Guide Book

Guide Book

Siang itu matahari kian terik saja, di sebuah restoran pinggiran pantai di sebuah kawasan di pulau dewata, 2 orang manusia berlainan bangsa tengah beristirahat sembari menghilangkan penat setelah seharian berjalan-jalan mengunjungi lokasi wisata yang tertera dalam GuideBook. Mereka adalah Ahmad, sang Guide dan James si bule Belanda yang tengah menyewa jasa pemandu wisata untuk mendampinginya selama kunjungannya ke bali selama liburan musim panas ini. Siang itu di bawah payung pohon nyiur di sekitaran restoran di bibir pantai itu, mereka tengah bersantap siang dan sesekali ngobrol-ngobrol tentang beberapa hal semisal budaya, kesenian, adat dan sejarah suatu lokasi jujukan wisata di Bali dan juga obrolan yang lebih serius, yaitu agama. Ahmad sang Guide adalah seorang Muslim asal Malang yang pernah nyantri beberapa tahun di pulau garam, tepatnya di Pesantren bersejarahnya Kyai Kholil Bangkalan. Dan karena sebuah musabab lah dia akhirnya menjadi seorang Guide. Musabab yang melatarbelakangi alasannya untuk menggeluti profesi ini adalah lebih disebabkan oleh dorongan Ghirah Dakwahnya yang kuat. Dia ingat betul pesan salah seorang Kyainya selama mondok dulu, bahwa dimanapun kamu berada dan dalam profesi kehidupan apapun, kamu masih memiliki tanggung jawab dakwah. Karena Nabi telah mewanti-wanti jauh hari agar apa yang pernah diajarkannya harus disampaikan kepada segenap makhluk terutama manusia, meskipun hanya satu ayat saja. Dan kenapa dia memilih lahan dakwah dalam ladang hidup sebagai Guide. Apalagi lokasi kerjanya di Bali yang sangat bebas secara pergaulan??? Alasan Ahmad ternyata sederhana saja. Dia yang memang dah doyan ama sejarah lengkap dengan Ilmu Sosiologi dan Antropologinya serta jago English semenjak bangku Madrasah (SMP) ingin tetap mengembangkan kemampuannya dalam bahasa Inggris sekaligus memanfaatkan ilmunya semasa nyantri dulu kepada semua manusia dimanapun, termasuk di Bali yang dia yakini juga sebagai bumi Allah yang juga berhak disemaikan benih-benih Islam di atas wilayah wajahnya.

Sedangkan sang pemakai jasanya, James, adalah salah satu mahasiswa semester awal di Universteit Utrecht Belanda yang mengambil bidang Antropologi. Nah, liburannya ke Bali saat ini selain dia gunakan untuk refreshing sekaligus juga untuk menambah referensi pengalaman dan ilmu antropologinya secara langsung alias tidak hanya mengambil dari bahan bacaan saja tanpa pernah terjun langsung ke tempat yang dimaksud.

Di antara obrolan yang menarik dari dua anak Adam berlainan bangsa itu adalah masalah Islam dan Humanisme yang sudah mafhum selalu dibentur-benturkan oleh media barat seolah-olah Islam adalah kontranya humanisme. James sembari meminum air kelapa muda di hadapannya bertanya kepada Ahmad,

“Bagaimana pendapat anda tentang dunia barat yang selalu menyerang Islam dengan isu-isu hak asasi manusia? Apakah memang demikian adanya bahwa Islam memang tidak dapat menghargai hak asasi manusia, terutama hak-hak kaum hawa ?” tanya James dengan bahasa Indonesia yang lumayan fasih karena semenjak bangku SMA telah mengikuti kursus/les bahasa Indonesia, bahasa dari sebuah bangsa yang pernah dihinakan sedemikian rupa selama 3 ½ abad oleh bangsanya.

Sembari tersenyum dan wajah yang tenang, Ahmad menjawab, “Islam tidak seperti yang bangsa anda bayangkan. Islam adalah agama yang ramah dan meletakkan hak asasi manusia di tempat termulia. Namun memang benar bahwa ada beberapa kontra pandangan antara Islam dan barat dalam memandang dan mengaplikasikan hak asasi manusia tersebut, terutama mengenai kedudukan wanita.”

“Perbedaan pandangan seperti apa yang anda maksud?” James kembali bertanya.

“Dalam Islam, wanita diposisikan sedemikian terhormatnya dan mulia dibandingkan dengan apa yang telah dunia barat sediakan bagi wanita,” Ahmad mulai menjelaskan.

“Dapatkah anda jelaskan lebih lanjut?” kata James

“Baiklah, kiranya izinkan saya untuk membandingkan posisi wanita dalam khazanah Islam dan barat terlebih dahulu. Kesucian dan kehormatan wanita dalam Islam adalah sebuah harga mati yang harus dijaga dan dilindungi oleh segenap umatnya. Anda tak akan pernah menemukan seorang wanita yang mengaku Islam namun dia rela memberikan kehormatannya kepada kaum Adam yang bukan suaminya. Dan anda tak akan pernah pula akan mendapati seorang lelaki Muslim yang diam saja jika ada seorang wanita yang coba dilecehkan kehormatannya, kami lelaki Muslim akan membela kehormatan wanita-wanita kami meski nyawa adalah taruhannya,” Ahmad mulai menjelaskan.

“Lantas apa bedanya dengan yang kami lakukan di dunia barat?” James menyanggah.

“Tentu saja berbeda, kawan. Di negeri anda kami tahu bahwa keperawanan tidaklah penting. Kami tahu pergaulan di sana sangat bebas, hingga anak seusia sekolah saja telah mengerti betul cara menggunakan dan juga telah fasih menggunakan Kondom untuk melakukan hubungan seksual pra nikah dengan kawan perempuan mereka. Apalagi dengan budaya seks bebas yang dilakoni oleh orang dewasanya, tentu lebih dahsyat lagi. Sekarang bolehkah saya bertanya pada Anda, James?”

“Of Course, silahkan!”

“Namun hal ini sangat sensitif dan saya takut dapat menyinggung harga diri anda dan bangsa anda.”

“It’s Ok., silahkan saja. Percayalah, saya tak akan tersinggung!” jawab James

“Begini, dapatkah anda menjamin bahwa darah dan gen yang mengalir dalam tubuh anda saat ini adalah murni dari ayahanda anda sendiri?” Ahmad mencoba berhati-hati dalam pertanyaaan ini.

“Maksud Anda?”

“Maaf sebelumnya, seperti yang kita ketahui bersama dan anda pun harus jujur mengakuinya bahwa dengan kian semarak dan telah mengakarnya budaya seks bebas yang menjamin kebebasan tiap pasangan untuk bergonta-ganti pasangan tidur asal suka sama suka, tentu sulit bagi kita untuk dapat menjamin kemurnian sperma yang menetes dalam rahim seorang wanita hanyalah berasal dari suaminya yang sah saja. Apakah tidak ada kemungkinan bahwa bisa saja rahim wanita itu telah menyimpan beberapa sperma dari beberapa lelaki yang pernah berhubungan dengannya mengingat seks bebas dengan cara bergonta-ganti pasangan adalah sesuatu yang wajar di negeri anda, di barat sana. Bukankah demikian?”

James hanya terdiam.

“Bukankah anda tak dapat mengelak dari realita ini? James, anda tak akan pernah dapati hal seperti itu terjadi dalam masyarakat Islam. Dalam Islam, nasab (garis keturunan) adalah sesuatu yang sangat vital karena hal ini sangat berpengaruh terhadap jalur kehidupan seorang Muslim di kemudian hari. Dengan mengetahui nasab, kami dapat menentukan hukum waris, pernikahan dalam hal perwalian dan juga ikatan kehidupan yang lain. Dalam Islam, seorang calon manusia baru yang berada dalam rahim wanita adalah ‘milik’ sang lelaki pemilik ranjang yang sama dengan si wanita. Sehingga tidak ada ceritanya seorang Muslim akan ragu ketika ditanya anak siapakah dia, karena dengan bangga kami (Muslim) akan menjawab bahwa kami adalah anak bapak kami karena sperma, gen, dan darah yang mengalir dalam tubuh kami adalah murni dari satu lelaki yaitu bapak kami dan bukan dari banyak lelaki karena ibu-ibu kami adalah para wanita terhormat yang selalu dapat menjaga kehormatannya. Dan hal ini tentu sangat berbeda dengan yang terjadi di negeri anda di barat sana, James!” penjelasan Ahmad ini kian memojokkan si Bule Negeri kincir angin tersebut.

“Dan perlu juga anda dan negeri anda ketahui bahwa ketika ada seorang istri dari lelaki Islam yang dilecehkan oleh laki-laki lain, maka dengan taruhan nyawa sekalipun sang suami dari wanita itu akan membela kehormatan istrinya. Bahkan di salah satu wilayah negeri ini tepatnya di Madura yang memiliki akar budaya Islam yang kuat, ketika anda berani menggoda, hanya menggoda sekalipun cuma dengan siulan atau tatapan nakal , maka bersiap-siaplah kepala anda akan berpisah dari tubuh anda karena tak jarang Celurit (Carok) yang akan berbicara pada anda. Hal ini mereka lakukan karena saking besarnya upaya mereka menjaga kehormatan istrinya. Bandingkan dengan yang terjadi di sebagian besar negeri barat yang bahkan tak jarang sesama pasangan suami-istri memiliki selingkuhan masing-masing yang dapat mereka jadikan alternatif pilihan untuk menjadi teman tidur selain dengan pasangannya yang sah,” kembali Ahmad menjelaskan.

“Bukankah demikian, James?”

James hanya terdiam membisu. Entah apa yang tengah berkecamuk di pikirannya. Namun yang jelas dia tak dapat membantah sedikitpun argumen sang Guide yang ternyata tak hanya memandunya ke tempat-tempat wisata di pulau dewata, namun juga telah perlahan memandunya mengunjungi keindahan dan keagungan tempat terindah di semesta ini. Islam, ya, itulah tempat terindah yang kini dikunjungi oleh James dengan panduan Ahmad si Guide. Tempat yang kini mulai dikenalinya sangat bertolak belakang dengan apa yang selama ini dijejalkan oleh media negerinya di barat sana yang kebanyakan selalu memojokkan Islam.

Kini timbul dalam benak James, adakah yang dapat lebih memuliakan wanita dengan sebenar-benarnya selain daripada Islam?

Wallahu A’lam

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena

Diseduh Di      : Senyapandaan