Great Cat

Great Cat

Pernahkah Anda melihat seekor kucing yang sedang tertidur pulas, entah itu di emperan jalan, di teras rumah anda, di atas atap rumah, di bawah pohon atau dimanapun mereka tidur- bukankah kucing suka dan bisa tidur di mana saja sekehendaknya-. Pernahkah anda merasa iri dengan tingkah polah mereka tersebut. Di zaman yang serba susah, ekstrim dan amburadul dalam segala sisinya ini nampaknya mereka adalah satu dari sekian makhluk Tuhan yang paling beruntung menghadapi kehidupan ini. Lihatlah kepulasan tidurnya yang tanpa beban, mau kawin ya tinggal cari betinanya dan bebas melakukannya tanpa harus menikah terlebih dahulu dan tanpa pernah takut ada ancaman resiko penyakit mematikan semacam HIV, AIDS dan semacamnya apalagi khawatir dengan ancaman dosa. Pingin makan ya tinggal mencari dulu, baik itu dengan cara berburu makanan semacam tikus atau mengais sisa-sisa makanan di tempat-tempat sampah, mengeong pada manusia agar memberi sedikit makanan pada mereka, ataupun dengan cara mencuri makanan milik manusia yang lengah. Cara-cara demikian nyatanya halal bagi mereka, karena itulah bentuk Ikhtiar dan ke-Tawakall-an mereka dalam menjemput hak (rezeki) dari Tuhannya.
Dan ada sebuah kisah unik yang terjadi di Singapura beberapa bulan yang lalu. Kisah yang terjadi di Pelabuhan laut ini bermula ketika awak kapal yang sedang melabuhkan kapalnya di sebuah pelabuhan di salah satu negara Amerika Utara menemukan seekor kucing yang sedang kebingungan di kapal mereka. Awak Kapal ini tidak kalah bingungnya dengan sang kucing. Dalam benaknya dia bertanya-tanya darimana asal kucing ini. Setelah sejenak dia berfikir, dia sadar bahwa kucing tesebut berasal dari pelabuhan di Singapura yang mungkin sebelumnya sedang bermain-main dan tanpa sadar ikut berlayar melintasi benua (Dari Asia menuju Benua Amerika) bersama para awak kapal. Dan dapatkah anda tebak apa gerangan yang membuat kucing tersebut sedikit merasa takut dengan kejadian yang dialamainya tersebut. Dia –saya yakin betul- mungkin hanya takut kalau-kalau dia nyemplung ke laut, toh sudah kita mafhumi bahwa phobia terbesar kucing selain pada anjing adalah pada air. Dan dari kisah ini, enaknya menjadi kucing adalah dia tidak perlu takut dan bingung saat kakinya menginjak tanah amerika dia akan kesulitan dalam hal komunikasi. Bukankah Di seluruh jagad ini, bahasa kucing adalah sama. Dia tidak usah pakai bahasa Inggris maupun yang lainnya, cukup “Meong” atau jika di-Inggris-kan menjadi “Meow”. Dan nama panggilan sayang dan akrab untuknya tetap sama, “Pus” maupun “Pussy”. Betapa unik dan hebatnya “Skenario” Tuhan dalam masalah per-kucing-an ini.
Dan masih banyak lagi keunikan lain dari sisi kehidupan makhluk kesayangan sahabat karib Rasulullah yang banyak meriwayatkan hadis dari beliau, Abu Hurairah atau jika di-Indonesia-kan berarti Bapak Kucing -Beliau dijuluki demikian karena saking sayangnya dengan (anak) kucing-.
