Republik Berisik

Republik Berisik


Bangun pagi, setelahnya apa yang akan anda lakukan di permulaan hari baru itu? Bekerja, sekolah, kuliah atau sekedar berdiam di rumah sembari melakukan aktivitas rutin semisal bersih-bersih rumah, memasak, nonton TV atau yang lainnya ?. Yang jelas masing-masing orang pasti memiliki kegiatannya sendiri. Namun bagi anda yang kebetulan di hari pagi masih ada di rumah (entah karena sekolah siang, kerja sore/malam atau mungkin sedang libur) sudah barang tentu kegiatan yang paling mendominasi adalah nongkrong di depan televisi. Entah itu tayangan gossip, berita, masak-memasak, tayangan untuk anak, atau musik. Nah, untuk tayangan yang disebut belakangan (Musik) tentu kita sudah mafhum bahwa beberapa tahun ini acara tersebut sangat mendominasi layar kaca masyarakat Indonesia. Memang tak begitu mengherankan jika acara panggung hura-hura Pop ala remaja itu memiliki rating tinggi dan sponsor yang banyak, pasalnya acara berbau musik dan hura-hura itu diklaim mewakili sebagian besar jiwa para muda masa kini yang gaul, funky, ngeksis, dan berjiwa bebas. Dan setidaknya ada 3 acara bertema musik di Channel TV yang berbeda yang tiap hari tak pernah absen menyihir para muda negeri ini agar betah berlama-lama di depan layar kaca mereka, masing-masing bersaing dan mengklaim sebagai yang paling bagus.
Sebenarnya sah-sah saja acara-acara demikian diselenggarakan, toh negara juga menjamin kebebasan warganya untuk berkumpul, berekspresi dan meng-eksis-kan dirinya. Namun yang sedikit menjadi soal adalah dampak “buruk” di balik acara itu. Sadar atau tidak ternyata acara-acara musik tersebut juga membawa sebuah misi, atau boleh dikatakan sebuah kampanye budaya tertentu dalam tiap polahnya. Semisal pergaulan antar muda-mudinya yang kian mengarah pada budaya metro pop ala barat. Belum lagi gaya Hedonis (berdasar kesenangan Individu/semaunya gue) yang juga tercermin dari tayangan ini. Di saat banyak saudara kita (sebangsa bahkan yang di Palestina sana) menghadapi banyak bencana semisal banjir, longsor, gempa, perang, kelaparan dst, kita malah asyik berjingkrak seturut alunan musik para band kesayangan dan seakan acuh dengan keadaan manusia lain di sekeliling.
Belum lagi lirik-lirik lagu yang banyak meng-kampanye-kan percintaan picisan, perselingkuhan pacar (memangnya ada ya selingkuh sebelum nikah ???), pemujaan berlebihan terhadap wanita yang hampir-hampir (bahkan sudah) mengarah ke perbuatan menyekutukan Tuhan, belum lagi lirik-lirik lagu yang mengarah kepada peng-eksploitasi-an tubuh wanita yang anehnya juga banyak dinyanyikan para biduanita (penyanyi wanita). Dan lebih hebatnya lagi, musik yang ber-lirik-lirik demikian yang banyak digandrungi remaja. Ada apa dengan kita para generasi bangsa???

Bercermin Pada Masa Lalu

Jika saja Bung Karno masih hidup, pasti beliau sangat sedih dengan fenomena tersebut. Pasalnya, sewaktu masih memimpin negeri ini (sekira tahun 60-an), beliau pernah melarang peredaran lagu-lagu dari Barat semisal The Beatles yang banyak lagunya bertemakan cinta kasih yang menghanyutkan, yang dalam istilah lisan beliau sebut “Musik Ngak Ngik Ngok”. Musisi dalam negeri pun pernah beliau penjarakan karena musik dan tema lagunya juga dinilai picisan seperti Koes Bersaudara (Koes Ploes) dengan lagu “Oh Kasihku”nya dan juga Elia Khadam dengan lagu “Boneka India”nya yang kesohor itu. Beliau bukannya tidak menghargai seni atau kebebasan tiap warga untuk bersenang-senang dengan musik, namun ada alasan Futuristik (Jauh Ke depan) yang beliau pertimbangkan. Yaitu karena musik-musik Ngak Ngik Ngok yang biasa diiringi dengan dansa-dansi (mungkin sekarang seperti berjoget dan berjingkrak)
yang sedemikian picisannya dapat merusak mental para pemuda. Menurut Sang Proklamator tersebut, musik yang notabene produk Imperialis/Kapitalis Barat itu akan melemahkan semangat juang para pemuda dan akan merobohkan nilai kepribadian bangsa. Beliau berpendapat seyakin itu karena memang beliau seperti yang kita mafhumi bersama telah menjadi pejuang bangsa semenjak muda. Seolah tiap nafas beliau adalah perjuangan untuk sesegera mungkin memajukan bangsa Indonesia Raya tercinta ini.
Karena ternyata bukan hanya di Indonesia saja yang kala itu menerapkan kebijakan yang mungkin sekarang akan dianggap sebagai pelanggaran HAM dan kebebasan berekspresi tersebut. Di Cina, Jepang, dan Korea kala itu para kaum mudanya juga sebisa mungkin menahan diri untuk hidup berhura-hura ria karena mereka sadar mesti berjuang dan bekerja keras untuk kemajuan bangsa dan masyarakatnya. Maka daripada itulah Bung Karno melarang musik Ngak Ngik Ngok dan menitahkan agar para kaum muda lebih giat bekerja.
Jika musisi sekelas The Beatles yang mendunia dan Koes Ploes serta Elya Khadam yang kala itu jadi idola para remaja saja dicekal oleh pemerintahan Soekarno, bagaimana dengan musik saat ini, jika saja beliau masih hidup, entah apa yang akan beliau lakukan. Bukan maksud mengatakan semua musik anak negeri masa kini jelek, mengajarkan moral buruk dan menihilkan semangat berjuang membela bangsa dll- karena kita semua yakin masih ada “Sedikit” banyak musisi negeri yang mempunyai Idealisme dalam karyanya seperti Kang Iwan Fals dengan kritik sosialnya yang khas dll – namun jujur kita harus mengakui bahwa tidak sedikit pula pemusik yang banyak mengkampanyekan pesan-pesan yang kurang bermanfaat (bahkan ada yang sesat) dalam lirik-lirik mereka plus irama musik mereka yang banyak menyihir para pendengarnya menjadi lupa daratan dan sekelilingnya.
Sebenarnya potensi musik (yang dianggap sebagai “Bahasa Universal”) dalam menyebarkan pesan-pesan kebajikan sangat besar. Kita tentu masih ingat dengan Michael Heart dengan “We Will Not Go Down (Song For Gaza)”nya yang menyuarakan derita rakyat Palestina dalam serangan 22 hari Zionis Israel setahun silam. Lagu tersebut laris diunduh dan diputar dengar oleh jutaan orang di planet ini untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap warga Gaza kala itu. Bayangkan sebuah lagu ternyata dapat sedemikian hebat pengaruhnya. Dalam khazanah sejarah bangsa kita juga banyak kita jumpai lagu (syair-syair) yang banyak mengandung pesan kebajikan seperti tembang religi para walisongo (Tombo Ati nya Sunan Bonang, Lir-ilir nya Sunan Kalijogo) dan ada pula Indonesia Raya karya WR.Supratman yang mengandung pesan Persatuan Bangsa.
Kini saatnyalah bagi para mereka yang bergelut dalam bidang musik untuk memanfaatkan potensi musik sebagai media menyuarakan kebajikan semisal perenungan hidup, mengajarkan jangan menyerah menjalani hidup, menambah semangat cinta dan bangga pada negeri dan berjuang baginya serta pesan-pesan kebaikan lainnya dalam lirik dan seluk beluk gaya bermusiknya agar negeri ini menjadi lebih bersahaja dan beradab. Dan salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk menuju ke arah itu adalah dengan membuat karya nyata anak negeri yang beradab dan sarat manfaat di dalamnya. Baik itu musik, film, buku dll. Agar negeri ini tak hanya sekedar menjadi “Republik Yang Berisik” oleh nyanyian tak jelas para penghuninya. Entah itu ke-berisik-an para musisinya, atau ke-berisik-an pejabat dengan nyanyian kosong bertema pembohongan rakyatnya, maupun ke-berisik-an rakyatnya sendiri yang selalu melantunkan nyanyian hujatan dan caci bagi para wakil aspirasinya. Maka sudah saatnyalah kita berevolusi menjadi lebih baik, termasuk dalam polah dan ucap. Bukankah semua nyanyi (ucapan/ perkataan) kita sekecil apapun akan tercatat dan akan menuai tanggungjawab kelak di hadapan Nya.
So, sanggupkah kita melakukannya ?
Wallahu A’lam

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena
Di : Senyapandaan