What Behind The Rains?

What Behind The Rains?

Jutaan tetes air langit meluruh jatuh menghujani wajah-wajah bumi di negeri pertiwi ini. Banyak yang senang bukan kepalang dengan kedatangannya dan ada pula mereka yang “sedikit” bermuram durja menyambutnya. Mereka yang bersuka ria dengan kunjungan air langit ini antara lain adalah para manusia penanam (Baca : petani), tukang ojek payung, penjual mantel dan para pengagum hujan lainnya. Dengan hujan bibit-bibit padi para manusia penanam dan biji-bijian di bumi dapat tumbuh. Dengan hujan pula para bocah ojek payung berpanen raya dengan mengantongi rupiah yang dapat mereka gunakan sebagai tambahan uang jajan. Pun dengan para kaum pengagum hujan lainnya seperti sastrawan (pujangga) yang seakan mendapatkan guyuran inspirasi segar untuk karya-karya mereka. Sedangkan yang menyambutnya dengan agak sedikit manyun adalah saudara-saudara kita para tukang krupuk dan juga penjual Es. Dengan datangnya musim hujan seperti sekarang ini, omzet penjualan mereka dengan perlahan menurun ke angka yang lebih rendah disebabkan karena musim hujan adalah salah satu “musuh besar” mereka.
Terlepas dari sisi membahagiakan dan menyuramkan pada masing-masing pihak dalam berbagai profesi kehidupan tersebut, sebenarnya fenomena hujan itu sendiri adalah sebuah pelajaran besar penuh Ibrah bagi anak manusia. Betapa tidak, bahkan Al Qur’an pun tak kurang-kurangnya membahas mengenai fenomena siklus perputaran air terhebat di planet ini. Entah itu menjelaskan prosesnya, tamsil (perumpaan yang dapat diserap dalam kehidupan), hingga manfaat di balik hujan itu sendiri.
Dan memang sudah menjadi rahasia umum jikalau kita tidak akan bisa menghargai lebih dalam tentang “keber-ada-an” sesuatu kecuali sesuatu itu telah hilang atau pergi meninggalkan kita. Dan hal ini juga berlaku dalam pembahasan ini. Mungkin kita baru akan dapat lebih menghargai keber-ada-an hujan ketika hujan itu perlahan ditiadakan oleh Allah. Karena ternyata proses pembuatan sebuah hujan itu sendiri tidak sesepele yang kita duga. Air di permukaan bumi perlahan menguap oleh tarikan matahari dan kemudian berkimpul menjadi sebuah awan mendung pekat yang saling berarak, maka itu adalah tanda awal terjadinya hujan, seperti itu dugaan kita selama ini. Namun benarkah demikian mudah hujan itu terjadi ?

