Kekuasaan Tuhan

Kekuasaan Tuhan

Syahdan, suatu hari ketika Nabi Isa AS. berada di atas sebuah bukit, beliau didatangi oleh Iblis. Iblis kemudian bertanya kepada Isa, ”Bukankah kalian mengatakan jika saja Allah menghendaki kematian terjadi pada diri seorang manusia niscaya kematian itu akan terjadi?”. Isa menjawab, “Benar”. Iblis kemudian bertanya lagi, “Bila Allah tidak menghendakinya?” Isa kemudian menjawab lagi, “Kematian itu tidak akan terjadi.” Iblis -Laknat Allah atasnya- menukas, “Kalau begitu lompatlah dari atas bukit ini, jika Allah memang menghendaki kematianmu, engkau pasti akan mati. Tetapi (bila tidak menghendakinya) engkau juga tidak akan mati.” Nabi Isa AS kemudian membentak makhluk laknat itu dan berkata, “Enyahlah kau wahai Iblis terlaknat! Sesungguhnya Allah memang berhak menguji hamba-hambaNya, tetapi bukan hak manusia untuk menguji Tuhannya.”

Kisah yang saya pungut dari buku Muhammad Amin Al Jundi yang berjudul 101 Kisah Teladan (Terbitan Mitra Pustaka) tersebut sedikit banyak menggambarkan keadaan kita (manusia) saat ini yang kian nyeleneh saja dalam mengarungi hidup. Bagaimana tidak, bangsa kita saja yang konon berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa ternyata juga masih jauh dari gambaran bangsa yang benar-benar mengakui Tuhan dalam keseharian hidupnya. Anda tentu ingat dengan berbagai kasus bunuh diri di negeri kita yang kian marak saja. Mulai dari yang beralasan akibat putus cinta, himpitan ekonomi, penderitaan akibat penyakit yang tak kunjung sembuh dll. Bukankah kasus-kasus itu sedikit banyak menggambarkan kondisi masyarakat kita yang kian labil dalam menghadapi hidup dan seolah lupa bahwa mereka masih memiliki Tuhan yang sesungguhnya dapat membantu mereka, dengan cara-cara Nya sendiri tentunya.
Tentu kita masih ingat pada sekira 11 Januari 2010 kemarin tersiar dalam berita sebuah kabar heboh dari sebuah kamar kontrakan di daerah ibu kota. Kejadian yang sungguh unik, sekawanan perempuan yang semenjak pasca perayaan malam Tahun Baru melakukan puasa bareng beberapa hari sebagai ritual yang mereka tujukan untuk keselamatan bangsa. Dan yang lebih heboh lagi adalah kawanan manusia “aneh” itu membiarkan salah seorang rekannya yang tewas di kamar kontrakannya hingga 4 hari karena percaya bahwa pada hari ke 5 temannya yang tewas itu akan kembali hidup dengan mukjizat Tuhan. Dan uniknya ketika ketua RT daerah TKP tersebut menanyakan dan “menyemprot (marah)” pada salah seorang kawan korban kenapa tidak segera melapor padanya tentang kejadian ini, wanita kawan korban itu bilang dengan raut muka tenang dan percaya diri bahwa kawannya yang tewas itu memang sengaja melakukan “Mati” (menyengaja mati) – untuk kemudian akan hidup lagi setelah 5 hari – dengan cara selalu mengeluarkan makanan yang masuk ke mulutnya sebelum menjelang ajalnya dan acara ritual “Menyengaja Mati” itu ditujukan untuk membuktikan Mukjizat dan kekuasaan Tuhan yang dapat menghidupkan manusia yang telah mati sekalipun. Dan apa lacur, wanita yang tewas dalam ritual menyimpang itu ternyata tidak bisa hidup lagi hingga kini. Menyesalkah wanita “Penyengaja Mati” sang penganut ritual aneh itu ? entahlah, yang jelas dia dan kawan – kawannya persis dalam kisah Nabi Isa dan Iblis di atas. Mereka (Para Penganut ritual Aneh itu) jelas-jelas telah sengaja menguji Tuhan.
Dan kisah – kisah pengujian terhadap Tuhan di negeri ini (termasuk di seluruh dunia) tidak berhenti sampai di situ. Karena masih banyak kasus-kasus lain yang tak kalah “hebatnya” daripada kasus menyengaja mati ala wanita-wanita nyeleneh tersebut.
Tengok saja, ke jajaran elit para penguasa negeri ini, betapa banyak kasus penilepan uang rakyat (baca : Korupsi) yang dilakukan manusia-manusia berdasi yang konon gelar pendidikannya saja professor, doktor dan gelar-gelar lain yang menandakan ke-intelektual-an. Padahal mereka tahu dan mengakui bahwa Tuhan sedang dan terus mengawasi mereka. Namun toh mereka cuek saja, mereka ingin menguji kesabaran Tuhannya yang memang Maha Penyabar itu. Kemudian tengok juga para wanita-wanita negeri kita ketika berada di luar rumah (Saat berbaur dengan manusia-manusia lain yang bukan Mahramnya) mereka dengan gagah pongah dan penuh percaya diri memakai pakaian terbuka dan menghidangkan auratnya untuk umum agar dapat dinikmati bersama. Dan mereka bilang itu sudah lumrah dilakukan di zaman sekarang, inilah trend. Yakinlah kawan bahwa mereka itu tahu dan mengakui bahwa Tuhan sedang dan terus melihat mereka. Namun nampaknya mereka cuek saja, mereka ingin menguji kesabaran Tuhannya yang Maha Penyabar itu. Lalu alihkan pandangan anda kepada para kaum berpunya yang memiliki harta dunia meruah namun enggan menyisihkan sebagiannya bagi saudaranya yang fakir dengan dalih kekayaan itu didapat semata-mata atas kepintaran dan usaha mereka tanpa ada campur tangan kaum-kaum papa tersebut. Percayalah kawan, sebenarnya mereka itu tahu dan mengakui bahwa Tuhan sedang dan terus menatap mereka. Namun untuk sementara mereka abai dan tak hirau pada Nya. Mereka ingin menguji kesabaran Tuhannya yang Maha Penyabar Itu. Lalu alihkan pandangan anda pada para cukong dan anak buahnya yang menggunduli hutan, merusak terumbu karang, me-limbah-i sungai mengeruk bumi hingga perut terdalamnya serta para mereka yang mengasapi udara dengan polusi. Mereka enggan untuk berhenti dari kegiatan merusak itu karena telah mengeruk keuntungan pribadi meski tak hirau akan nasib jutaan manusia lain di sekitarnya. Sadarlah kawan bahwa para mereka itu sebenarnya tahu dan mengakui bahwa Tuhan sedang dan terus mengawasi tingkah polah mereka. Namun untuk saat ini mereka sedang tuli dan buta kepadaNya. Mereka ingin menguji kesabaran Tuhannya yang Maha Penyabar itu.

