Manusia Gagah

Manusia Gagah

Pernahkah anda merasa “bosan” dengan kehidupan ini. Yang biasanya kejenuhan itu akibat dari sulitnya kehidupan kita. Keadaan ekonomi yang tak kunjung menanjak ke tingkat yang lebih baik padahal kita merasa telah susah payah berusaha dan bekerja plus tak habis-habisnya mulut ini berkomat-kamit pada Nya. Namun semuanya itu serasa masih tidak memberikan efek perubahan yang drastis pada keadaan kehidupan kita. Saya yakin anda, saya dan banyak dari kita pasti sedikit banyak pernah merasakan hal tersebut. Karena hal itu sungguhlah sangat wajar bagi kita para manusia yang di dalam Al Qur’an disebutkan bahwa manusia memang diciptakan bersifat kikir dan selalu berkeluh kesah. Terutama berkeluh kesah dalam masalah-masalah kehidupan dan segala apa yang ada di sekitarnya. Nah, untuk sedikit mengurangi tingkat keluh kesah kita tersebut, salah satu caranya adalah dengan memperhatikan keadaan manusia-manusia lain di sekitar kita. Anda tentu sudah tak asing dengan tuturan bijak yang berbunyi, “Perhatikanlah manusia yang keadaan hidupnya berada di bawah anda agar anda dapat lebih mensyukuri keadaan anda dan merasa masih lebih beruntung karena ternyata masih banyak manusia lain yang keadaan hidupnya lebih susah daripada kita.”

Saya yakin bahwa anda telah sangat akrab dengan tuturan bijak tersebut. Karena memang demikianlah adanya bahwa di dunia ini banyak manusia-manusia lain yang perjuangan kehidupannya lebih sulit, penuh peluh dan darah, dan harus melewati jalan yang lebih sukar daripada kita, meskipun tiap manusia pasti banyak yang mengklaim keadaan dirinya lah yang paling susah di dunia ini. Padahal tidak demikian kebenarannya. Tiap manusia pasti memiliki masalahnya masing-masing karena memang mereka diciptakan ke dunia ini sudah dengan kitab takdir yang berisi permasalahan hidup kelak yang merupakan aksesori resmi kehidupan di dunia. Dan sebuah kebijakan yang patut kita utamakan dalam memandang kehidupan ini adalah bagaimana kita menikmati dan menjalani hidup kita dengan penuh penghayatan kebersyukuran bahwa ternyata kita telah diberi kepercayaan oleh Nya untuk tampil ke pentas dunia ini. Bukankah saat kita masih berbentuk “Sperma” kita lah satu-satunya sel yang telah mengalahkan sekian juta sel sperma lain yang saling berlomba menjadi pemenang untuk dapat bertahan dalam perjuangannya hingga menjadi satu-satunya sel sperma yang bertahan hidup dan melanjutkan perjuangannya sampai kelak menjadi bakal manusia baru dan kini menjadi kita, manusia seutuhnya. Bukankah hal ini mengajarkan kita bahwa ternyata manusia telah mengalami masalahnya masing-masing (dalam hal ini kesukaran-kesukarannya dalam proses perjuangannya dalam hidup ini) bahkan jauh hari semenjak masih berbentuk “Sperma.”

Maka tidak ada alasan bagi kita untuk menyerah dan putus asa dalam mengarungi hidup yang penuh masalah yang melimpah ruah ini. Karena kita tak boleh menghianati percayaNya pada kita yang telah menilai kita ini lebih layak menjadi manusia yang siap diturunkan di “pentas” dunia daripada bakal manusia yang lain -yang sebelumnya kita telah lolos seleksi dengan menyisihkan sekian juta “peserta” saingan kita yang kala itu masih berbentuk sel-sel Sperma-. Merasa lelah, hampir putus asa atau bahkan terkadang merasa gamang dalam menjalani hidup adalah sebuah sifat yang wajar nan manusiawi. Namun seyogyanya kala segala rasa itu menghinggapi, kita sesegera mungkin menghayati kembali hakikat keberadaan kita dalam kehidupan dunia ini dan lekas kembali bersandar penuh padaNya.

Yakinilah bahwa dunia ini adalah pentas seleksi untuk meng-audisi para manusia-manusia tangguh yang tetap gagah berjuang dalam menjalani segala sisi kehidupannya dan tetap perkasa berenang di lautan masalah dalam hidupnya. Dan hanya mereka yang berhasil lolos dalam ajang audisi inilah yang pantas mendapatkan predikat “mahal” nilai kehidupannya dalam pandangan Tuhan dan para makhlukNya termasuk manusia. Hal ini mirip dengan tamsil kehidupan dari sebuah hasil karya seni. Bahwa kerajinan tangan, otak, dan segala indra manusia (karya seni dan budaya) akan bernilai lebih mahal dibandingkan karya yang serupa dengannya tergantung pada tingkat kerumitan dalam membuat karya tersebut. Karena semakin rumit dalam penyusunannya, karya indah itu tentu akan diberi bandrol lebih mahal oleh pembuatnya dan hal ini dapat diterima oleh para penikmat karya itu. Bukankah semua perumpamaan itu sama persis dengan keadaan manusia, bahwa semakin rumit perjuangan kita dalam mengarungi hidup ini maka semakin indah dan tinggi pula nilainya jika kelak buah dari bibit perjuangan kita itu telah tersaji matang di depan mata para manusia lain yang membaca dan meneladani kisah-kisah perjuangan hidup kita selama ini. Dan kita akan dicatat pula di sisi Nya sebagai manusia-manusia perkasa nan gagah yang layak menyandang predikat manusia terbaik dalam kehidupan ini.

Semoga kita dapat menjadi manusia-manusia yang bernilai “mahal” di hadapan Tuhan dan segenap makhluknya di semesta ini. Dan cara me-mahal-kan nilai kita sebagai manusia adalah dengan semaksimal mungkin menjalani, menikmati dan membuat segala perjuangan kita dalam menghadapi semua permasalahan hidup ini menjadi layak untuk diteladani oleh manusia lain melalui karya-karya indah keteladanan sekecil apapun itu yang bisa meng-inspirasi orang lain. Dan ingat sebagai seorang Muslim perjuangan kita tidak berhenti hanya di dunia saja, karena “Perjuangan seorang Muslim tidak akan berhenti hingga kakinya menapak di depan pintu surga,” demikian Imam Syafii pernah berujar. Dan dengan makin sulitnya masalah hidup kita, maka peluang kita untuk menjadi manusia “mahal” akan semakin terbuka lebar, dengan syarat bahwa kita harus mampu menyelesaikan segala permasalahan hidup itu.

Wallahu A’lam

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena
Diseduh Di      : Senyapandaan