Pahlawan

Pahlawan

Hari Pahlawan memang telah berakhir. Namun spirit hari perjuangan tersebut nampaknya masih patut kita resapi terus menerus tanpa dibatasi oleh hitungan waktu. Pahlawan, satu kata sakral yang mengandung tafsiran pemaknaan yang berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Namun kalu boleh jujur, secara tidak langsung sebagian besar dari kita memaknai pahlawan ternyata hanya sekedar dalam lingkup yang sangat sempit. Bahwa seorang pahlawan adalah mereka yang berjuang mengusir penjajah dengan cara mengangkat senjata, dan pahlawan –terlebih pahlawan Nasional-haruslah mereka-mereka yang sudah mati berkalang tanah. Gambaran pahlawan semacam ini memang telah diajarkan dan ditancapkan secara temurun di liang pikir kita selama bertahun-tahun bergelut dengan tumpukan buku sejarah sejak di bangku sekolah dasar hingga jenjang-jenjang berikutnya.
Sebuah pertanyaan nakal muncul dari benak ini, apakah mereka-mereka yang hidup di masa kini (Pasca Kemerdekaan) yang juga memiliki kontribusi besar terhadap bangsa, kemanusiaan dan bahkan agama tidak layak disebut sebagai pahlawan?
Tanpa menafikan jasa-jasa para pahlawan bangsa ini yang telah gugur, sebenarnya jika kita dapat memahami secara arif dan luas apa makna pahlawan sesungguhnya, tentunya kita akan dapat menghargai apa itu kemerdekaan dan apa itu Indonesia. Secara sederhana arti pahlawan adalah mereka yang berjasa dan memiliki kontribusi nyata bagi keberlangsungan kemerdekaan bangsa ini baik pra dan pasca kemerdekaan itu sendiri. Jika dahulu Sultan hasanuddin, Pangeran Diponegoro, Pattimura alias Ahmad Tulesy alias Mattulesy (Bukan Thomas Matulesy yang sebenarnya merupakan nama fiktif dalam upaya pembengkokan sejarah) berjuang melawan kesewenang-wenangan penjajah meskipun waktu itu sebenarnya mereka tidak berjuang untuk Indonesia tetapi untuk tanah tempat mereka berpijak saat itu, Hasanuddin berjuang untuk membela tanah kebanggaannya Goa (Makassar), Pattimura untuk mollucas alias Maluku, Diponegoro untuk tanah kehormatan leluhurnya Jawa, Cut Nyak Dien untuk tanah Rencong Aceh dan mereka para pahlawan masa lampau yang berjuang di atas tanah mereka berpijak masing-masing kini dianggap sebagai pahlawan nasional, padahal semasa mereka berjuang negara Indonesia masih belum ada, lantas bukankah tidak salah jika kita menyebut mereka-mereka yang saat ini memiliki jasa dan kontribusi nyata bagi bangsa ini meski dalam lingkup terkecil seperti mendedikasikan diri mereka untuk mendidik anak-anak jalanan sekitar mereka, mereka yang merelakan dirinya berkorban untuk kebersihan lingkungan seperti Pak Sariban, ada pula di bidang pendidikan seperti Bu Muslimah “Laskar Pelangi”, (Alm.) Ustadz Rahmat Abdullah di bidang Tarbiyah Agama dan masih banyak lagi mereka para pahlawan masa kini yang berjuang tanpa pamrih di berbagai “ladang kebajikan (baca : profesi dan bidang) lain di negeri ini yang patut kita apresiasi dan hargai.

