Gugatan Pengemis

Gugatan Pengemis

Selang beberapa hari setelah Rasulullah wafat, Abu Bakar Ash Shidiq sang Sahabat utama yang juga merupakan mertua sang Nabi mendatangi kediaman Rasulullah untuk menemui istri nabi, Aisyah, yang tak lain juga adalah putri kesayangannya. Sahabat yang termasuk dalam 10 orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah ini kemudian bertanya pada Ummul Mukminin Aisyah r.a.

“Wahai putriku adakah kebiasaan kekasihku (Rasulullah) yang selama ini selalu beliau kerjakan yang belum pernah aku tahu. Beritahukanlah kepada ayahandamu ini agar aku dapat mengerjakannya.”

“Wahai ayahku, engkau adalah seorang Ahli Sunnah yang hampir tiada satupun kebiasaan Rasulullah yang belum engkau tunaikan, kecuali satu hal,” jawab Aisyah r.a.

“Kebiasaan apakah itu, wahai putriku?” Abu Bakar kembali bertanya dengan nada penuh penasaran.

“Rasulullah setiap pagi selalu pergi ke ujung pasar Madinah dengan membawa bekal makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana,” tutur Aisyah.

Kemudian keesokan harinya di pagi hari Abu Bakar pergi menuju ke tempat yang dimaksudkan oleh putrinya tersebut dengan membawa makanan untuk pengemis itu. Sesampainya di tempat tersebut, betapa kagetnya beliau mendengar segala caci dan sumpah serapah yang meluncur dari mulut pengemis Yahudi buta itu. Pengemis itu selalu berkata kepada setiap orang yang lewat di dekatnya dengan kalimat “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad karena dia adalah orang gila, dia itu pembohong dan tukang sihir. Apabila kalian mendekatinya maka kalian pasti akan dipengaruhinya.” Dan kalimat-kalimat keji itu selalu dia ucapkan setiap hari dalam hidupnya di tempat itu. Abu Bakar sebenarnya merasa marah karena kekasih Allah itu dihina sedemikian kejinya, namun beliau mencoba menguasai diri agar tak terbawa emosi sesaat yang dapat mengaburkan niat awalnya untuk datang ke tempat itu. Beliau lalu mendekati pengemis Yahudi buta itu untuk memberi makanan dengan cara menyuapinya. Namun baru pada suapan pertama, si pengemis marah dan menghardik Abu Bakar sambil berkata, “Sipakah kamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku adalah orang yang biasa menyuapimu,”

“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa menyuapiku,” pengemis itu membantah. “Apabila dia menyuapiku, tidak susah tanganku ini memegang dan tak sulit mulut ini mengunyah. Orang yang biasa menyuapiku itu, selalu menghaluskan makanannya sebelum memberikannya padaku,” lanjut si pengemis. Abu Bakar yang tidak mampu menahan air matanya yang mulai deras membasahi pipinya kemudian berkata kepada pengemis itu dengan isak tangis, “Aku memang bukanlah orang yang biasa mendatangimu itu. Aku adalah salah seorang sahabatnya. Orang yang mulia itu kini telah tiada. Dia adalah Muhammad SAW., orang yang selama ini selalu engkau caci penuh kebencian.”

Demi mendengar penjelasan Abu Bakar itu, seketika menangislah si pengemis Yahudi tua itu. Tak pernah ia menyangka akan semua ini. Dengan berurai air mata dia bertanya pada Abu Bakar, “Benarkah demikian? Oh celakalah aku, padahal selama ini aku selalu menghinanya dan memfitnahnya di hadapan semua manusia, namun ia tidak pernah memarahiku sedikitpun. Bahkan masih saja tiap hari membawakan dan menyuapiku makanannya. Oh, betapa mulianya dia….!”
Seketika itu pula ia mengikrarkan dua kalimat tersuci di dunia (kalimat Syahadat) dan menjadi seorang Muslim di hadapan salah satu sahabat termulia dari Seorang Manusia termulia di semesta ini.

Kawan, adakah saat ini seorang pemimpin seperti ini di negeri ini. Yang selalu memiliki sifat welas asih kepada manusia lain, terutama kepada rakyat jelata. Bahkan kepada seorang pengemis yang selalu mencaci orang yang “memeliharanya” selama ini . Ah, nampkanya sulit belaka kita temui tipikal pemimpin seperti Rasulullah dengan akhlaknya yang mulia itu. Jangankan menyantuni kaum papa, memelihara kehidupan mereka saja “mereka” masih belum bisa. Bukankah telah begitu banyak kita saksikan dengan mata kepala kita sendiri betapa “gagahnya” para aparat plat merah kala menggusur dan mengusir para kaum pinggiran yang yang kian dipinggirkan itu. Padahal Konstitusi negara ini (UUD 45) telah memberi amanah kepada para “Nahkoda” negeri ini agar senantiasa memelihara mereka. Memelihara dalam arti menyantuni dan memberi kehidupan dan sumber kehidupan (mata pencaharian) kepada mereka. Dengan kata lain harus ada upaya yang sungguh-sungguh dari pemerintah untuk mengentaskan mereka dari jurang kemiskinan. Bukankah hal itu bukan sebuah impian yang terlalu muluk. Atau jangan-jangan para elit negeri ini tengah menuju ke arah “kemunafikan” yang satu dari 3 ciri-cirinya adalah berkhianat apabila diberi amanah. Karena merekalah (para elit negeri) yang menanggung beban amanah terbesar konstitusi negara ini (UUD 45) yang salah satu amanahnya agar memerhatikan nasib kaum marginal. “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”,demikian salah satu pasal UUD 45 menyebutkan. Dan mohon dengan hormat kepada para pemimpin negeri yang terhormat agar pasal tersebut tidak “di-Amandemen” sehingga berubah menjadi “Kemiskinan dan Keterlantaran anak-anak negeri dipelihara oleh negara”, agar anda tidak masuk dalam kategori “Orang Munafik” yang disabdakan oleh nabi. Dan dari kami rakyat kecil, mohon pula kiranya agar nasib kami para kaum papa (termasuk GePeng) sedikit banyak diperhatikan. Toh bukankah kami juga berhak hidup dan mencari penghidupan yang layak di atas bumi Indonesia ini. Semoga para anda mendengarnya.

Wallahu A’lam

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena
Di : Senyapandaan