Profesional Moslem

Profesional Moslem

Apakah anda penggemar film? Terutama film-film barat yang hingga kini masih merajai dunia (Box Office Hollywood) dan menjadi kiblat serta Barometer perfilman dunia. Apakah yang membuat anda suka pada Film-film keluaran Hollywood? Tentunya banyak alasan yang dapat membuat anda begitu tergila-gila pada film Hollywood. Di samping alur ceritanya yang bervariasi, penampilan acting yang menawan, dan Film Effect yang keren, tentunya kita juga tak asing dengan gaya hidup para aktor dan aktrisnya di luar film yang serba glamour dan menjadi Trendsetter Life Style dan Fashion Global yang selalu menjadi sajian empuk para pencari berita dan penikmat infotainment dunia. Namun sadarkah kita bahwa di balik segala ketakjuban kita akan kehebatan budaya film barat tersebut, ada beberapa hal menarik yang patut kita renungkan, terutama sebagai seorang Muslim dan Indonesia yang konon masih memegang adat ketimuran. Dalam penyajian film tentunya ada sebuah kampanye budaya dan moral yang sedang ditawarkan kepada penontonnya. Dengan kata lain, film adalah sebuah penggambaran realita kehidupan budaya, moral, dan laku dari sebuah masyarakat setempat yang dijadikan setting pembuatan film. Dan dalam hal ini adalah Barat (Amerika Serikat). Jika anda adalah pelahap film-film Hollywood, tentu anda tak akan mengelak jika saya mengatakan bahwa hampir sebagian besar film-film tersebut selalu dibumbui adegan seks bebas ala barat (SemiPorno). Tak peduli itu film Action, horror, apalagi drama picisannya yang menyihir perasaan para penontonnya. Bahkan jika boleh dikata, saat mereka membuat film-film yang mungkin “Genah-genah ae”, ternyata ada versi lain dari film “genah” tersebut. Yaitu versi XXX nya. Contohnya? Sebenarnya banyak, namun saya sebutkan beberapa saja semisal Tarzan, Pirrates Of  Carribean, James Bond (Agen rahasia yang doyan nge-seks dengan lawannya) bahkan yang bertema Arab seperti Aladdin pun masih mereka bumbui adegan-adegan Seks bebas ala barat. Dan ketika para pemainnya ditanya apakah tidak risih melakukan adegan selayak hubungan suami istri tersebut ? mereka (para aktor dan Aktris barat) berkilah bahwa ini semua sudah menjadi “Tuntutan Skenario” dan mereka harus melakukannya sebagai bukti ke-Profesional-an di dalam dunia perfilman (hal ini kini marak diadopsi oleh aktor dan aktris Indonesia yang rela melakukannya dengan iming-iming bayaran tinggi yang mereka bungkus dengan slogan “ke-profesional-an”). Anda tentu tidak asing dengan Kate Winslet (Pemeran Rose) dalam film Drama Picisan yang diadopsi dari kisah nyata tenggelamnya kapal Titanic. Anda tentu juga tidak lupa dengan salah satu Scene dalam film tersebut yang berisi adegan “SEKS” (SemiPorno) yang dia perankan bersama lawan mainnya Jack yang diperankan oleh Aktor Leonardo Di Caprio. Nah, saat salah satu media mewawancarai suami artis kelahiran Inggris yang memang beberapa kali tampil telanjang (bahkan ada yang tanpa sehelai benangpun dan salah satunya ketika dia melakukan adegan dilukis telanjang dalam Film Titanic), apakah dia (suami Kate Winslet) tidak risih atau cemburu dengan adegan Intim yang dilakukan oleh sang istri dengan lelaki lain di depan matanya dan ditonton jutaan penggemar film Titanic? dengan santai dia menjawab kurang lebih,”Tidak apa-apa, adegan yang dilakukan oleh istri saya sangat bagus dan sangat professional sesuai tuntutan scenario!”.

Astaqfirullah! Ternyata ada suami-suami yang seperti itu di dunia ini. Dan hebatnya di barat hal ini tidaklah aneh dan dianggap wajar. Kalau saya boleh berandai-andai, ternyata Orang Madura yang terkenal keras dan agak “galak” ternyata jauh lebih beradab daripada “orang-orang barat”tersebut. Jangankan melakukan seperti itu, jika anda berani mengganggu istri orang-orang Madura saja, maka Carok (sabetan Clurit) yang akan anda terima. Dan hal ini memang layak diacungi jempol. Sebab istri bagi seorang suami adalah barang berharga yang harus dijaga kehormatan dan kesuciannya  seperti menjaga kesucian Kitab suci. Bahkan kalau perlu nyawa adalah taruhannya. Bukan malah diumbar saji dan “dijual” kepada umum seperti yang “mereka” lakukan.

Lantas yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah,“Tuntutan Skenario” dan bentuk “ke-Profesional-an” seperti apakah yang mereka maksud ? dan siapakah dalang-dalang besar (Big Boss) di balik layar yang mendanai film-film tersebut?

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sebagian besar media massa dunia berada dalam genggaman kaki tangan Zionis dan mereka yang ber-afiliasi pada kepentingan gerakan laknat itu. sekedar contoh. Tiga perusahaan film terbesar di Amerika misalnya, Paramount, Universal, dan Warner Bros, masing-masing didirikan pada awal abad ke-20 oleh Adolph Zukor dan Frohman Brothers, Carl Laemmle, dan Warner Brothers, semuanya keturunan Yahudi Eropa. Produk-produk media pada masa sekarang ini telah mengerucut kepemilikannya ke korporat-korporat raksasa yang dikendalikan oleh orang-orang yang berafiliasi dengan zionisme. Warner Bros, American Online (AOL), Time Inc., Home Box Office (HBO), New Line Cinema, CNN, Cartoon Network dimiliki oleh AOL Time Warner. Salah satu tokoh yang malang melintang di grup perusahaan ini adalah Gerald Levin. Ia tokoh yang berperan dibalik merger Time Warner dengan AOL pada tahun 2000. Ia merupakan seorang philanthropist yang banyak mendukung kepentingan Yahudi dan merupakan sponsor dari Museum of Jewish Heritage. Salah satu tokoh lain yang malang melintang di dunia media adalah Leslie Moonves. Ia menjadi presiden Warner Bros Television pada tahun 1993-1995. Ia pernah berkarir di 20th Century Fox Television, Saul Ilson Productions, Catalina Productions, dan Lorimar Television. Sejak tahun 1995 ia menjadi presiden dan CEO di CBS, sebuah perusahaan media raksasa lainnya di Amerika dan dunia. Moonves adalah cucu keponakan dari David Ben-Gurion, Perdana Menteri pertama Israel.

Sebuah perusahaan media raksasa lain, National Amusements Inc., merupakan pemilik CBS, Paramount, Viacom, MTV, Nickelodeon, dan Dreamworks. National Amusements didirikan oleh Michael Redstone (Rothstein) pada tahun 1935 dan kini diteruskan oleh anaknya, Sumner Redstone. Rothstein merupakan nama keluarga Yahudi. Masih banyak contoh-contoh lain dari afiliasi media-media raksasa dengan Yahudi dan Zionisme. Terlalu banyak untuk disebutkan semuanya di sini. Beberapa raja media mungkin tidak berdarah Yahudi, tapi jelas-jelas mendukung zionisme. Contoh untuk yang terakhir ini adalah Ropert Murdoch, pemilik dan pemimpin News Corporation. Hampir seluruh media massa di dunia telah dikendalikan oleh pihak yang memiliki kepentingan yang sama. Media-media itulah yang menjejali benak publik dengan realitas-realitas tertentu; realitas yang mengendalikan kesadaran, pola pikir dan pola sikap kita. (Sumber : alwialatas.multiply.com)

Dan ketika anda banyak menyaksikan film-film Hollywood yang hampir 90an % pasti diselingi dengan adegan seks (SemiPorno), anda tak usah kaget, karena hal ini adalah “Amanah Nenek Moyang Mereka” yang telah merumuskan acuan-acuan (Protokol) untuk menguasai dunia yang antara lain mereka sebutkan dalam Protokol Of Zion pasal ke-8 yang berbunyi, “Beberapa sarana untuk mencapai tujuan (menguasai Dunia di bawah ketiak Zionis Yahudi) adalah : Minuman keras, narkotika, perusakan moral, seks, suap,  dan sebagainya. Hal ini sangat penting untuk menghancurkan norma-norma kesusilaan masyarakat. Untuk itu, konspirasi harus merekrut dan mendidik tenaga-tenaga muda untuk dijadikan sarana pencapaian tujuan tersebut.” Dan juga dalam pasal ke-24 yang menitahkan bahwa ”Pemuda harus dikuasai dan menjadikan mereka sebagai budak-budak konspirasi dengan jalan penyebarluasan DEKADENSI MORAL dan paham yang menyesatkan.”

Itulah ke-profesional-an yang mereka masksud. Profesional (Komitmen) memegang “Syariat” Zionis mereka. Dan yang dimaksud menjalankan sesuai “Skenario” adalah sesuai dengan scenario yang jauh hari telah nenek moyang mereka susun dalam 25 Pasal Protokolat Zionis. Dan Film -yang merupakan salah satu dari 3F yang coba mereka kuasai, yaitu Food, Fashion, dan Film- adalah salah satu media yang mereka gunakan karena funginya yang sangat vital sebagai “Panggung” pencucian otak (Brain-Washed) dan pembentukan opini masyarakat dunia.

Sebagai seorang Muslim bukankah sudah seharusnya kita juga Profesional menjalankan peran kita sesuai scenario. Professional dalam hidup dengan memegang teguh ajaran dan hukum (Syariat) agama kita yang justru melindungi dan menjaga kehormatan manusia (terutama wanita). Dan menjalankan peran sesuai “scenario” yang sudah diatur oleh Al Qur’an dan As Sunah yang salah satunya adalah menjaga kehormatan diri, serta kewajiban menjaga kemaluan baik bagi lelaki dan wanita dan bukan malah disalahgunakan meskipun dengan alasan sebagai bentuk ke-profesioanal-an demi tuntutan scenario (bagi Artis-artis kita). Karena scenario-skenario film yang selalu dibumbui seks tak lain hanyalah sebuah jenis scenario busuk pemuasan syahwat sesaat. Baik itu syahwat “kelamin” maupun syahwat terhadap “materi” bagi mereka yang terlibat dalam pembuatan film-film “busuk” tersebut.

Saatnyalah semampu mungkin kita menjadi Muslim dan Muslimah yang Profesional yang hidup dan mencari bahan-bahan penunjang hidup (seperti uang, jabatan dan harta) sesuai “scenario” Langit yang diatur dalam kitab suci.

Wallahu A’lam.

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena

Di                       : Senyapandaan