Sebuah Estafet Perjuangan

Lantas mengapa mereka para pahlawan nasional yang sebenarnya berjuang untuk tanah leluhur mereka masing-masing mendapat gelar pahlawan nasional ? jawabannya adalah mereka memang layak mendapatkannya karena semangat patriotisme mereka pada kala itu sungguh dapat ditularkan kepada generasi penerus republik yang bernama Indonesia ini bahwa untuk mengatakan bahwa kita telah memiliki tanah tumpah darah adalah sebuah harga mahal perjuangan yang dimulai dari masa leluhur kita dahulu dan akan terus dilanjutkan oleh anak cucunya termasuk kita sekarang ini. Dengan kata lain pahlawan akan terus lahir di tiap negara di bumi ini dari masa ke masa baik saat pra kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan. Dan bukankah negeri (tanah leluhur masing-masing) para pahlawan nasional tersebut kini menjadi tanah kita, tanah Indonesia. Jadi dapat dikatakan bahwa para leluhur kita tersebut telah memperjuangkan cikal bakal tanah atau bumi yang akan menjadi wilayah Indonesia di kemudian hari. Merekalah yang berjasa melahirkan embrio tanah pertiwi yang bernama Indonesia ini.
Dan tongkat estafet perjuangan itu belum berakhir dan akan terus bergulir sampai kapanpun. Dan kitalah para generasi muda yang yang telah menerima tongkat estafet itu dari tangan Pangeran Diponegoro, Hasanuddin, dan para leluhur kita yang lain untuk sebisa mungkin tetap mempertahankan Indonesia tetap ada hingga entah sampai kapan. Karena kitalah kini yang bertanggung jawab atas nasib Indonesia, apakah akan terus ada hingga selamanya atau suatu saat nama Indonesia akan terhapus dari peta dunia dan menjadi sebuah negeri dengan nama lain, entahlah.
Yang jelas, yang dapat memperbaiki dan mempertahankan keberlangsungan negeri ini adalah mereka yang pantas disebut pahlawan. Dan ladang perjuangan para pahlawan itu tidak hanya sebatas di parlemen, bidang olahraga dan dunia Entertain yang glamour maupun bidang lain yang penuh sorotan publisitas semata. Namun ladang perjuangan itu juga terdapat di jalanan bagi pendidik anak jalanan, sawah bagi petani sang pahlawan penyedia nasi bagi seluruh rakyat , laut bagi para nelayan sang penyuplai lauk bagi rakyat Indonesia, pabrik bagi para buruh dan masih banyak lagi “ladang-ladang kebajikan” lain yang perlu digarap untuk memperbaiki bangsa ini yang jauh dari sorot kamera dan ketenaran.
Tak usah pamrih dan mengeluh bahwa karya nyata kita bagi bangsa ini seakan tidak dihargai di negeri sendiri. Kita contoh saja pahlawan kita dahulu yang berjuang tanpa embel-embel apapun semisal ingin dicap sebagai pahlawan nasional. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa elit-elit negeri ini tidak bisa menghargai jasa para pahlawannya yang padahal dalam jargon-jargon mereka selalu lantang bicara “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.”
Jangankan memberikan santunan bagi seluruh veteran perang dahulu secara merata dan layak, menghargai jasa para pahlawan devisa saja mereka tak mampu. Ironis, sebagai bangsa yang mengaku berpenduduk Muslim terbesar di planet ini yang notabene umat terbaik karena mengemban amanah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan kelak menjadi saksi bagi seluruh umat manusia di hari akhir (demikian Al Qur’an menjelaskan), kita masih harus belajar dari Filipina yang dalam hal penyambutan para Tenaga Kerjanya (yang baru pulang dari mengais rezki dan berjuang menambah devisa negara di negeri orang) selalu lebih meriah bak menyambut kedatangan pahlawan mereka. Bahkan semenjak di bandara tempat awal mereka menginjakkan kaki kembali di negeri mereka, telah terpampang dengan angkuh spanduk-spanduk bertuliskan “Welcome Heroes” dan sambutan langsung dari sang kepala negara. Jangan coba dibandingkan dengan negeri kita, sungguh jauh.
Yang jelas mulai saat ini marilah kita mengubah Mindset masing-masing bahwa apapun yang anda lakukan dan kerjakan di bidang (ladang kebajikan) apapun itu , yakinlah bahwa hal itu bermanfaat bagi bangsa ini dan percayalah bahwa masing-masing kita adalah pahlawan yang berjuang untuk memperbaiki bangsa ini. Dan tugas kita adalah melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk bangsa ini dan belajarlah menghargai sekecil apapun usaha dan hasil dari kebajikan-kebajikan tersebut. Dan tanamkanlah semangat bahwa “Sebaik-baik Manusia adalah manusia yang berguna bagi manusia yang lain.” (Al Hadis). Dan manusia terbaik itu adalah seorang pahlawan dalam arti yang sebenarnya . Dan pahlawan itu adalah anda, kita semua. Wallahu A’lam.

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena