Keadilan Ala Tuhan

Keadilan Ala Tuhan

Suatu hari Nabi Musa pernah bermunajat kepada Allah agar berkenan memberinya kesempatan untuk dapat menyaksikan secara langsung Rasa Keadilan ala (versi) Tuhan kepada segenap makhluknya di jagad ini, terutama di bumi. Beliau melakukannya bukan karena adanya sikap meremehkan dan meragukan Tuhan sebagai Zat yang paling adil, namun lebih pada upaya menambah kemantapan iman baginya. Pada awalnya Tuhan sudah menolak permintaan sang Nabi Negeri Fir’aun itu dengan alasan bahwa Musa tak akan sanggup dan sabar dalam menyaksikan proses berjalannya Keadilan Tuhan pada makhluk-makhluknyanya tanpa Taufik dari Nya, namun karena Musa terus “mendesak” maka akhirnya Tuhan pun “luluh”. Setelah itu, Tuhan menyuruh Musa di sebuah hari yang ditentukan waktunya agar dirinya berada di atas bukit di sekitaran Gunung Tursina yang paling dekat dengan sebuah mata air, dan Musa pun menyanggupi permintaan Tuhan tersebut. Pada hari H Musa telah sepenuhnya bersiap-siap di atas bukit dekat mata air yang dimaksud oleh Tuhan.

Pemandangan pertama yang ia lihat adalah seorang penunggang kuda yang berhenti di dekat mata air itu dan meletakkan sebuah kantong (bungkusan) di sebelah batu dekat tempatnya mengambil air minum di mata air itu. Setelah itu dia menaiki kudanya kembali dan pergi dari tempat itu tanpa membawa kantong bawaannya tadi. Tak lama kemudian datanglah seorang anak kecil ke mata air itu, setelah puas meminum air di telaga itu, tanpa sengaja matanya menyasar dan melihat sebuah kantong di dekat batu. Karuan saja dia ambil kantong itu lalu ngeloyor pergi entah kemana.

Selang beberapa waktu kemudian datanglah seorang tua yang buta ke telaga itu. Dia mengambil air di telaga itu untuk berwudhu dan menunaikan Ibadah di dekat telaga itu, setelah selesai maka sekonyong-konyong datanglah sang penunggang kuda tadi yang bermaksud mengambil kembali kantongnya yang tertinggal tadi. Setelah sekian lama mencari dan hasilnya nihil belaka, sang penunggang kuda tadi mulai marah dan menuduh si tua buta yang telah mengambil kantongnya yang berisi banyak uang tersebut karena tak ada orang lain di sekitar telaga itu kecuali si tuna netra itu. Si tua buta tentu saja menolak tuduhan tak berdasar itu, pasalnya meskipun tak ada orang lain di tempat itu selain dirinya, namun hal ini tidak boleh serta merta menjadikan dirinya sebagai tersangka tunggal. Karena mana mungkin dirinya dapat mengambil kantong itu dengan kondisi penglihatan yang sudah “Tuna” itu. Namun sang penunggang kuda tetap ngotot dan menuduh bahwa si buta lah yang telah mengambil kantongnya. Karena toh yang digunakan oleh pencuri dalam melakukan aksinya adalah tangan dan bukan sekedar mata saja. Setelah proses saling tuduh makin memanas, sang penunggang kuda tadi membunuh si buta lalu beranjak pergi dari tempat itu.

Musa yang sedari awal mengikuti peristiwa ini mulai hilang kesabarannya mengenai maksud dari semua peristiwa ini, dan akhirnya dia pun memohon pada Allah agar menjelaskan satu persatu potongan-potongan kisah yang di akhirnya menjadi sebuah peristiwa kehidupan yang utuh tersebut. Karena meskipun seorang Nabi, tetap saja beliau adalah seorang manusia yang tak dapat memungkiri kodratnya sebagai makhluk yang tak akan dapat lebih mengetahui sesuatu daripada Sang Khalik (Tuhan). Setelah menegur Musa yang telah gagal bersabar menyaksikan semua “Skenario” Tuhan itu, maka Tuhan sendirilah yang kemudian “turun tangan” menjelaskan secara terperinci masing-masing potongan kisah selayak susunan Puzzle tersebut .

Pertama, mengenai tewasnya seorang tua yang buta di tangan lelaki penunggang kuda karena tuduhan “tak berdasar” sebagai pencuri. Sebenarnya dia memang layak untuk mati dengan cara demikian. Pasalnya sebelum dia mengalami kebutaan, dia pernah pula melakukan pembunuhan terhadap manusia lain yaitu terhadap bapak dari anak kecil yang mengambil kantong berisi uang milik si penunggang kuda tadi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tewasnya si tua buta tersebut adalah merupakan sebuah bentuk “keadilan Tuhan” kepada makhlukNya. Nyawa dibayar dengan nyawa, demikian hukum Qisash yang dijelaskan dalam Al Qur’an yang notabene adalah Made In Tuhan sendiri.

