Resolusi 2010

Resolusi 2010

Mendekati detik-detik peringatan tahun baru seperti ini, banyak kita dengar rencana-rencana matang para penduduk bumi yang telah menyusun planning masing-masing guna menyambut datangnya malam peralihan tahun. Dari obrolan-obrolan di radio, televisi maupun perbincangan secara langsung, kita dapat melihat betapa kesuka riaan terpancar jelas dari raut muka mereka kala menceritakan hal-hal apa saja yang akan mereka lakukan di malam “Sakral” itu. Mulai dari rencana mengadakan acara bakar jagung, barbeque-an, tiup terompet sambil pawai keliling kota, menyalakan kembang api, nonton film-film terbaru bareng sahabat atau keluarga di malam “suci” itu, hingga bepergian ke tempat-tempat dimana acara perayaan malam tahun baru diselenggarakan secara meriah. Nampaknya malam itu memang akan sangat meriah dirayakan di seluruh dunia yang puncak perayaannya adalah menyaksikan munculnya matahari pertama di tahun baru.
Fatwa para Ulama kepada muda-mudi Muslim untuk tidak ikut-ikutan merayakan malam “suci” itu dengan hura-hura selayak kaum non muslim yang merayakannya dengan acara tiup terompet dan penyalaan kembang api serta bercampur bebas antar mahram pun nampaknya sudah jadi himbauan yang usang belaka. Sebenarnya inisiatif para Wali Allah itu sangat baik bagi para generasi muda Islam agar mereka dapat menunjukkan bahwa sebagai seorang Muslim mereka juga memiliki jati diri sendiri tanpa harus lata meniru budaya kaum-kaum liyan tersebut. Karena Nabi mereka sendiri telah bersabda bahwa siapa yang menyerupai suatu kaum maka mereka adalah bagian dari kaum tersebut. Namun inilah hidup. Hidup memang adalah sebuah pilihan dan menjadi hak tiap individu pula untuk memilih yang mereka sukai, toh pada akhirnya segala akibat ditanggung manusia masing-masing karena sudah menjadi Sunatullah bahwa di semesta ini tidak ada yang namanya ketidakadilan besar yang berupa penebusan dosa oleh seorang anak manusia untuk seluruh anak manusia yang lain.
Namun pernahkah kita sebentar saja berpikir jernih bahwa di setiap pergantian tahun baru, bukankah jatah umur kita juga makin berkurang ? dan pernahkah kita memikirkan sejauh mana grafik perkembangan kedewasaan dan kebijaksanaan kita bertambah di tiap peralihan masa baik itu detik, hari, bulan, maupun tahun yang baru. Atau jangan-jangan di tiap pergantian tahun, kita tetap menjadi manusia yang sedemikian saja, bahkan sepertinya kita yang semakin tua ini menjadi manusia yang semakin tidak bertambah kedewasaan pada diri kita dan sebaliknya sifat kekanakanlah yang kian kita biakkan. Seperti ungkapan bijak sang penutur kejernihan, Gedhe Prama yang pernah berujar, “Setiap kali hari baru datang, banyak yang ingat membangunkan badan, sedikit yang ingat membangunkan jiwa. Setiap bulan baru berkunjung, banyak yang ingat memegang kantong, sedikit yang ingat memegang nurani. Setiap tahun baru datang, banyak yang bertanya,”Berapa umur saya sekarang?”. Sedikit yang bertanya, “Seberapa bijaksana saya sekarang?”.
Dan sejauh mana keberdayaan kita sebagai seorang manusia telah didayagunakan semaksimal mungkin kita bisa. Telah tercapaikah target-target kita di tahun yang lalu dalam hal kebajikan bagi sesama di planet ini. Di tahun yang baru ini sudah selayaknya kita mengevaluasi kerja-kerja kebajikan kita selama ini dan berintrospeksi diri ke dalam diri masing-masing. Sebenarnya nabi kita yang mulia telah mengajarkan bahwa hidup adalah perubahan, pergerakan dan perjuangan dari satu detik ke detik yang lain. Sehingga muhasabah (introspeksi dan evaluasi diri) harus dilakukan di tiap hari tanpa harus menanti datangnya tahun yang baru. Tahun baru hanyalah sebuah momen belaka yang nampaknya hanya bersifat seremonial yang tuna makna bagi sebagian manusia. Tahun baru bagi kebanyakan kita nampaknya juga tak lebih dari hura-hura dan kesenangan semata.
Agar di kehidupan pada tahun baru mendatang kita sebagai manusia tidak merasakan kenihilan makna hidup. Sudah sepatutnyalah kita mengubah cara berfikir kita selama ini. Jadikanlah tiap detik adalah hidup baru tanpa menanti tahun baru mendatangi kita terlebih dahulu.
Dan seperti kata Nabi yang Mulia, “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia adalah orang yang merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka dialah orang-orang yang celaka.” (Al Hadis). Semoga dalam kehidupan di tahun yang baru yang segera kita songsong, kita masuk dalam golongan orang-orang yang beruntung seperti yang dijelaskan dalam hadis tersebut. Dan inilah (Hadis di atas) petunjuk yang terlihat sederhana namun besar guna yang sudah sepatutnya menjadi acuan tiap manusia dalam menyusun Resolusi 2010 mereka. Semoga!!!
Wallahu A’lam.

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena