The Earth Angel

The Earth Angel

For a Woman Who has Enriched My Thinking Treasury

Hingga detik ini ketika aku memandang sosok perempuan ini entah mengapa seolah tak pernah habis kekagumanku padanya. Dan tiada pula puas rasa penasaranku tentang liku Hijrahnya menuju dirinya saat ini. Perempuan yang dulu kukenal sebagai perempuan biasa selayak kaum hawa pada umumnya – berpenampilan biasa tanpa jilbab, bergaul dan berbaur selayak pemudi masa kini (berbaur dengan lawan jenis dll) – kini menjadi perempuan yang berbeda setelah memutuskan Hijrah menapaki jalan para Muslimah sejati. Seingatku sesuai dengan pengakuannya waktu kami sempat ngobrol dulu, dia dapat menjadi sedemikian dirinya sekarang karena sebuah Hidayah saat dia melaksanakan sebuah Program sekolah dahulu (Magang) selama sekira 4 bulan di wilayah Dingin Kota Malang (tepatnya) di Batu di sebuah Stasiun TV lokal. Nah di tempat inilah dia dipertemukan oleh Allah dengan seorang Pria Muslim yang ber-Islam secara mumpuni dan seturut kesannya juga lumayan Nyunnah (mengamalkan Sunah Nabi) baik itu dari segi penampilan dan tingkah lakunya. Dan dari perkenalan dan obrolan yang Intens tentang seluk beluk Islam (terutama tentang kedudukan wanita dalam Islam) yang lebih dalam, perempuan ini perlahan “tersindir” dan tersadar dengan
ke-alpha-annya selama ini yang melalaikan kedudukannya sebagai seorang Muslimah yang memiliki hak dan kewajiban yang mesti ditunaikan seperti berhijab menutup aurat dan berakhlak Islami semampu dan semaksimal yang dapat dilakukan. Dan sejak saat itulah hingga kini dia istiqomah berusaha menjadi seorang Mukminah yang sesuai dengan standar “langit”.
Evolusi perempuan ini bukan hanya pada penampilan luarnya saja
-dengan ciri khas memakai Jilbab Syar’i ( yang lebar hingga ke dada dan tidak menampakkan lekuk tubuh)- namun juga pada tingkah polah dan akhlaknya yang juga mulai ia tata sedemikian rupa ke arah “kesempurnaan” sebagai seorang Muslimah sesungguhnya. Bahkan kini dia memutuskan untuk memakai Niqab (cadar) dalam kesehariannya. Hal ini juga dipengaruhi dengan lingkungan bergaul dia semenjak sekira 2-3 tahunan ini. Karena dia telah meniti ilmu Islam dan Bahasa Arab di sebuah Ma’had khusus wanita di sebuah kota di timur Jawa yang tak jarang pematerinya adalah dosen-dosen Muslimah dari Timur Tengah seperti Yaman dll yang tentu saja kian menambah input keber-Islam-an yang Kaffah baginya. Padahal masalah cadar lumayan “sensitif” di sekitar kita. Banyak muslimah yang sudah mantap berjilbab Syar’i namun untuk Cadar seperti masih menjaga jarak. Bahkan seorang ulama’ sekelas Syekh At- Thantawi yang merupakan rektor Al Azar Mesir sempat melarang penggunaan cadar di kampus Islam tertua di dunia yang dipimpinnya tersebut yang tentu saja ditentang keras oleh banyak ulama’ di dunia yang menganggap hal tersebut sebagai pelecehan dan melanggar HAM Muslimah. Karena para ulama’ tersebut juga memiliki pegangan (Dalil) sendiri tentang “kewajiban” bercadar bagi Muslimah.
Dan “serangan” terhadap cadar ternyata juga dialami perempuan -tokoh dalam seduhan Musyafucino kali ini- bahkan tak tanggung-tanggung, yang menyerangnya adalah salah seorang Ustadzah di Ma’hadnya sendiri kala membahas sebuah Kitab tentang aurat, padahal seturut pengakuannya, di kitab tersebut yang juga dibahas oleh sang Ustadzah ternyata juga dipaparkan dasar-dasar penggunaan Niqab (cadar) dan tidak menggunakannya. Cadar memang masih masuk dalam area Khilafiyyah (perbedaan yang ditolerir dalam agama), pun demikian hingga kini cadar ternyata masih juga dicap miring oleh sebagian masyarakat. Hal ini juga tak lepas dari keberhasilan pembentukan opini media massa di dunia (termasuk Indonesia) yang menganggap cadar sebagai budaya arab yang dipaksakan pada budaya nusantara dan juga dicap sebagai salah satu aksesoris para anggota pendukung (istri) “teroris”. Dan hal ini adalah sebuah keberhasilan stigmatisasi sistematis ala media massa yang kurang adil dan bijak terhadap sebuah identitas keberagamaan seseorang tentunya.
Masih mengenai cadar, masih banyak kasus-kasus Intolerir dari para kalangan Islamphobia (terutama di Barat) yang sungguh paradoksial. Paradoks karena mereka (Dunia Barat) selalu berkoar bahwa merekalah negara-negara pelopor Demokrasi dan penjunjung HAM dan kebebasan, namun nyatanya hal itu hanyalah sebuah bualan usang. Di Prancis, seorang juru bicara Partai Persatuan Gerakan Populer Prancis (UMP) Frederic Lefebvre mendesak agar pemerintah melarang pemakai Burqa menggunakan fasilitas publik seperti transportasi umum dan beberapa subsidi negara. Pernyataan diskriminatif anti Islam itu dikeluarkan sehari setelah Ketua Partai penguasa UMP, Xavier Bertrand menentang pemakaian burqa di negeri Napoleon itu. Xavier Bertrand menyatakan bahwa perempuan Islam yang mengenakan burqa tidak dapat memperoleh kewarganegaraan Prancis. Bahkan diberitakan juga bahwa Dewan Nasional Prancis berencana merilis laporan tentang Burqa. Hal yang sama juga dilakukan oleh para politikus dan media-media berpengaruh setempat yang mengusulkan diberlakukannya larangan bagi para pemakai Burqa menggunakan fasilitas publik dan agar dapat dikenai hukuman kurungan serta denda yang dalam proposal awalnya disebutkan hingga 750 Euro
(sekira Rp 9,9 Juta ) bagi yang tetap ndablek memakai cadar*. Dan hal ini ternyata juga akan pula diterapkan di beberapa negara di benua biru tersebut seperti Swiss dll.
Sunguh paradoks bukan? Di negara – negara yang selalu mengklaim sebagai para pelopor demokrasi dan HAM – terutama Prancis dengan semboyan Revolusi Prancisnya di masa silam yang kesohor, Liberte, Egalite, Fraternite (Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan) – yang ternyata tak mampu konsisten menerapkannya pada masa kini.
Sebenarnya jujur pikiran “nakalku” pernah bergumam, jika para perempuan bercadar itu memutuskan mengenakan Niqab (cadar) karena mereka masih merasa kurang “sempurna “ jika hanya memakai Jilbab Syar’i yang masih membolehkan wajah dan telapak tangan terlihat yang menurut sebagian besar Ulama’ (termasuk mayoritas di Indonesia) sudah dianggap cukup sebagai pemenuhan kewajiban Berjilbab bagi perempuan, maka bagaimana dengan mereka yang masih belum berjilbab, terlebih yang masih suka menggunakan pakaian ala kadarnya seperti rok mini, jeans ketat, hot panths, baju model V Necks dll yang mereka menggunakannya dengan sadar diri dan bangga karena menganggapnya sebagai identitas wanita modern. Apakah mereka lebih baik dari para perempuan bercadar yang banyak digunjingkan itu. Ah, entahlah bukan hak “penyeduh” (Penulis) yang masih awam ini untuk menilainya. Toh semua tanggung jawab dipikul masing-masing diri. Namun yang jelas ada indikasi bahwa kebanyakan kita saat ini mulai “asing” dan sengaja di-asing-kan dengan agama kita sendiri. Baik itu mengenai ajarannya yang maupun bentuk pelaksanaannya dan termasuk juga dengan pemakaian identitas dan simbol-simbol Islam seperti Jilbab, Niqab, Burga, Jenggots dsb. Dan proyek peng-asing-an itu telah dijalankan secara sistematis dari dahulu hingga akhir zaman kelak oleh para musuh Islam baik dari kaum Kafir maupun kaum Muslimin sendiri yang condong hati pada mereka. Entah itu melalui media Massa, kurikullum pendidikan di sekolah, dan perang pemikiran (Ghazwul Fikri) yang membawa misi De-Islamisasi. Dan hari ini kita boleh jujur bahwa proyek peng-asing-an itu telah perlahan menunjukkan keberhasilannya. Betapa banyak kita yang menganggap asing dan risih dengan ajaran dan simbol Islam. Banyak kita temui kasus pelecehan dan diskriminasi terhadap Islam. Mulai dari pelarangan Jilbab bagi karyawan dan ancaman pemecatan bagi yang masih ndablek menggunakannya seperti yang terjadi di sebuah rumah sakit di Probolinggo dan juga kasus Jilbab Wine di sebuah rumah sakit di kawasan sekitaran Jabodetabek. Masyarakat kita juga mulai takut dengan istilah Jihad yang telah diselewengkan makna sucinya menjadi kegiatan kriminal seperti terrorisme, padahal agama ini tidak akan tegak tanpa adanya Jihad (dalam arti yang sesungguhnya).
Sebenarnya ihwal demikian telah jauh hari dinubuatkan oleh Baginda Nabi 14 abad lampau. Beliau pernah bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing. Maka beruntunglah orang-orang yang asing (tersebut). [HR. Muslim dan Ibnu Majjah].”
Kini beberapa simbol Islam yang mencolok seperti Jilbab, Cadar, bahkan hingga menara Masjid tengah ramai digugat oleh para kaum anti – Islam.mereka (barat) menganggap Jilbab (terlebih dengan tambahan Cadar) yang dikenakan para wanita Muslimah adalah simbol perbudakan dan pengekangan kebebasan serta pemaksaan atribut agama bagi para wanita. Padahal jika mereka dapat jujur pada realita, Jilbab (terutama Cadar) yang banyak digunakan wanita Muslimah di seluruh dunia termasuk di negeri barat tidak pernah dipaksakan penggunaanya kepada wanita. Mereka (wanita Muslimah) sendirilah yang istiqomah menggunakannya dengan sadar hati atas dasar takwa pada Tuhan Nya karena mereka yakin bahwa apa yang dititahkan Tuhan sangat baik dan bermanfaat bagi mereka.
Terutama untuk melindungi dan menjaga kehormatan diri wanita dari tangan-tangan dan mata jahil setan baik dari kalangan Jin maupun Manusia.
Toh jika boleh dibandingkan dengan gaya hidup dan busana para wanita barat yang suka bertelanjang aurat serta doyan menyajikan tubuhnya – bahkan hingga “Bagian Tubuh” yang paling pribadi sekalipun pun- kepada siapa saja (realita ini seperti yang digambarkan dalam Film-film Hollywood yang pasti dibumbui dengan adegan-adegan seks para pemainnya) , jelas para Muslimah bercadar itu lebih tinggi derajat dan kehormatannya di sisi manusia – yang masih benar-benar manusia- dan terlebih di hadapan Tuhan Nya. Bukankah kita akan lebih percaya kebersihan (kesucian) sesuatu yang masih terbungkus daripada yang terbuka dan banyak jejak jamahan tangan jahil di sekujur tubuhnya ?.
Ah, biarlah manusia membilang sahabat perempuan ku yang bercadar ini sebagai perempuan kolot dan kuno. Namun bagiku dia telah meninggalkan sebuah jejak kesan dan pelajaran berharga tersendiri di ruang sadarku bahwa tak perlu menanggapi omongan dan cibiran orang mengenai perubahan diri kita selama kita yakin bahwa perubahan itu benar-benar menuju ke arah yang lebih baik. Balas saja semua gunjingan itu dengan senyum dan perilaku yang baik sebagai bukti dari proses hijrah diri yang sedang kita tapaki. Tak usah peduli dianggap kuno, toh sekarang barang kuno atau yang lumrah disebut antik justru sedang banyak digemari dan bernilai tinggi karena dinilai lebih memiliki sesuatu yang khas dan unik. Dan bagiku, perempuan ini adalah salah satu PEREMPUAN PALING ANTIK DI NEGERIKU INDONESIA yang pernah kukenal.
Wallahu A’lam.

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena
Di : Senyapandaan

Note :
*www.Hidayatullah.com (Saturday, 23 January 2010 11:43)
*Majalah Islam Sabili No. 14 Th. XVII 4 Februari 2010 / 19 Shafar 1431