Penjara Mewah Artalyta

Penjara Mewah Artalyta


Senin (11/01/10), mendadak Tim Pemberantasan Mafia hukum dibawah komando Kementrian Hukum dan HAM melakukan Sidak (Inspeksi Mendadak) ke Lapas Perempuan Rutan Pondok Bambu Jakarta. Guna dari tindakan itu adalah untuk mengetahui sejauh mana kelayakan tempat berdiam (keadaan Bui/Sel) para tahanan wanita di Lembaga Pemasyarakatan itu. Nah, dalam Sidak yang memang tak pernah diduga sebelumnya itu, ada sebuah kejadian menarik yang selanjutnya akan membuka aib baru dari lembaga penegakan hukum di negeri kita.

Saat para petugas terkait dan beberapa rombongan wartawan masuk dan melihat-lihat keadaan sel para tahanan, betapa terkejutnya mereka, kita, dan seluruh rakyat negeri ini kala melihat keadaan sel seorang tahanan kasus penyuapan Jaksa yang kurang agung dulu (yang berinisial UTG). Di sel tersebut ternyata ditemukan sesuatu yang jelas sangat mencengangkan publik. Bagaimana tidak, di dalam bui yang dalam angan dan benak kita merupakan tempat yang tergambar sangat sempit, pengap dan dalam satu sel tentunya ditempati oleh beberapa tahanan yang saling berdesakan dan berbagai gambaran keterbatasan fasilitas lain yang tidak akan kita dapatkan melainkan dalam kehidupan normal di luar penjara, ternyata kita temukan sebuah ruangan yang dilabeli bui namun fasilitasnya selayak hotel bintang 5.

Ya, di kamar Arthaliyta Suryani (Ayin) lah, fasilitas-fasilitas mewah itu dapat kita temukan. Mulai dari seperangkat Home Theater dengan TV Plasma, AC, Fasilitas MCK yang wah, kasur Springbed, dan ada juga seperangkat alat perawatan kecantikan yang lengkap (Ayin sendiri sedang dalam keadaan Facial/peeling waktu petugas Inspeksi datang ke tempatnya) dan beberapa fasilitas istimewa yang lain seperti disediakannya pembantu untuknya dan mobil yang dapat digunakan sesuai keperluan.

Sebenarnya bukan hanya di sel wanita suap itu kemewahan-kemewahan itu ditemukan, setidaknya ada 2 sel lagi yang hampir memiliki hal yang sama. Hal menarik yang dapat dicermati dari kasus yang kian menambah borok lembaga penegakan hukum kita ini, diantaranya adalah adanya sebuah ironi besar dimana di negara hukum ini yang dalam jargon kesohornya selalu berkoar hukum harus ditegakkan sama rata tanpa pandang bulu ternyata hanyalah sebuah bualan birokrasi. Dari televisi dapat kita lihat sendiri bagaimana sebuah diskriminasi sosial masih dipelihara dan bahkan mungkin kian dibiakkan di negeri ini, contoh konkretnya adalah perbedaan yang mencolok antara keadaan bui para mafia hukum (pembesar-pembesar negeri) dan bui para kriminil kelas kacangan. Di dalam bui para kriminil jelata dapat kita lihat bahwa memang sedemikianlah keadaan sel tahanan yang sebenarnya. Yaitu sebuah tempat yang sempit nan pengap yang dihuni secara berdesakkan oleh beberapa tahanan yang dapat memberikan efek jera bagi para penghuninya agar tidak memiliki keinginan kembali menghuni tempat itu.

Jika saja keadaan bui didesain seperti yang dimiliki oleh para mafia hukum dan para koruptor tersebut , maka boleh jadi bagi sebagian tunawisma atau para “calon” penjahat, bui dapat dipandang sebagai sebuah alternatif hunian baru yang patut dipertimbangkan di tengah mahalnya harga sebuah hunian -bahkan yang sederhana sekalipun- di era krisis seperti saat ini. Toh hidup di jalanan bagi mereka tak akan pernah menjanjikan fasilitas kenyamanan hidup seperti yang didapat para “Pembeli Hukum” di dalam ruang tahanan mereka yang laksana hotel bintang 5 itu.

Satu hal yang juga menarik untuk dicerna adalah pernyataan pers dari salah seorang dari 3 oknum “Pembeli Hukum” yang tengah disorot publik tersebut. Saat itu dia bilang dengan nada meyakinkan (dan agak emosi) yang diiringi pula dengan sedikit bulir-bulir air mata. Beberapa potong kalimatnya kurang lebih demikian, “Kalau mau cari mafia hukum, cari di luar sana. Jangan obok-obok kami lagi yang sudah terzhalimi. Karena kami di sini juga merupakan korban. Kami di sini sudah bagaikan seekor burung yang patah sayapnya yang tidak bisa kemana-mana. Toh tidak ada seorangpun yang pernah berkeinginan untuk masuk penjara, termasuk kami. Maka bagi anda-anda, berhati-hatilah, bisa saja anda nanti ketika di jalan menyenggol orang lalu anda masuk juga ke sini (penjara)!”

Yang membuat geli pikiran kita adalah ketika melihat betapa hebatnya mereka berkilah membela dan mengasihani keadaan diri. Padahal saat ini mereka jelas-jelas telah membuat sebagian besar masyarakat Indonesia geram. Dan lebih hebat lagi adalah ketika mereka menasihati kita agar berhati-hati biar nanti tidak mengalami nasib seperti mereka yang dijebloskan ke dalam bui karena hukum yang tak adil. Dalam benak nakal saya beranggapan bahwa, para penjahat kelas teri dan rakyat jelata yang kian tertekan hidupnya, mungkin masih lebih memilih ditangkap aparat dan masuk bui – namun dengan syarat keadaan selnya harus selayak yang dimiliki para mafia hukum tersebut – daripada hidup penuh ketidakadilan sosial dan keterbatasan fasilitas hidup di dunia bebas.

Sebuah Pelajaran

Di zaman Rasulullah SAW pernah terjadi sebuah kasus kejahatan yang menuntut sebuah putusan hukum yang harus memiliki nilai keadilan yang seimbang bagi kedua belah pihak. Saat itu yang jadi tersangka adalah seseorang yang berasal dari kalangan terpandang (memiliki kedudukan dan pangkat di masyarakat). Sebelum Qishas dilakukan oleh Rasulullah pada diri orang itu, salah seorang dari keluarga tersangka bergegas menemui Nabi untuk membujuk beliau agar meringankan hukuman bagi si tersangka dan sang utusan keluarga tersebut menjanjikan iming-iming harta asalkan hukuman itu batal dilaksanakan. Apa yang dilakukan nabi mengahadapi hal ini. Beliau dengan wajah memerah karena marah berdiri di hadapan khalayak dan berkata dengan lantang, “Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tanganNya. Jika saja Fatimah Binti Muhammad (Sang Belahan Jiwa Beliau) melakukan tindak pencurian, maka aku sendirilah yang akan memotong tangannya.” Belum reda amarah beliau, kemudian beliau berkata kembali,”Tahukah kalian apa yang menyebabkan kebinasaan bangsa-bangsa terdahulu sebelum kalian? Mereka dibinasakan oleh Allah karena mereka melakukan ketidakadilan bagi rakyatnya. Jika saja yang melakukan kejahatan adalah mereka yang berasal dari golongan berada, mereka tidak melaksanakan hukum bagi orang-orang tersebut. Dan sebaliknya jika yang melakukan tindak kejahatan berasal kaum (rakyat) kecil, maka mereka menegakkan hukum setegak-tegaknya atas orang-orang tersebut. Inilah yang menyebabkan bangsa-bangsa terdahulu sebelum kalian binasa.”

Sadarkah kita bahwa keadaan bangsa kita kini sudah mendekati –bahkan telah sama- dengan keadaan bangsa-bangsa terdahulu yang telah dibinasakan oleh Sang Penguasa Kehidupan tersebut. Hukum di negeri ini nyatanya hanya berlaku secara temporer. Ada kalanya hukum tersebut dibuat gurauan saat dihadapkan pada para penguasa atau mereka yang berasal dari golongan yang berada. Dan hukum akan kembali ditegakkan saat si korban hukum yang tengah duduk di kursi pesakitan adalah mereka yang berasal dari kalangan bawah, rakyat jelata yang tidak memiliki status dan strata Sosial apapun di masyarakat. Seperti yang dialami oleh bapak Lanjar Sriyanto di Karang Anyar yang harus menjalani sidang karena didakwa menyebabkan istrinya meninggal akibat kelalaiannya dalam berkendara. Sedangkan si tersangka utama yang menabrak dan mengakibatkan istri Pak Lanjar tewas tidak dijerat hukum apapun alias bebas segala tuduhan. Pasalnya dia juga seorang oknum anggota Polisi yang konon berfungsi menegakkan hukum di masyarakat.

Ah, nampaknya jargon dalam UUD kita yang berbunyi SEMUA WARGA NEGARA BERKEDUDUKAN SAMA DI DALAM HUKUM (Pasal 27 ayat 1) adalah sesuatu yang hampir bernilai nisbi. Karena dalam realita yang kita saksikan dengan mata kepala, telinga, dan hati kita sendiri, jargon itu disadari atau tidak telah berubah (diamandemen) menjadi SEMUA WARGA NEGARA SAMA KEDUDUKANNYA DALAM HUKUM NAMUN TIDAK SAMA DALAM HUKUMAN.
Wallahu A’lam.

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena
Di : Senyapandaan