Kedua, tentang uang dalam kantong yang berpindah tangan dari si penunggang kuda kepada anak kecil. Sebenarnya ini adalah sebuah bentuk Keadilan Tuhan yang lain. Anak kecil tersebut memang lebih berhak memiliki uang itu daripada si penunggang kuda. Karena jauh di waktu lampau, ternyata bapak dari anak kecil itu adalah seseorang yang bekerja pada si penunggang kuda. Namun upah dari bapak si anak kecil itu selalu ditahan alias tidak diberikan yang lama-kelamaan jumlah upahnya setara dengan jumlah uang yang kini berada di tangan anak kecil itu. Dengan kata lain si anak kecil selaku ahli waris utama telah mengambil upah (hak) bapaknya yang selama bekerja tidak pernah diberikan.

Setelah mendengar penjelasan Tuhan tentang makna di balik peristiwa selayak Puzzle yang penuh misteri di awalnya tersebut, Musa pun mulai menyadari memang Dia lah yang Lebih Mengetahui bentuk Keadilan yang paling adil dan seimbang terhadap semua ciptaanNya. Namun kebanyakan manusianya saja yang tidak bisa atau bahkan tidak akan bisa menerka-nerka bentuk-bentuk keadilan ala Tuhan yang terkadang aneh, unik, nyeleneh dan penuh teka-teki misteri. Namun yang jelas setelah membaca kisah yang termaktub dalam salah satu kitab Sang Hujjatul Islam Imam Al Ghazali tersebut, maka satu tanya besar yang patut muncul di benak kita, bukankah semua itu adalah bentuk keadilan terindah dari Sang Maha Mengetahui?

Dari kisah hikmah di atas dapat kita pahami bahwa apapun masalah dan cobaan yang kini tengah menimpa kita, keluarga kita, dan manusia-manusia sekitar kita adalah sebuah bentuk kasih sayang Tuhan pada kita. Dan yakinlah bahwa Tuhan Maha Adil dan tidak akan membebani manusia kecuali sesuai kesanggupannya. Kisah di atas juga mengajari kita bahwa jangan pernah terburu-buru dalam menilai setiap Tindakan Tuhan yang mungkin dalam pandangan mata manusia sering terlihat aneh, rumit, misterius dll. Sehingga muncul dalam benak kita mengenai sikap Syak Wasangka (Su’uzhon/buruk sangka) bahwa Tuhan tidak adil pada kita yang sebenarnya sifat “berburuk sangka” itu memang wajar-wajar saja bagi kita selaku manusia yang hanya tahu masalah yang diberikan Tuhan pada kita hanya dari hadapan saja, tanpa pernah tahu asal mula terjadinya semua permasalahan tersebut. Dengan kata lain, kita hanya tahu “Skenario” dan “Kelakuan” Tuhan hanya separuh atau sepotong-potong saja tanpa pernah tahu bentuk utuhnya. Maka wajar saja jika Al Qur’an mengajari kita agar tidak pernah berburuk sangka terhadap Allah karena Allah sesuai prasangka hambaNya, demikian sebuah Hadis Qudsi yang indah menuturkan. Sadar diri saja bahwa kita ini hanya manusia yang lemah yang tak boleh sembarangan men-Cap Tuhan sesuai selera nafsun kita. Lagipula kita tak akan pernah dapat sehebat Tuhan yang dapat membaca dan mengetahui seluruh potongan peristiwa yang telah ter-Skenario rapi dalam Lauh Mahfuzh. Kita hanya dapat mengetahui skenario itu sepotong-sepotong saja, seperti kisah nabi Musa di atas. Maka yang harus kita lakukan sekarang adalah duduk manis penuh perhatian dan perenungan dalam “membaca” tiap masalah yang kita hadapai saat ini dan juga selalu berbaik sangka pada Nya karena yakinlah Tuhan tidak pernah menghendaki sesuatu yang buruk bagi makhluknya kecuali para makhlukNya itu sendiri yang menghendaki keburukan bagi dirinya. Yakini saja bahwa misteri dan teka-teki Tuhan ini akan berujung indah di akhir skenarioNya jika kita memang meyakininya demikian. Dan mari kita nikmati dan ikuti saja permainan Puzzle ala Tuhan yang masing-masing potongannya tersebar dan berserakan di sekitar kita tersebut.
Wallahu A’lam.

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena
Diseduh Di      : Senyapandaan