Sebuah Jembatan Hati

Sebuah Jembatan Hati

Sepulang dari sholat di Masjid Muhammad Cheng Hoo, sering kali aku melewati sebuah perumahan yang termasuk paling elite di kawasan Pandaan yang lokasinya tepat di sebelah Masjid berasitektur Cina tersebut. Di pemukiman mewah ini hampir sebagian besar desain rumahnya sama. Besar, terlihat bagus dan sepi membisu tak selayak rumah-rumah di kampung yang selalu terkesan terbuka. Dan salah satu hal yang paling menarik perhatianku adalah begitu kokoh dan angkuhnya rumah-rumah tersebut dengan pagar besi yang dijadikan tameng alias bamper masing-masing. Jujur sebagai seorang yang terbiasa hidup di kampung, kesan pertama menyaksikan pemandangan seperti itu adalah ketakjuban tentang betapa hebatnya yang memiliki atau membangun rumah-rumah tersebut. Pasti mereka orang berduit yang super sibuk dan bahkan jarang berada di rumah. Namun kesan pertama yang mencerminkan sebuah ketakjuban tersebut perlahan mulai terkikis oleh kesan kedua, ketiga dan kesan-kesan berikutnya. Pasalnya, semakin sering aku mengamati kondisi rumah-rumah tipe “Sangkar Emas” ini semakin aku lebih dapat bersyukur tentang kehidupanku yang bertunas dari kampung/desa. Karena ternyata setelah direnungi lebih dalam kondisi rumah-rumah elite tersebut tak lebih dari rumah yang malah dapat “membunuh” penghuninya sendiri. Selain lumayan Mubazir karena meski dibangun dengan biaya mahal namun jarang ditempati, hunian semacam ini perlahan juga dapat menghilangkan identitas alami seorang manusia sebagai Makhluk Sosial. Seperti yang diketahui bersama, bahwa ciri khas makhluk sosial adalah saling membutuhkan manusia lain melalui interaksi dan komunikasi di antara mereka. Nah, bukankah hunian “sangkar emas” macam itu hampir pasti dapat dipastikan mereduksi secara perlahan kodrat alami manusia sebagai makhluk sosial tersebut. Dengan pagar-pagar besi dan tembok tinggi yang mengelilingi hunian-hunian itu, para penghuninya tentu jarang dapat berkomunikasi dengan tetangga di sebelahnya. Selain karena kesibukan masing-masing, hal ini juga dapat disebabkan oleh budaya masyarakat urban (kota) yang tlah terbiasa hidup dengan dunia dan egonya dhewe-dhewe. Hal ini tentu berbanding terbalik dengan sistem hidup dan budaya masyarakat pedesaan yang masih menjunjung rasa persaudaraan, kekeluargaan, dan menjadikan Silaturahim dan keberbauran hidup sebagai gaya hidup yang telah mengakar kuat.

Jika hunian-hunian mewah tersebut menggunakan pagar besi dan tembok-tembok tinggi untuk memagari (melindungi keamanan rumahnya), maka hal ini tidak berlaku sama sekali di lingkungan pedesaan. Mereka (masyarakat desa) menggunakan rasa persaudaraan dan kekeluargaan mereka sebagai “pagar pelindung” rumah mereka. Karena masing-masing warga memiliki rasa saling memiliki dan menjaga lingkungan keluarga dan menghormati hak-hak dan kewajiban para tetangga mereka. Sebuah hal yang akan sangat sulit ditemui dalam lingkungan masyarakat elit khas perumahan “Sangkar Emas” tersebut. Jangankan mempedulikan keadaan tetangga sekitarnya, mengenal mereka pun terkadang tidak. Padahal hal-ihwal masalah tetangga ini sangat penting dalam ajaran Islam. Bahkan sang nabi tercinta kita telah berkali-kali mewanti-wanti kita sebagai umatnya agar senantiasa memperhatikan hak-hak para tetangga kita. Beliau pernah bersabda di akhir-akhir masa hidup beliau bahwa Allah melalui Jibril sering mengingatkan tentang hak-hak tetangga yang harus diperhatikan dengan seksama. Bahkan Rasulullah menganggap bahwa tetangga hampir-hampir seperti orang yang masuk dalam kategori mereka yang berhak mendapat hak waris (seperti keluarga) karena saking seringnya Jibril mengingatkan Nabi tentang hal ini. Sebenarnya hal tersebut sangat wajar karena tetangga terdekat kita adalah juga saudara terdekat kita –meski persaudaraan ini tersekat oleh ikatan darah-. Karena jikalau ada apa-apa terjadi terhadap keluarga dan rumah kita, merekalah yang terlebih dahulu akan membantu kita dengan sukarela. Jadi sungguh sangat wajar jika agama kita memerintahkan kita untuk memuliakan para tetangga kita. Dan salah satu cara memuliakan adalah dengan berbaur, berinteraksi, tolong-menolong dan membantu serta saling bersilaturahim dengan mereka. Dan bukan malah saling menjauhi dengan cara menutup rumah-rumah kita dengan pagar besi dan tembok tinggi yang angkuh. Karena hal ini dapat memutus interaksi kita dengan para tetangga sekitar, dan ketika interaksi terputus maka ujung-ujungnya adalah muncul budaya hidup sendiri-sendiri ala kehidupan rimba yang perlahan dapat menihilkan rasa empati dan simpati kita dengan lingkungan sekitar kita. Toh, bagaimana dapat memiliki sifat empati dengan kondisi para tetangga kita, jika mengenal dan bergaul dengan mereka saja kita tidak pernah. Padahal Bukanlah disebut orang Islam jika seseorang itu tidur dalam kondisi perutnya kenyang sedangkan tetangga sekitarnya kelaparan, demikian Sabda nabi kita yang mulia.

