Salibis_Projects

Salibis_Projects


Syahdan, suatu ketika Syetan terlihat bergegas menuju ke sebuah tempat. Dan selidik punya selidik ternyata dia sampai di sebuah rumah seorang lelaki yang sedang pulas terlelap. Tanpa banyak kata, dia bangunkan si empunya rumah tersebut, dan selang beberapa detik kemudian rumah tersebut tiba-tiba roboh menghujam tanah. Sang tuan rumah yang masih dalam keadaan setengah bingung karena dibangunkan dan dievakuasi secara mendadak segera berusaha menguasai kesadaran dirinya. Lelaki itu sontak bertanya, “Siapakah engkau dan mengapa kau menyelamatkan nyawaku?” ujar lelaki itu dengan nada heran.
Si Setan diam sesaat, ditatapnya tajam lelaki di depannya yang tiap hari selalu melaknatnya tak kurang 1000 kali dengan lisannya dan kemudian dia berkata, “Hai Fulan, aku adalah setan, dan aku baru saja menyelamatkan nyawamu.” Jawabnya lantang.
Serta merta nampak jelas keheranan terpahat di wajah si lelaki tadi. Dalam benaknya muncul pertanyaan mengenai motif apa gerangan yang ada di balik alasan sang durjana tersebut menyelamatkan dirinya dari musibah itu. Bukankah dia adalah makhluk terjahat yang justru menginginkan kecelakaan selalu menimpa anak Adam. Ah, apakah dia telah berubah dan bertobat ke jalan cahaya, demikian pikirnya melayang-layang di angkasa ketidak pastian.
Belum tuntas segala tanya hati dalam diri lelaki itu, tiba-tiba setan menimpalinya seolah mengetahui gemericik hati si lelaki. “Aku menyelamatkanmu bukan karena motif apapun, namun aku melakukannya hanya karena aku tak ingin melihat dosa-dosa dan kesalahanmu diampuni di sisi Allah lantaran musibah yang hampir mencelakakanmu tadi. Karena akupun telah mendengar bahwa nabimu yang dimuliakan oleh seluruh semesta dan yang sangat kubenci tersebut pernah bersabda bahwa seseorang yang meninggal karena sakit perut, sakit yang menahun, tertimpa bangunan dan karena tenggelam adalah dicatat di sisi-Nya sebagai mati Syahid. Dan aku tidak ingin derajat syahid itu diperolehmu. Karena itulah aku menyelamatkanmu dari bencana tadi.
Maka sadarlah si lelaki bahwa setan tetaplah setan. Makhluk paling durjana di semesta tersebut ternyata dapat pula mengkamuflasekan kebusukan niatnya dalam kemasan yang mungkin secara kasat mata terlihat oleh manusia sebagai sebuah bentuk kebaikan dan kebajikan.
Dan disadari atau tidak, cara setan dalam kisah yang dituturkan oleh sang Hujjatul Islam, Al Imam Al Ghazali tersebut kini telah pula dipraktekan oleh sebagian komplotannya baik dari kalangan jin dan manusia. Dan salah satu contoh teraktual dan yang sering (Hampir Pasti selalu) dijadikan ladang praktek Satanic Way tersebut adalah kala bencana terjadi. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap kali bencana terjadi, proses Penyelamatan Domba (Istilah kaum Salibis yang mengatakan bahwa manusia yang memeluk keyakinan yang berbeda dengan mereka adalah para domba yang tersesat yang harus sesegera mungkin dimasukkan ke dalam kawanan gembalaan mereka). – Bentuk Eufimisme untuk menyebut Kristenisasi -.
Kisah penyelamatan-domba paling gres terjadi baru-baru ini di Sumatera Barat. Anda tentu masih ingat dengan gempa Sumbar 7,9 skala Richter pada 30 September 2009 lalu. Sebuah berita investigasi yang diturunkan oleh beberapa media Islam* yang bersumber dari penemuan bukti dan fakta-fakta yang valid dari para relawan dan aktivis (Muslim) yang terjun ke medan bencana menyebutkan bahwa telah terjadi upaya “penyelamatan-domba” (kristenisasi) di beberapa wilayah bencana di Sumbar. Salah satu buktinya adalah ditemukannya (berhasil disita) beberapa injil, komik berbau kristenisasi dan barang bukti lain. Bukti penguat adalah ketika anda mampir ke dunia maya, maka cobalah anda ketikkan “Kristenisasi di Sumbar” pada kolom search (cari) di situs video http://www.youtube.com. Di sana kita akan menemukan sebuah rekaman video amatir yang berdurasi 4:02 menit yang menggambarkan kegiatan missionaris asing berkedok pembagian bantuan. Video tersebut berhasil direkam dengan handphone oleh surya, warga Padang Pariaman yang menyaksikan secara langsung kejadian tersebut pada 27 Oktober lalu di daerah Patamuan, Padang Alai, Kabupaten Padang Pariaman.
Di depan sekitar dua puluhan warga yang sebagiannya ibu-ibu berjilbab dan berkerudung, orang itu berkata, “…beberapa di antara kami datang dari seluruh dunia. Tetapi Bible mengatakan, karena Tuhan sangat mengasihi dunia, hingga dia mengaruniakan anaknya untuk dunia. Barangsiapa yang percaya padanya (anak tuhan) tidak akan binasa, tapi akan hidup abadi. Dan namanya adalah Yesus.”
Salah seorang penginjil juga mengajak warga garapannya untuk bernyanyi dengan iringan gitar dengan lirik-lirik lagu yang sudah dapat kita tebak bersama temanya.
Belakangan diketahui bahwa penyebar injil di sejumlah daerah di Sumbar itu bernama Rudi Gonzales dan Steve yang merupakan warga California Amerika Serikat. Dan ada juga warga pribumi asal Jakarta yang bernama (inisial D) yang bertindak sebagai pemandu (guide) para penginjil tersebut.
Sebenarnya bukanlah menjadi masalah jika para relawan asing (maupun lokal) masuk ke daerah-daerah bencana di Indonesia dengan semangat dan nafas kemanusiaan. Karena tidak dapat dipungkiri bantuan mereka baik itu dana, tenaga, dan peralatan-peralatan penunjang yang mereka miliki tentunya juga sangat dihargai oleh masyarakat Indonesia. Namun yang menjadi permasalahan serius adalah ketika bantuan kemanusian itu ternyata hanyalah sebuah kedok untuk menutupi misi “jahat” mereka untuk mengguncangkan akidah para muslim yang kebetulan menjadi korban terbesar (Secara Muslim adalah mayoritas di negeri ini) dari dahsatnya goncangan bencana alam.
Jika upaya penyelamatan yang mereka lakukan dalam musibah gempa bumi di Sumbar hanya untuk menjadikan korban selamatnya sebagai “domba-domba” mereka, maka upaya yang terlihat bagai kebaikan dan kebajikan ini tidak jauh berbeda dengan yang pernah dilakukan oleh setan pada lelaki yang setiap harinya melaknatinya 1000 kali pada kisah yang dinukil dari tuturan Al Ghazali di awal seduhan musyafucino ini (di atas). Mereka sama-sama menyelamatkan nyawa korbannya namun dibalik itu ternyata ada tujuan besar, yaitu agar sang korban tidak mendapat derajat syahid pada kisah setan di atas dan agar sang korban berpindah akidah menjadi penganut keyakinan mereka pada kisah pemurtadan di Sumbar.
Sekarang marilah kita bertanya pada masing – masing hati kita yang terdalam. Lebih baik manakah, mati tertimpa reruntuhan bangunan pada bencana seperti gempa bumi namun berpeluang mendapat derajat syahid atau memilih selamat dengan resiko menanggalkan akidah (Islam) yang merupakan hal paling penting bagi kita di dunia ini dan bergabung menjadi domba-domba gembalaan mereka yang baru ?
Yang jelas, kasus pemurtadan yang sebenarnya selalu terjadi berulang-ulang seperti ini sudah pasti menuntut kewaspadaan ekstra bagi keluarga Muslim seluruh dunia agar tiada jemu untuk selalu menolong saudara-saudaranya dalam upaya mempertahankan akidah Islamiyah nya –bukankah semua Muslim bersaudara dan satu bagaikan satu tubuh- baik melalui tenaga, pikiran dan sumbangan dana bantuan agar memperkecil peluang para pencari domba-domba tersebut untuk beraksi. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu kelemahan umat Islam adalah bakhil alias pelit pada saudaranya sendiri, sehingga tidak sedikit saudara muslim kita (terutama para fakir) yang dengan sangat terpaksa menanggalkan akidahnya karena merasa saudaranya (Muslim lain) sudah tidak peduli padanya. Dan inilah salah satu kunci sukses para pencari domba-domba tersebut dalam membiakkan jumlah domba-domba gembalaannya melalui iming-iming dana bantuan mereka yang memang seakan tiada habisnya mengalir untuk proyek-proyek kristenisasi.
Hal ini sebenarnya telah jauh-jauh hari diperingatkan dalam Al Qur’an bahwa : “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, MAKA ALLAH TIDAK LAGI MENJADI PELINDUNG DAN PENOLONG BAGIMU.” (QS. Al Baqorah [02] : 120)
Sebagai penutup seduhan ini ada baiknya kita mengingat secuil lirik syair Ebiet G. Ade pada lagu Untuk Kita Renungkan yang berbunyi “…dalam kekalutan masih banyak tangan yang tega berbuat nista”. Dalam situasi kalut yang terjadi pada musibah bencana alam (gempa bumi misalnya) ternyata memang masih ada tangan-tangan yang tega berbuat nista. Dan kenistaan apa lagi yang lebih besar selain bujukan agar menanggalkan akidah dan menjadi bagian dari mereka yang menyekutukan Allah.
So, sudikah anda menjadi domba-domba gembalaan mereka ???
Wallahu A’lam.

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena

Note :
* Majalah Suara Hidayatullah Edisi 08 / XXII / Desember 2009