Tersiar lagi berita haru
Kabarnya perang memasuki babak baru
Tak dihirau sudah nasihat para Penyeru
Kini yang bicara hanyalah gagah peluru
Kemana tawa anakku
Tanya seorang Ibu, pilu
Kemana senyum Bapakku
Tanya seorang anak, lugu
Dimana sisa nuranimu
Tanya seorang Bijak, sendu
Dimana, kemana, dan sejuta lagi gerutu
Menyesaki bumi yang kian kelabu
Oh…berhentilah saudaraku
Kita terlalu berharga untuk diadu
Bumi terlalu jengah akan seteru
Tlah lenyapkah Hikayat damai dulu-dulu
Sudah hilangkah di hatimu nikmat rindu-rindu
Mengapa kau tukar madu dengan empedu
Kenapa kau iris ini syahdu dengan sembilu
Sungguh kini Iblis bertepuk riuh
Melihat anak Adam saling berbunuh
Pun tawanya kian bergemuruh
Menyaksikan elok mata Bidadari yang berubah sayu
Karena mengibai nurani kita yang nyata tlah layu