Sebagai penutup tulisan ini ada baiknya jika kita menyimak kisah hikmah yang telah masyhur berikut :

Di sebuah masa dikisahkan ada 2 orang bertetangga yang hidup di pinggiran sungai kecil yang deras. Awalnya mereka hidup rukun berdampingan meskipun dipisahkan oleh sungai di antara mereka. Namun, kehidupan mereka perlahan berubah menjadi saling benci yang diawali oleh perubahan sifat salah satu dari mereka. Mulanya mereka masih saling bertegur sapa atau sekedar saling senyum tiap harinya, meskipun masing-masing mereka tidak pernah saling berkunjung secara fisik karena terpisah oleh sungai. Ketidakharmonisan mulai muncul ketika salah satu dari mereka membangun sebuah pagar agak tinggi yang tentunya menghalangi si tetangga untuk melihat rumah si tetangganya yang berada di seberang sungai tersebut. Dari sini perlahan mereka mulai jarang bertegur sapa karena terhalangi oleh tembok tersebut. Masing-masing mulai hidup dengan dunianya. Dan lama-kelamaan kebencian dan sifat saling iri hati dan ingin saling bersaing mulai tumbuh di hati mereka. Suatu hari dipanggilah seorang tukang bangunan oleh si tetangga yang masih belum memagari rumahnya tersebut. Tukang bangunan tersebut dipanggil tidak lain agar dapat membuatkan pagar yang sama dengan si tetangga yang ada di seberang sungai sana. Si tukang bangunan sebenarnya bersedia membuatkan tembok namun dia melihat gelagat masalah yang terjadi di antara sepasang tetangga ini. Dia berfikir bahwa dengan membuatkan tembok yang sama tentunya akan malah memmperparah ketidakharmonisan di antara mereka. Maka diputuskanlah olehnya untuk membuatkan sebuah jembatan sederhana dari kayu di atas sungai kecil tersebut agar sepasang tetangga itu dapat saling berkunjung dan mencairkan kebekuan hubungan di antara keduanya. Setelah jembatan usai dibuat, si penyewa tukang bangunan tersebut terperangah bukan main. Dia mulai marah karena hal ini tidak sesuai dengan keinginannya yang bermaksud agar dibuatkan pagar tembok di rumahnya dan bukan malah dibuatkan jembatan. Si tukang kemudian menjelaskan perihal semua ini. Bahwa sebenarnya akar semua masalah di antara sepasang tetangga tersebut adalah tidak adanya atau terputusnya “jembatan” silaturrahim di antara mereka. Maka dengan membangun sebuah jembatan sederhana ini diharapkan dapat menyambungkan kembali “jembatan” itu. Dan “pagar” yang menghalangi mereka selama ini harus segera dirobohkan. Setelah mendengar nasihat bijak itu, tersadarlah dia. Dan hal pertama yang segera dia lakukan adalah menyeberangi sungai di atas jembatan menuju ke kediaman tetangganya yang berada di seberang sungai. Dan setelah mereka bertemu dan saling berjabat tangan dan berpelukan hangat, mereka mulai berbicara dari hati ke hati tentang masalah mereka selama ini. Singkat kisah, keadaan mereka mulai membaik kembali berkat “jembatan” itu. Dan si tukang bangunan kemudian menawarkan kepada mereka berdua untuk menyewa dirinya guna merobohkan pagar tembok yang selama ini menghalangi mereka. Setelah disetujui, pagar itupun dirobohkan yang berbarengan pula dengan robohnya “pagar” penghalang di antara hubungan sepasang tetangga tersebut.

Kawan, bukankah memang lebih baik membangun “jembatan” di antara kita sebagai sesama manusia yang saling bertetangga, bersahabat dan bermitra. Dan bukan malah membangun “pagar” dan tembok-tembok penghalang yang dapat membunuh “ke-manusia-an” kita yang telah dikodratkan sebagai Makhluk Sosial. Dan yakinlah bahwa dengan membangun sebuah “jembatan” maka perlahan segala masalah dalam hidup di dunia ini akan dapat dicarikan jalan keluarnya. Karena dengan adanya “jembatan” Insyaallah tak akan ada lagi saling perang, benci, curiga dan hal-hal anti kebaikan lainnya. Sekarang pilihan berada di tangan kita. Ingin membangun Jembatan atau Pagar Tembok???

Wallahu A’lam.

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena
Di : Senyapandaan