cicak-vs-buaya

cicak-vs-buaya

Beberapa pekan ini negeri terhebat kita digemparkan oleh sebuah kasus besar yang membuat seluruh liang dengar rakyat Indonesia semakin muak dengan kabar-kabar kelakuan para penguasa negeri ini. Kasus apalagi kalau bukan kasus terbongkarnya rekaman percakapan seorang pengusaha yang juga merupakan adik salah seorang koruptor plus buronan negara kelas wahid. Hampir semua media massa tanah air tak pernah absen meng-update berita mengenai kasus ini. Karena selain menarik dan fenomenal, kasus ini nampaknya merupakan ujung dari Domino Effect mengenai kasus kriminalisasi KPK yang melalui rekaman percakapan tersebut rakyat mengetahui muara jatuhnya domino terakhir dari kasus ini adalah beberapa pejabat tinggi republik morat-marit ini dari beberapa Instansi tinggi negara. Hingga Seduhan ini diracik, kasus ini nampaknya masih memiliki umur lama untuk terus ditelusuri dan diikuti kemana jatuhnya domino berikutnya dan siapa tokoh pesohor negeri ini yang masuk dalam daftar terlibat berikutnya.
Namun lepas dari kasus fenomenal itu, nampaknya ada satu kasus berat yang sempat mengemuka namun akhirnya tenggelam oleh kasus Kriminalisasi KPK tersebut (Entah karena kalah menarik atau mungkin sekadar pesanan pihak-pihak tertentu yang merasa dirugikan oleh kasus ini. Karena perlu juga diketahui bahwa pendapatan negara ini dari rokok juga tidak sedikit). Masih ingatkah kita dengan kasus ‘Hilangnya Ayat Tembakau’* yang sejatinya akan disahkan dalam Undang-Undang Kesehatan.
Seperti ramai diberitakan oleh media sebelum tenggelam oleh kasus KPK tersebut bahwa ayat tentang tembakau tersebut hilang di DPR. Dalam rapat paripurna tanggal 14 September 2009, DPR mengesahkan Pasal 113 UU Kesehatan yang berisi 3 ayat. Namun belakangan saat UU tersebut dikirim ke Presiden untuk ditandatangani, aneh bin ajaib pasal itu menyusut menjadi 2 pasal saja. Tetapi raibnya Pasal ke 2 itu ternyata tidak dibarengi oleh penghapusan pasal penjelas, akibatnya meski ayat ke 2 mengenai tembakau itu raib, penjelasan pasalnya masih tetap ada.
Ayat (ke 2) tersebut berbunyi, “Zat Adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau padat, cairan, dan gas yang bersifat adiktif yang penggunaanya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan atau masyarakat sekelilingnya.”
Dan industri asap laknat (baca : rokok) dicurigai ikut mendalangi kasus raibnya ayat yang mengatur bahaya tembakau tersebut, demikian kata Tulus Abadi, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Beliau meyakini kasus hilangnya ayat 2 pada pasal 113 yang mengatur zat adiktif , termasuk tembakau adalah kejahatan sistematis yang direncanakan. Beliau juga mengatakan adanya 2 hal yang menjadi indikasi campur tangan industri Asap Laknat tersebut. Sebelum UU disahkan, para pengusaha rokok menyatakan keberatan terhadap ayat tersebut.
Selain itu, secara Historis industri rokok juga pernah melakukan aksi serupa pada tahun 1992 yang terungkap melalui dokumen internal tentang korespondensi antara pihak British American Tobacco pusat dengan cabangnya di negeri ini. Isi dari dokumen itu (http://bat.library.uesf).edu, terutama dokumen nomor 304046112 dan 304044598) adalah kabar keberhasilan industri rokok melobi parlemen dan pemerintah yang tidak menyebut Nikotin sebagai zat adiktif yang harus diawasi penggunaanya. Demikian uraian Tulus selengkapnya.
Sebuah Perbandingan

