pandaan map

pandaan map

Jika anda kebetulan lewat sekitaran Pandaan, baik dari arah Malang maupun Surabaya, mungkin beberapa minggu ini akan banyak anda jumpai beberapa baliho besar yang bertuliskan “Pesta Rakyat 2009 (Expo)” di setiap sudut kota industri yang mungil ini. Expo yang digelar sekira 2 minggu-an tersebut diadakan di sebuah lapangan bola yang tidak terlalu besar. Tepatnya di depan Pom bensin Kutorejo di jalan Pandaan – Bangil yang merupakan jalur alternatif utama yang menghubungkan Pandaan dan jalur Pantura.
Pesta rakyat yang beberapa tahun ini rutin digelar di wilayah kabupaten pasuruan ini nampaknya menjadi salah satu pilihan liburan bareng para keluarga di sekitaran pandaan. Di tengah kondisi ekonomi dan berbagai permasalahan yang kian ruwet di negara ini, nampaknya pesta-pesta rakyat seperti ini dapat menjadi obat penawar penat sementara di akhir tahun. Toh bukan hanya kalangan atas yang butuh pesta. Rakyat kecil pun butuh kan??.
Namun di balik kemeriahan dan kesumringahan tawa para pengunjungnya (sebagian masyarakat Pandaan) ternyata ada sisi minus dari pagelaran expo atau pesta rakyat ini. Pandaan yang biasanya di akhir tahun seperti pada bulan Desember ini selalu mendapat limpahan hujan yang sungguh sangat dinanti oleh para “pengenyang perut rakyat” (Kaum Petani) malah seakan enggan disambangi air langit tersebut. Menurut sebagian orang, hal ini karena efek dari diadakannya expo tersebut. Karena bukan rahasia lagi jika jasa para pawang hujan hampir selalu dimanfaatkan pada acara-acara seperti ini.
Pendapat ini boleh saja tidak dianggap serius, namun nampaknya opini sebagian besar petani tersebut juga patut dihargai. Akhir-akhir ini hampir setiap waktu ketika hujan turun (kemungkinan turun hujan sudah 99 %) di wilayah Pandaan, ternyata selalu gagal atau paling mentok hanya menjadi hujan kecil dan rintik-rintik (meski terkadang juga menjadi hujan deras). Namun presentase perbandingan antara berhasil hujan dan gagalnya lebih gede pada gagalnya. Tak jarang di atas (langit) pandaan terlihat awan Cumolonimbus yang pekat nan seram yang meraksasai angkasa yang merupakan tanda akan datangnya hujan lebat yang biasanya dibumbui dengan pesta geledhek ternyata gagal menjadi hujan karena secara perlahan awan hitam itu bergeser menjauhi wilayah Pandaan- minimal menjauhi sekitaran lokasi expo- nampaknya Tuhan masih mengizinkan hujan untuk bersabar lebih lama “memenuhi” titah para penerang hujan tersebut.
Dan dapat ditebak akibat dari menyingkirnya air langit tersebut bagi para petani. Mereka (termasuk emak-bapakku) mengeluhkan kondisi ini karena air untuk mengairi sawah mereka pada masa tanam padi sangat minim. Sungai yang merupakan andalan mereka dalam kegiatan irigasi sungguh tidak dapat memenuhi kebutuhan pengairan sawah mereka karena debit airnya minim untuk ukuran persawahan beberapa kelurahan di sebagian wilayah pandaan. Dan satu-satunya yang dapat menambah volume debit air sungai tersebut adalah hujan. Maka dengan adanya upaya pengalihan air hujan ini (demikian pendapat sebagian besar petani) para kaum pengenyang perut rakyat tersebut harus sedikit lebih bersabar untuk proses penanaman tanaman padi mereka. Mereka harus mengalah pada sebagian saudara-saudaranya yang ingin menikmati berbagai kemeriahan yang disuguhkan dalam pesta rakyat yang ternyata tidak hanya menciptakan kebahagiaan layaknya kemeriahan pesta, karena ada pula sebagian rakyat yang lain yang merasa “sedih” dengan nasib ladang kehidupan mereka (sawah mereka).
Pesta Rakyat yang ternyata menguntungkan sebagian dan merugikan sebagian komponen rakyat yang lain ini menandakan bahwa yang bisa adil memang hanyalah Tuhan. Karena jika hujan turun terlalu sering ada pula yang dirugikan seperti saudara-saudara kita tukang krupuk dan beberapa profesi lain yang harus sebisa mungkin menghindari hujan. Dan juga sebaliknya jika panas kemarau menyambangi terus – menerus kasihan juga saudara-saudara kita yang lain yang menggantungkan “kehidupannya” dari manfaat hujan seperti kaum tani, para pedagang jas hujan, anak-anak kecil yang menawarkan jasa ojek payung seperti di kota-kota dll. Jika pengaturan waktu antara jadwal hujan dan kemarau ini dikelola sendiri oleh manusia, dapat kita bayangkan bagaimana akibatnya. Hanya Allah lah Yang Maha Adil dan Bijaksana yang mampu me-manage semua itu bukan hanya untuk manusia namun juga untuk semua makhluknya. Karena ternyata yang merindui hujan bukan hanya petani saja, para katak, tumbuhan dan semua mereka yang memanfaatkan hujan (termasuk para pencari inspirasi seperti musisi, cerpenis, novelis dll) juga tentu sangat berharap air langit tersebut segera menziarahi bumi mereka.
Dari semua fenomena ini dapat disimpulkan bahwa hujan, ternyata menjadi sebuah Expo atau pesta rakyat tersendiri bagi sebagian masyarakat yang lain -seperti bagi para kaum pengenyang perut negeri ini (Petani). –
Wallahu a’lam bilsshawab.

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena