Renungan Sang Tekukur Senja

Renungan Sang Tekukur Senja

Sore itu sekira langit mulai beranjak ke arah petang, di sebuah pucuk rerimbun pohon Bambu Jawa, nampak olehku seekor Tekukur yang tengah bertengger santai dibingkai indah langit agak mendung di atasnya. Dari tempat berpijakku, aku hanya bisa menerka-nerka apakah gerangan yang tengah bergemuruh di kepala Sang Tekukur Senja tersebut. Adakah dia sedang merenungkan jalan hidup yang jalin berjalin yang telah ditempuhinya selama ini, ataukah dia tengah merenungkan akhir hidup seperti apakah yang segera akan dihadapinya, mungkin pula dia mentafakuri alam sekitarnya yang sudah hampir berubah wajah sepenuhnya, atau bisa juga dia sedang berzikir (bertasbih) memuji Tuhannya karena dalam Al Qur’an juga telah dijelaskan bahwa semesta alam dan isinya ini selalu bertasbih padaNya dengan caranya masing-masing yang tidak kita mengerti, termasuk cara bertasbih si Tekukur senja tersebut. Ah entahlah, semua terkaku kubiarkan saling bergumul keras di kepalaku. Yang jelas dari pemandangan senja yang syahdu tersebut aku perlahan tersentak bahwa ini adalah sebuah pesan langit yang dikirim Tuhan agar aku sebagai manusia juga selalu merenungi (mentafakuri) hidup dan segala yang ada di sekeliling kehidupan ini. Bahwa perjalanan hidup manusia ternyata dapat pula dicerminkan seperti perjalanan Sang Tekukur Senja tersebut.

Mungkin menurut anda Metafora ini terlalu berlebihan atau bahkan mengada-ada, namun menurut mata “nakal” imadjie-ku hal seperti ini tidaklah terlalu berlebihan. Karena toh Tuhan jika mau mengajarkan sesuatu kepada manusia juga dapat melalui perantara makhluk-makhluknya yang ada di alam semesta ini. Namun hal ini bukan berarti membuat kita boleh mengatakan bahwa Tuhan terlalu berbelit-belit atau mempersulitkan sesuatu yang seharusnya mudah saja bagiNya yang nyata menamai DiriNya sendiri Sang Maha Perkasa nan Kuasa dan yang Menguasai Segala Sesuatu.

Tuhan terkadang melakukan hal demikian(mengajari atau mengingatkan hambaNya melalui salah satu makhlukNya di bumi termasuk Sang Burung Tekukur) karena bermaksud agar si manusia dapat mengambil pelajaran berharga dengan terlebih dahulu merendahkan hatinya, menanggalkan ego dan kesombongannya selaku manusia yang merupakan makhluk tersempurna di hadapan Tuhannya, karena ternyata makhluk Allah yang lainnya pun seperti binatang maupun tumbuhan yang sering dianggap remeh oleh manusia ternyata terkadang dapat pula lebih “memahami” sebuah sesuatu daripada para manusia itu sendiri. Kita tentu masih ingat kisah abadi sepanjang zaman yang diabadikan Al Qur’an tentang kisah perkelahian 2 ekor burung gagak di hadapan 2 anak manusia pertama yang saat itu saling berbunuh. Qobil yang tengah memendam bara api dendam tega membunuh saudaranya sendiri yang bernama Habil karena tertolaknya kurbannya pada Tuhan yang dia maksudkan untuk memohon persetujuanNya agar mengizinkan dia menikahi saudari kandungnya sendiri yang lebih cantik daripada saudari kandung Habil yang menurut hukum Langit harus dinikahi Qobil. Nah setelah peristiwa pembunuhan pertama dalam sejarah manusia di bumi itu, Qobil sang tersangka utama merasa bingung dengan mayat saudaranya itu, dan di tengah kebingungan itulah Tuhan mengirimkan 2 ekor burung gagak yang ditugaskan untuk “saling berkelahi dan berbunuh”. Setelah salah satu gagak mati, gagak yang lain yang masih hidup mengais-ngais wajah bumi lalu menguburkan mayat gagak yang telah mati tadi. Qobil yang semula tercengang perlahan tersadar bahwa para gagak tersebut tengah mengajarinya sesuatu yang tidak ia ketahui sebelumnya (cara mengurus jenazah saudaranya), sebuah pengajaran yang sangat berharga yang hingga kini masih dilestarikan oleh anak cucu Adam (berupa proses/cara penguburan jenazah). Dari sini kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa manusia pun dapat “diajari’ Tuhan melalui makhluk-makhluknya yang lain seperti binatang (termasuk Si Burung Gagak dan Juga Si Tekukur) yang sering dianggap rendah oleh para manusia yang sering menganggap dirinya adalah makhluk paling tinggi dan mulia.

Kembali ke kisah Si Tekukur Senja di atas, si tekukur tersebut ternyata juga tengah mengajarkan pada kita bahwa hidup ini (terutama di zaman seperti sekarang ini) terkadang seperti proses memakan buah simalakama alias dilematis. Ketika kita memilih untuk mandiri , bebas, dan tak terikat dengan aturan sistem made in manusia maka kita mendapati hidup ini seolah-olah sangat sulit dan juga dipersulit. Bagi anda yang kebetulan menyandang peran hidup sebagai wirausahawan yang berdikari, maka anda tentu akan merasakan bagaimana sebuah perjuangan usaha sungguh akan bernilai tiap langkahnya. Karena di awal mula meniatkan terjun di dunia ini kita tentu akan dihadapakan pada kondisi dimana zona nyaman dan aman adalah sebuah titik yang sementara harus ditinggalkan. Namun setelah proses perjuangan panjang yang berujung pada kesuksesan karier, financial, personalitas dan keberhasilan me-manage diri dan usaha sendiri, tentu segala peluh dan perih di awal perjuangan akan tidak ada artinya sama sekali karena sang wirausahawan yang berhasil telah mencapai titik puncak yang disebut Zona Layak. Zona yang merangkum zona nyaman dan aman di dalamnya dan yang memang pantas (layak) didapatkan oleh mereka yang telah “berani” memperjuangkan keyakinan diri dan idealismenya. Dan coba anda bandingkan dengan para saudara kita yang kebetulan bekerja dalam ruang kerja yang terikat sistem seperti pabrik, kantor dan instansi negara. Mereka memang dalam pandangan biasa seperti hidup tenang dan enak-enak saja. Mereka berada dalam zona nyaman dan aman saat ini. Namun jujur dalam hati mereka (termasuk saya sendiri yang berada dalam lingkaran perburuhan) selalu setiap saat merasa was-was dengan kelangsungan nasib masing-masing. Karena seperti telah kita ketahui bersama bahwa di era kapitalisme seperti sekarang hanya ada 2 modal utama yang banyak diperlakukan secara sewenang-wenang oleh para penguasa modal. 2 hal utama yang merupakan bahan bakar utama penggerak mesin kapitalisme tersebut adalah buruh dan modal. Saat ini nasib para buruh terutama di Indonesia kian terkatung-katung terutama setelah adanya kebijakan Out Sourching dan Contract System. Para buruh memang banyak pula yang masih berada di titik dan lingkaran zona nyaman dan zona aman hingga saat ini, namun jumlah mereka (karyawan-karyawan mapan yang telah berstatus tetap) hanya segelintir saja jika dibandingkan dengan jutaan buruh yang nasibnya kian tak menentu. Namun itupun belum menjamin seratus persen kepuasan batin mereka karena mereka juga patut was-was jika suatu waktu harus resign dari tempat kerja mereka dan mendapat pesangon karena tempat kerja mereka Colaps alias bangkrut.

Nah, bukankah 2 perbandingan sederhana di atas telah dapat ter Metafora-kan oleh tamsil hidup para burung. Mereka ada yang memilih hidup bebas di alam lepas dengan mencari segala penunjang kehidupannya (rizkinya) melalui usahanya sendiri, melalui kepakan sayapnya yang gagah menjelajahi udara di atas bumi. Dan mereka berani memilih jalan hidup itu dengan segala resiko besar didalamnya seperti minimnya zona nyaman dan aman bagi mereka namun mereka tetap berpendapat bahwa mereka telah mencapai titik kepuasan hidup di lingkaran zona layak bagi mereka. Dan ada pula beburung yang memilih atau sengaja dipilihkan berada dalam kehidupan yang segala fasilitasnya telah terpenuhi lengkap namun terbatasi oleh sangkar (sistem) yang membatasi kepakan sayap mereka. Mereka berada dalam zona sangat nyaman dan aman yang minim resiko -seperti bebas dari ketakutan akan diburu pemangsa seperti jika mereka hidup di alam bebas- karena segala penunjang kehidupannya telah dipenuhi oleh sang pemelihara mereka. Namun entah pula yang ada dalam benak mereka, karena senyaman apapun hidup mereka, toh tetap saja potensi jalajah kepakan sayapnya yang sebenarnya mampu menjelajahi angkasa harus terhilangkan karena dibatasi oleh sangkar emas (sistem kenyamanan hidup yang nampak indah namun ternyata dapat memasung besarnya potensi subjek yang terkurung atau dikurung dalam sistem tersebut). Mereka memang berada dalam zona nyaman dan aman namun mereka berada jauh dari lingkaran zona layak. Karena sebenarnya mereka layak mendapatkan yang lebih dari itu. Sayap perkasa mereka terlalu berharga dan tak layak dihargai sebatas luas sangkar emas.

Namun itulah memang kenyataan hidup kita saat ini. Banyak di antara kita yang memilih jalur hidup seperti burung bebas yang berani mengepakkan sayap gagahnya mengangkasai segala mata angin dengan segenap resikonya. Dan tidak sedikit pula dari kita yang memilih atau juga yang dipilihkan jalur hidup seperti burung dalam sangkar emas yang meskipun segala keperluan hidupnya terpenuhi dan hidup dengan nyaman dan aman namun terbatasi oleh sistem “sangkar emas” yang ternyata telah mempersempit ruang gerak dan kepakkan sayap (potensi diri) nya.

Dan saya maupun anda kini tengah berada dalam salah satu pilihan hidup dilematis tersebut. Dan percayalah, saya mendapatkan hikmah dan pelajaran ini dari “langit” melalui perantara Sang Tekukur Senja yang sore itu sedang hinggap tenang di pucuk pepohonan bambu di senja hari di buritan GoeboekImadjie-ku.

Wallahu A’lam

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena

Di                : Senyapandaan