Namun dibalik segala “keistimewaan” yang mereka miliki tersebut ternyata ada juga beberapa permasalahan tidak mengenakkan yang kerap mereka alami. Ambil saja contoh di sekitar kita, jika malam saat anda sedang tertidur pulas tiba-tiba dari arah atap atau dari dapur anda dengar suara-suara berisik, pasti otak anda spontan memberikan vonis bahwa hanya ada dua tersangka utama yang menyebabkan keberisikan itu semua. Kalau bukan maling pasti kucing. Anda tentu masih ingat salah satu scene dalam film Warkop DKI (Dono cs) yang mempresentasikan kasus ini. Dalam scene tersebut dikisahkan ketika malam saat sang tuan rumah sedang berada di kamar tidurnya, terdengar suara berisik – seingat saya ada barang yang terjatuh- dari arah dapur. Nah, mendengar itu si empunya rumah kontan bertanya dengan suara yang keras, “Hei, itu maling apa kucing ?”. Dan si Dono yang merasa ketakutan langsung menimpalinya dengan spontan, “Kuuciing”. Sejenak sang tuan rumah lega karena anggapannya bahwa sumber kegaduhan tersebut didalangi oleh kucing, namun tak lama kemudian dia tersadar, “Lho, kucing kok bisa ngomong!”. Dan Dono yang makin kalut pun menyahutinya lagi, “Eh, meoong!”.
Kisah dalam film fenomenal tersebut setidaknya sedikit banyak telah menggambarkan sebuah realita di masyarakat kita bahwa kucing adalah salah satu makhluk yang mereka anggap patut dijadikan sasaran tuduhan dalam kasus seperti ini. Inilah nampaknya bentuk diskriminasi yang hingga kini dialami bangsa kucing yang dilakukan oleh manusia. Satu pertanyaan “nakal “muncul dari benak saya, apakah kucing juga tidak layak mendapatkan perlakuan hukum paling dasar seperti Praduga Tak Bersalah sebelum manusia menjatuhkan vonis berupa ke-Su’udzon-an bahwa kucing adalah satu dari dua tersangka utama dalam kasus seperti di atas. Ah, entahlah mungkin sudah menjadi takdir bangsa kucing mengalami perlakuan yang sedemikian. Namun untungnya kucing adalah makhluk Tuhan yang pemaaf, setiap kali disakiti oleh kita (manusia) baik secara Verbal maupun Non Verbal nampaknya mereka selalu saja dapat memaafkan kesewenang-wenangan dan kepongahan kita. Tapi entah juga dalam hati mereka. Apakah mereka memang benar ikhlas memaafkan kita atau masih juga sedikit mengutuk tindakan kita. Makhluk-makhluk Tuhan yang lain juga dapat merasa tersakiti “perasaannya” dan dapat mendo’akan kebaikan atau keburukan bagi seorang manusia yang tergantung bagaimana tindakan manusia tersebut padanya. Baikkah atau burukkah. Demikian yang kuketahui dari mengajiku.
Karena meskipun kucing hanya sekedar binatang, nampaknya kita harus hati-hati dalam memperlakukannya. Karena segala tindakan kita meski sebesar biji sawi pun akan tetap tercatat dan akan mendapatkan balasan yang setimpal dan bahkan bisa lebih dari yang kita bayangkan. Seperti yang telah masyhur kita dengar tentang kisah dari wanita tua Bani Israel dahulu yang masuk neraka hanya gara-gara suka menyiksa kucing. Menyiksa bukan hanya dengan memukulnya, namun bisa juga dengan cara mengurungnya tanpa memberinya makan atau mencegah haknya untuk dapat berkeliaran mencari makan sendiri. Seperti yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Umar R.A bahwasannya Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ada seorang perempuan yang masuk neraka disebabkan karena masalah kucing, dimana ia mengurungnya sampai kucing itu mati. Ia tidak memberi makan dan minum kepada kucing itu padahal ia mengekangnya dan ia tidak mau melepaskan kucing itu agar dapat mencari makan (yang berupa) serangga atau binatang – binatang kecil lainnya di bumi ini.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Nah loh, dengan demikian sudah sepatutnya kita juga mempunyai adab kesopanan dan penghormatan selayaknya pada makhluk Tuhan yang lain. Entah itu tumbuhan ataupun binatang. Termasuk juga Kucing.
Salam, “Meeeoww”.

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena