Pledoi Kaum Adam

Pledoi Kaum Adam

Dalam sebuah dialog yang dibungkus dalam acara Topik Kita di ANTV Senin malam (08/02/10), hadir 3 tamu yang masing-masing diundang untuk menempati posisi narasumber yang ditentukan, ada seorang wanita (maaf saya lupa namanya) yang berlaku sebagai Psikolog, ada Sekjen KOMNAS PERLINDUNGAN ANAK Pak Aris Merdeka Sirait, dan ada Bunga (nama samaran) yang ditempatkan dalam acara tersebut sebagai “korban” prostitusi anak di dunia maya (online). Sengaja kata korban saya beri tanda petik karena di sinilah letak keunikan topik bahasan dialog ANTV tengah malam tersebut. Karena jika dicermati dari awal dialog hingga akhir, 2 narasumber utama yaitu sang psikolog dan Sekjen Komnas perlindungan anak dan perempuan selalu menyebut Bunga sebagai korban prostitusi online yang sengaja dimanfaatkan oleh manusia-manusia tak bermoral. Para orang dewasa amoral yang bertindak sebagai germo dan mucikari tersebut diposisikan sebagai subjek atau tersangka utama dalam kasus ini (dan nampaknya juga dalam setiap kasus prostitusi lainnya). Sedangkan Bunga sang PSK online adalah objek seks yang sengaja dieksploitasi tubuhnya sebagai pemuas syahwat para lelaki hidung belang pelanggannya yang seturut pengakuan Bunga sendiri banyak juga yang dari kalangan atas seperti Pejabat dan anggota DPRD. Menarik mengikuti dialog tersebut, karena disamping menambah kesadaran kita – terutama para orang tua- tentang kewaspadaan mengenai pergaulan dunia remaja masa kini yang sungguh mengkhawatirkan (terutama di era Facebookisasi)- juga membuka mata masyarakat tentang betapa ternyata cewek seusia sekolah pun sudah berani berprofesi sebagai PSK professional yang pandai menyembunyikan jati dirinya di tengah keluarga dan masyarakat sekitar.
Dalam beberapa cecaran tanya presenter, Bunga sang “korban” sering melontarkan jawaban yang kian mengokohkan posisi lelaki sebagai tersangka utama pelaku peng-eksploitasi-an seks anak dan wanita. Dan hal itu juga diamini para narasumber, terutama sang sekjen Komnas Anak dan perempuan yang dengan terang-terangan menyebut bahwa aparat berwenang harus bertindak tegas menangkap orang-orang di belakang Bunga (terutama lelaki dewasa yang tak dewasa dan amoral) yang sengaja mengambil keuntungan dan menjadikan Bunga seperti ini. Dan untuk Bunga sendiri tidak boleh ditangkap karena dia memang adalah “Korban” bukan tersangka, dengan kata lain, Bunga adalah objek prostitusi bukan subjek prostitusi.
Sebenarnya pernyataan 2 narasumber tersebut patut didukung karena mereka juga pastinya memiliki I’tikad baik dengan solusi-solusi yang mereka tawarkan seperti membawa Bunga dan Bunga-bunga yang lain ke sebuah panti atau lembaga sosial yang dapat merehabilitasi psikologi, mental dan dapat memberinya keterampilan agar kelak setelah berkumpul kembali ke tengah-tengah masyarakat (setelah Insyaf) tidak terjerumus lagi ke dunia hitam dengan alasan apapun terutama ekonomi.
Namun yang menjadi keresahan saya sebagai lelaki (mungkin juga mewakili beberapa juta lelaki di Indonesia), mengapa selalu kami para lelaki yang dijadikan tersangka utama (subjek prostitusi). Memang tidak dapat dipungkiri fakta dan realita yang menyebutkan secara tak tertulis bahwa hampir 90an % subjek utama Prostitusi adalah lelaki (hidung belang), namun di sisa presentase angka tersebut (sekira 1-10 % subjek utama prostitusi) ternyata juga ditempati oleh para perempuan itu sendiri. Ingat, ketika sang presenter bertanya pada Bunga tentang semenjak kapan dirinya terjerembab ke dunia esek-esek tersebut, Bunga dengan jujur mengakui semenjak dia berada di bangku sekolah (SMA) setelah dia melakukan hubungan seks pra nikah dengan sang pacar. Nah dari sini kita juga harus jujur mengakui bahwa terkadang para perempuan itu sendiri tidak selemah (yang selalu diposisikan sebagai korban) yang kita bayangkan. Karena di tengah lingkungan pergaulan yang serba boleh nan bebas seperti sekarang (di era Fesbukisme), bukan tidak mungkin jika setiap gender memainkan perannya secara kebablasan. Bahkan di acara yang hampir sama dengan Topik Kita ANTV tersebut, sekira 1-2 hari sebelumnya di Metro TV tengah malam juga dibahas hal serupa dan menghadirkan narasumber yang juga sebagai pelaku Prostitusi Online dari Bogor yang malah mengaku melakukannya dengan kesadaran sendiri tanpa ada seseorang di belakangnya (dia tidak memakai jasa Mucikari atau germo) dengan cara chatting terlebih dahulu via jejaring sosial semacam Frendster dan Facebook dengan calon pelanggannya. Dia (sebut saja Bunga II) mengaku selektif memilih para calon pelanggannya dan jika menurutnya cocok dan memenuhi kriteria pribadinya, mereka tinggal melakukan kopi darat (pertemuan di sebuah tempat untuk selanjutnya melakukan kesepakatan harga dan tempat “bertempur”). Dia secara jujur mengakui tidak menggunakan jasa germo atau mucikari karena selain masalah pendapatan yang pasti akan dipotong untuk jasa mereka, juga karena dia ingin melakukan esek-esek jika dia sedang mood dan “butuh” saja, beda dengan para PSK yang menggunakan jasa mucikari yang tiap saat harus stand by jika sewaktu-waktu ada pelanggan yang membooking mereka. Dan si Bunga II (yang juga masih tercatat sebagai Mahasiswi) ini mengaku alasan dia terjun ke dunia hitam tersebut karena dia ingin mandiri dalam hidup. Dia ingin dapat membiayai kuliahya sendiri dan memenuhi kebutuhan hidup lainnya tanpa bantuan orang tua.
Dari fenomena dan realita ini, bukankah kurang adil dan bijak jika hanya para lelaki saja yang disalahkan dan dituding sebagai tersangka utama dalam hal prostitusi ???. Karena masih banyak lelaki di luar sana yang masih memiliki nurani dan moral dan menjadi lelaki baik-baik. Jika ada lelaki yang menjadi germo, mucikari, Don Juan, lelaki hidung belang, serta yang berprofesi sebagai pemuas syahwat wanita-wanita kesepian, yakinlah itu hanya segelintir saja. Mereka lah yang mencederai citra laki-laki yang semestinya jantan dan macho sebagai pelindung kaum perempuan dan bukan malah meng-eksploitasi-nya. Karena dalam kitab suci juga disebutkan bahwa “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)…”[QS. Annisa’ (04) : 34] dan sebagai pemimpin sudah selayaknya para lelaki melindungi perempuan, karena ini adalah titah langit yang telah digariskan. Dan berdasar ayat suci yang menjelaskan bahwa “…bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan…”[QS. Annisa’ (04) : 11] dapat pula kita aplikasikan dan Transformasikan dalam hal ikhwal mengenai kewajiban seorang lelaki terhadap perempuan. Lelaki dikenai 2 beban ( 2 bagian) sekaligus yaitu merawat, menjaga, dan melindungi 2 perempuan yaitu ibu mereka dan juga istri mereka. Dapat pula diartikan bahwa dalam hidup ini para lelaki diamanahi untuk mengurus 2 insan sekaligus yaitu dirinya sendiri dan juga kaum wanita disekitarnya mulai dari yang terdekat, yaitu ibu, istri, anak perempuan, saudara-saudara perempuan, dan hingga para perempuan (muslimah) pada umumnya. Mengurus disini berarti merawat, menjaga, dan melindungi kehormatan para kaum perempuan. Nah, jika hal ini dapat kita (kaum lelaki) lakukan masing-masing di lingkungan terdekat kita, Insyaallah tak akan ada lagi (sedikit sekali) kasus-kasus peng-eksploitasi-an terhadap perempuan baik itu yang masih di bawah umur hingga yang dewasa sekalipun. Karena para lelaki telah mengetahui kewajiban masing-masing. Dan tugas wanita (perempuan) selanjutnya adalah membantu para kaum lelaki dalam hal melindungi kehormatan mereka baik itu dengan cara menjaga norma pergaulan, moral, kehormatan, tingkah laku (cara berpakaian dll) serta menjaga amanah langit yang dibebankan pada mereka, yaitu menjaga kehormatan diri, keluarga, dan agama mereka. Karena tanpa peran dan sinergi 2 insan (perempuan dan lelaki) mustahil hal ini akan terwujud.
Dan selanjutnya tak akan ada lagi saling tuduh tentang siapa yang paling salah dalam hal maraknya prostitusi (terutama perempuan di bawah umur) di sekitar kita. Karena yang salah bukan perempuan dan bukan lelaki, namun yang salah adalah kita sebagai manusia yang lalai dalam melaksanakan tugas masing-masing sebagai khalifah di bumi ini. Baik itu lalai dalam pengawasan pergaulan (terutama bagi orang tua dan keluarga), lalai dalam mengatur sistem pergaulan online (kebijakan pemerintah) dan lalai menjaga pribadi masing-masing. so, jangan salahkan para lelaki saja, bung !!!
Wallahu A’lam.

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena
Di                        : Senyapandaan