Perlahan namun pasti dan kian beruntun, akibat dari keberanian kita dalam menguji Tuhan itu berbuah hasil. Kehancuran sosial ekonomi akibat kelakuan para koruptor sedang melanda rakyat kita. Maraknya kasus pemerkosaan, pelecehan seksual, aborsi yang didahului Free Sex juga sedang genit-genitnya mencolek moral masyarakat kita. Dan salah satu hulu sebab dari kasus asusila itu adalah hal sederhana, yaitu keengganan para wanita negeri kita menutup auratnya. Kemudian masih ada lagi kasus kemelaratan ekonomi yang kian mencekik leher negeri kita. Dan parahnya lagi, kemelaratan itu diwariskan pula ke generasi berikutnya. Dan salah satu penyebab kesenjangan sosial yang makin menjurang ini adalah ke-emoh-an para kaum kaya menyisihkan dan berbagi sedikit (hanya sedikit saja) harta benda mereka bagi saudaranya yang minim dalam kepunyaan harta . Jangan lupakan pula bencana-bencana alam yang makin betah saja bertamu ke tanah kita Indonesia. Mulai dari tanah longsor, banjir, gempa, rusaknya ekosistem laut, tercemarnya udara dan sumber air kita dan kian panasnya suhu bumi kita. Kita tentu sudah mafhum bahwa bencana-bencana itu dipanen melimpah oleh negeri kita karena kitalah yang giat menanam bibit-bibitnya. Karena mungkin saja kita secara sadar atau tidak adalah bagian dari cukong dan para perusak lingkungan dan alam ini. Meskipun mungkin bukan anggota (bagian) langsung, tetapi di luar kesadaran, tindakan para perusak lingkungan itu mungkin saja telah pula tercermin dalam perilaku keseharian kita yang juga kurang bisa menjaga lingkungan kita.

