orang-orang tentang betapa indahnya kehidupan di istana, sehingga saya memberanikan diri melakukan hal tersebut. Namun belum sampai beberapa menit saya duduk, saya dipergoki para hulubalang dan mereka menghajar saya beramai-ramai. Jika karena tindakan saya tersebut, saya dihajar oleh tangan-tangan manusia, lalu bagaimana dengan nasib baginda kelak di hadapan-Nya, yang telah duduk di atas singgasana tersebut selama bertahun-tahun?”Jawab Si Majnun panjang lebar. Demi mendengar jawaban tersebut, baginda terdiam dan menangis. Dia tersadar akan besarnya beban amanah yang ditanggungnya selama ini. Dan setelah peristiwa tersebut beliau terlihat lebih berhati-hati menjalankan semua tanggung jawabnya sebagai Khalifah.
Kawan kini coba kita bandingkan dengan ulah para wakil rakyat di negeri ini.