Sebenarnya tidaklah terlalu mengagetkan kasus penghilangan ayat tembakau ini. Karena jangankan ayat tembakau-yang notabene sangat berarti bagi kemaslahatan
rakyat-, ayat suci pun telah berani dijamah oleh para oknum2 manusia yang ingin menukarkan kehidupan ukhrowi secara murah dengan dunia fana ini. “Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit…”(QS. At Taubah [9] : 9). Lihat saja Ulama (Rahib2) Bani Israil yang dalam Al Qur’an dikisahkan telah berani merobah-robah ayat-ayat suci mereka untuk kepentingan duniawi. Bahkan bukan hanya merubah, mereka juga berani menulis ayat-ayat tersebut (yang sesuai keinginan mereka) dan mengatakan bahwa ayat hasil karya mereka itu berasal dari Allah.
Dan penghilangan ayat-ayat Tuhan ini sejatinya bukan hanya dalam kasus kitab suci saja. Karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa Ayat-ayat Ilahi juga ada yang berupa ayat Kauniyah yang berupa Alam semesta beserta isinya yang merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah.
Bukankah telah betapa banyak kita saksikan bagaimana upaya penghilangan satu persatu ayat-ayat Tuhan di alam secara sistematis dan apik. Lihat saja ulah sebagian manusia yang telah berani mencukur gundul hutan tanpa ampun, mengeruk punggung gunung dengan sangat buas, menghisap (eksploitasi) lautan beserta kandungannya tanpa kenal batas. Membantai para fauna baik yang hampir punah dan yang segera menuju ke arah kepunahan dan berbagai tindakan perusakan wajah bumi lainnya yang sama saja dengan kita melakukan upaya penghilangan sedikit demi sedikit ayat-ayat tuhan di alam ini. Dan akibat dari semua itu adalah, sudah dapat kita rasakan bersama. Betapa bencana akibat ulah tangan kita telah begitu kerasan dan akrab menziarahi negeri kita.

Sebuah Konklusi

Dari semua hal tersebut dapat kita simpulkan bahwa di bumi ini di tiap negerinya yang memang memiliki kisah-kisah kebobrokannya masing-masing, ternyata telah ditakdirkan pada masing-masing negeri di seluruh punggung bumi itu bahwa akan selalu ada segolongan manusia yang berperan sebagai Public Enemies # 1 seperti yang dijelaskan oleh kitab suci, “Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri PENJAHAT-PENJAHAT yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. “ (QS. Al An’aam [6] :123).
Dan seperti yang telah kita ketahui bersama bagaimana upaya kriminalisasi KPK oleh Anggodo cs –yang saat ini seakan telah menjadi Public Enemie # 1 rakyat Indonesia- yang dalam bahasa Alqur’annya disebut sebagai sebuah upaya makar dan tipu daya telah tergagalkan oleh sebuah rekamannya yang fenomenal tersebut. Namun sayang masih banyak kasus makar dan tipu daya serupa atau bahkan yang lebih dahsyat yang sampai kini masih menjadi misteri. Seperti bagaimana dan siapa dalang di balik kasus raibnya ayat tembakau di atas dan berbagi tindakan penghilangan ayat Tuhan seperti illegal Logging, Illegal Fishing dsb
Namun yakinlah bahwa ada sebuah hari yang ditentukan yang mana di hari itu semua jawaban dari berbagai kasus itu akan diungkap. Entah hari itu terjadi ketika manusia masih menapaki bumi ini atau ketika manusia telah berada di sebuah hari terdahsyat di semesta ini (Yaumil Hisab)
Dan yang pasti seperti apa yang telah dikabarkan oleh Alqur’an bahwa makar dan tipu daya tidak akan menimpa kecuali pada si pembuatnya. Seperti kasus Anggodo, kita tunggu saja siapa PENJAHAT-PENJAHAT TERBESAR negeri ini yang oleh tuan Presiden kita dijuluki sebagai Mafia Hukum dan Peradilan yang akan menanggung akibat dari makar mereka sendiri berikutnya. Kita Tunggu saja…!

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena

Sumber Racikan :
* Majalah Suara Hidayatullah Edisi 07 / XXII / Nopember 2009 / Dzulqodah 1430