Dari sederetan kasus di atas, mungkin segera timbul pertanyaan dalam benak kita. Jika memang benar Tuhan Maha Penyabar dan Maha Berkehendak, mengapa mesti terjadi bencana (Bencana alam dan kemanusiaan) yang bertubi-tubi di negeri ini. Bukankah Dia bisa saja bersabar dan dengan kekuasaan PrerogatifNya dapat menghendaki agar bencana tak datang ke negeri ini. Jawabannya sebenarnya sederhana saja, rentetan bencana itu bukan dari kehendak Tuhan saja namun juga dari kehendak kita sendiri. Dia terkadang tidak menghendaki bencana menimpa kita namun kitalah ternyata yang sering berkehendak mendatangkan bencana itu ke tempat kita. Karena sudah menjadi Sunatullah (hukum alam) yang berkonsep kausalitas (sebab-akibat) yang menggariskan bahwa setiap perilaku atau perbuatan pasti akan ada konsekuensinya. Siapa yang menebar angin maka dialah yang menuai badai, demikian tutur bijak berucap. Dengan kita berbuat berbagai macam kerusakan baik itu dalam lingkungan maupun moral, maka kita juga akan segera merasai akibat dari bermacam kerusakan itu. Dan inilah yang dimaksud manusia yang menghendaki bencana bagi diri mereka sendiri seperti yang telah dijelaskan dalam kitab suci, ”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena ulah tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar Ruum [30] :41).

Mengukur Kesabaran Tuhan

Sebenarnya Tuhan sudah terlalu sabar dalam “mengasuh” kita di bumiNya ini. Namun kesabaran tiada batas itu kita salah artikan dengan tidak mau bersyukur padaNya alias tidak tahu terima kasih. Karena ternyata kita telah semena-mena menggunakan segala fasilitas yang disediakan Tuhan di alam semesta ini untuk “membunuh” Tuhan itu sendiri dengan cara melupakanNya melalui tindakan melanggar laranganNya dan tidak mengerjakan apa yang di titahNya. Dalam buku yang berjudul Mari Bersabar karya Amru Khalid – Da’i muda Mesir yang kesohor-, dikisahkan bahwa setiap hari lautan, gunung, dan bumi meminta izin kepada Tuhannya, ”Perkenankanlah aku melumat manusia. Sesungguhnya mereka menikmati rezeki dari Mu, tetapi mereka menyembah kepada selain-Mu!”. Tetapi Allah berfirman, “Biarkan saja mereka begitu. Jika saja kamu yang menciptakan mereka, niscaya kamu akan menyayangi mereka!”.

Subhanallah ! Lihat, betapa Maha Sabarnya Dia pada kita. Jika saat ini banyak bencana menyambangi negeri kita itu adalah sebuah “cubitan sayang” dari Nya pada para hamba Nya agar mereka dapat kembali ke jalan yang lurus (QS.Ar Ruum [30] : 41). Karena memang tiada sesuatupun di jagad ini yang bergerak tanpa iziNya, termasuk terjadinya bencana. Dan satu hal yang pasti bahwa Sesungguhnya Allah memang berhak menguji hamba-hambaNya, tetapi bukan hak manusia untuk menguji Nya.

Maka tidak ada alasan bagi kita untuk meragukan kesabaran dan kasih sayangNya pada kita. Karena “Tidak ada sesuatu pun yang lebih sabar terhadap sesuatu yang diperdengarkan kepadanya, selain Allah. Dia dipersekutukan dan dikatakan mempunyai anak. Meski demikian, Dia memaafkan dan memberi rezeki pada mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Wallahu A’lam.

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena
Di : Senyapandaan