Ada Tangan Tuhan Di Balik Hujan

Senin, 17 Agustus 2009 silam, harian Jawa Pos mewartakan bahwa warga Palangkaraya Kalteng begitu sumringah menyambut datangnya hujan. Mereka bersyukur sedemikian rupa karena ternyata hujan yang terjadi selama 3 jam pada hari Minggu (16/08/09) tersebut mampu membersihkan langit kota itu yang selama 3 bulan terakhir tertutup asap pekat. Dan ternyata yang membuat mereka dapat sedemikian bersyukurnya bukan hanya karena berhasilnya asap kota itu dibersihkan oleh air hujan, namun juga lebih kepada menghargai proses (usaha) pembuatan hujan itu sendiri. Pasalnya hujan yang mengguyur salah satu kota besar di borneo itu adalah hasil dari proses hujan buatan. Hujan buatan itu sendiri menelan biaya yang tidak sedikit, yang berasal dari uang negara (APBN) senilai Rp 2 Miliar yang digunakan untuk membuat hujan buatan selama 20 hari. Dan salah satu perangkat yang digunakan dalam proyek ini adalah pesawat Casa 21-200 buatan IPTN yang digunakan untuk merangsang turunnya hujan di Palangkaraya. Burung besi itu digunakan untuk menaburkan 1 ton Glasiogenik (Zat Garam) setiap harinya. Penaburan itu sendiri difokuskan di atas wilayah yang mengandung Hotspot (Titik api di hutan yang terbakar). Dan untuk sekali penaburan dibutuhkan sekitar 1 ton garam yang dananya sekira Rp 100 Juta.
Melihat fenomena menarik ini (membuat hujan buatan) bukankah ada satu hal besar yang patut kita renungkan. Bahwa ternyata hujan yang terkadang sering kita caci karena terkadang mengganggu aktivitas kita, ternyata adalah sebuah hadiah besar langit bagi bumi. Karena di dalamnya terkandung pesan tersirat bahwa betapa maha Pemurahnya Allah yang menurunkan hujan tanpa menarik biaya sepeserpun bagi manusia yang menikmatinya. Tentu jika kita dapat bandingkan dengan hujan buatan ala manusia yang hanya untuk perkiraan 20 hari saja sudah membutuhkan biaya sebesar Rp 2 Miliar. Dan itupun terkadang tidak sesuai rencana (hujan buatan gagal diciptakan) seperti yang pernah terjadi di beberapa daerah di bumi. Lantas sebuah pertanyaan besar bagi kita kemudian adalah, dimanakah bentuk kebersyukuran kita atas semua kemurahan Nya ini?
Memang benar bahwa hujan akhir-akhir ini banyak membawa bencana dan mematikan banyak makhluk (yang teranyar adalah kasus longsor Kebun Teh Di Jawa Barat akibat tanah yang tidak kuat menahan hujan yang turun lumayan lama). Namun toh itu juga dapat kita jadikan pelajaran berharga bagi kita. Karena bencana-bencana itu ternyata diakibatkan hujan besar yang jika ditarik garis jauh penyebabnya adalah karena terganggunya siklus hujan. Dan salah satu penyebab terganggunya siklus tersebut adalah karena ulah manusia. Mereka menebang hutan, mengasapi angkasa dengan Freon, asap rokok, dan berbagai bentuk polutan lainnya yang pada akhirnya mengerucut pada makin hancurnya ozon kita. Dan dapat ditebak yang terjadi selanjutnya adalah Global Warming telah berhasil kita ciptakan sekarang. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa satu dari sekian dampak pemanasan global ini adalah kacaunya siklus cuaca. Hujan lebat dalam waktu lama sering terjadi. Panas yang kian memuncak di musim kemarau, badai salju dan putting beliung juga kerap menyambangi bumi kita dll. Bukankah itu semua juga berasal dari ulah jahil tangan-tangan kita.
Sebenarnya Rasulullah telah mengajarkan kita sebuah doa yang sangat cocok bagi keadaan kita saat ini yang kerap dirahmati hujan oleh Allah namun sering terjadi bencana di baliknya. “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami bukan pada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di tanah-tanah tinggi, bukit-bukit, lembah-lembah serta tempat-tempat di mana tanaman tumbuh.” (Riwayat Al Bukhari).
Sebuah kesimpulan dari pembahasan ini adalah: sebuah perbandingan yang tak seimbang tentang betapa hebat dan pemurahnya Tuhan pada kita para makhluknya. Meski jujur kita para hambanya terlalu sering mendurhakai Nya. Dan betapa tak berdayanya manusia untuk menciptakan sebuah “karya” besar berupa hujan yang bahkan mereka telah gagal bukan hanya pada taraf menciptakan tapi juga gagal pada taraf mencoba-coba meniru “karya” Tuhan yang berupa hujan buatan tersebut.

“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira. Dan sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.” [Qs. Ar Ruum (30) : 48-49].
Inilah bukti kekuasaan Allah di semesta ini. Ayat-ayat Nya bahkan telah jauh hari (sejak 14 Abad lampau) telah menjelaskan tentang sesuatu yang besar di balik fenomena hujan. Maka sudah seharusnya kita mensyukuri hujan yang disiramkan langit pada kita hari ini. Karena jika suatu saat kelak kita mengalami kehilangan hujan (musim kemarau panjang) dan kita tidak berhasil “memaksa” Tuhan untuk memberi kita hujan, maka kita akan benar-benar merasakan betapa memang sangat berharganya hujan hari ini.
So, Thank’s For Ur Rain, God . From me, one of the Rains Admirers.
Wallahu A’lam.

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena
Di                        : Senyapandaan