Amerika Muslim

Amerika Muslim

Apakah yang ada di benak anda ketika mendengar nama Amerika Serikat? Saya yakin jawabannya akan bermacam-macam. Bagi mereka yang begitu memuja budaya barat mungkin berpendapat bahwa Amerika adalah sebuah Imperium Adidaya yang perkasa karena memiliki “Super Power” dalam segala bidang kehidupan seperti Politik, ekonomi, militer, dan kebudayaan. Sehingga tak heran jika hampir semua negara di planet ini berkiblat pada mereka (Baik itu Politik Demokrasinya, Sosial-Ekonominya hingga HANKAMnya). Dan Amerika juga merupakan tempat berkumpulnya hampir semua manusia dengan masing-masing etnis dan kultur yang berbeda. Namun ketika pertanyaan di atas diajukan pada mereka yang lumayan alergi atau bahkan anti terhadap negeri Paman Sam, pasti jawaban yang bertolak belakang akan meluncur dari lisan mereka. Ada yang menganggap bahwa Amerika adalah negara koboi yang doyan perang, negara bermuka dua yang memiliki Standar Ganda dan penganut Opportunisme dalam setiap kebijakan luar negerinya (Foreign Policy), bahkan ada yang berpendapat bahwa sebenarnya Amerika lah Terroris terbesar di bumi ini yang menciptakan kekacauan dunia. 2 kutub pendapat yang saling berseberangan tersebut sah-sah saja dilontarkan, toh sekarang adalah era demokrasi yang menjamin kebebasan berpendapat asalkan tetap bersandar pada etika.

Dan jika dapat ditarik sebuah garis tengah di antara dua kutub opini di atas, bisa disimpulkan bahwa Amerika Serikat adalah sebuah “miniatur” bumi dimana tiap manusia dapat tinggal berdampingan dan berkumpul sebagai masyarakat dunia yang Multikultur dan Multi Ras. Karena di negeri Paman Sam tersebut dapat kita temui tiap-tiap manusia yang memiliki identitas etnis berbeda yang hampir mewakili seluruh etnis bangsa di dunia. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa diskriminasi Ras dan Etnis juga masih kerap terjadi di sana yang merupakan sebuah konsekuensi logis dari sebuah negara yang dihuni beragam corak budaya (Multikultural dan Pluralisme Etnis) manusianya. Dan salah satu Diskriminasi yang paling kentara karena membawa pengaruh Global bagi korbannya adalah diskriminasi terhadap Islam yang kian meningkat pasca serangan 11 September 2001 silam.

Namun yang menjadi kabar baik adalah bahwa ternyata berbagai perlakuan dan kebijakan diskriminatif terhadap hal-hal yang berbau Islam tersebut tak menyurutkan laju dakwah Islam di sana yang kian waktu makin menunjukkan hasil yang menggembirakan. Islam adalah Agama yang perkembangannya tercepat di Amerika (bahkan di dunia). Dan yang unik adalah cara berdakwah di sana yang ternyata sungguh beragam. Dan salah satu metode Dakwah yang paling berhasil dan cocok dikembangkan di negeri Obama tersebut adalah metode dakwah yang menggunakan contoh konkret seperti bagaimana kita menunjukkan tingkah laku Muslim yang ramah dan santun, menjelaskan Islam secara damai, menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang bebas dari ajaran-ajaran yang tak masuk akal dan dapat dicerna oleh logika dan nalar yang sehat. Karena nalar dan logika adalah ciri utama masyarakat barat.

Dan hasil dari program dakwah tersebut dapat kita saksikan dengan semakin pesatnya Islam berkembang di AS yang menurut Departemen Luar Negeri AS dalam lembar faktanya memperkirakan bahwa pada tahun 2010, jumlah penduduk Muslim AS akan melampui jumlah kaum Yahudi dan menjadikan Islam sebagai agama terbesar nomor dua di negara itu setelah agama Kristen. Meskipun di Amerika Serikat tidak ada catatan jumlah penduduk berdasarkan agama, para pakar memperkirakan bahwa kaum Muslim di Amerika berjumlah sekitar enam juta jiwa. Perkiraan-perkiraan lain berkisar antara empat dan delapan juta jiwa. Dan pada pertengahan tahun 2000, terdapat 4.175.000 Muslim di Amerika Serikat dan 1.650.000 di antaranya berasal dari kalangan Amerika keturunan Afrika (Afro-Amerika). Rata-rata 17.500 warga Afro-Amerika ini berpindah ke agama Islam tiap tahun antara 1990 dan 1995, demikian perkiraan dari The Britannica Book of the Year. Dan menurut sebuah penelitian lain yang dilakukan tahun 2007 lalu, sebagian besar kaum Muslim di Negeri Paman Sam tersebut adalah imigran yang jumlahnya 77,6 persen berbanding 22,4 persen dengan kaum Muslim yang lahir di AS. Yang terdiri dari 26,2 persen dari Timur Tengah (Arab); 24,7 persen dari Asia Selatan; 23,8 persen Amerika keturunan Afrika; 11,6 persen lain-lain; 10,3 persen Timur Tengah (non-Arab); dan 6,4 persen Asia Timur.

Sebuah Fenomena Unik Mengenai Sebuah “Nubuat”

Mungkinkah Paman Sam -yang notabene dijadikan sebagai ikon musuh terbesar Negara-negara Islam – kelak akan menjadi sebuah negeri Islam itu sendiri? Kemungkinan itu besar harapan akan (bisa) terwujud jika kita melihat realita yang terjadi di negeri Obama tersebut. Maraknya fenomena “kembalinya” manusia-manusia barat ke pelukan Islam (Muallaf) sudah tidak dapat dibendung lagi arusnya. Bahkan diberitakan pula oleh banyak media mengenai banyaknya gereja di sana yang telah beralih fungsi menjadi tempat peribadatan kaum Muslim. Baik karena mulai sepinya jemaat gereja yang beribadah (yang salah satunya karena jumlah mereka menyusut setelah maraknya fenomena masyarakat barat yang menjadi muallaf) maupun karena mengalami kesulitan dana sehingga gereja-gereja tersebut harus dijual dan banyak yang berhasil dibeli oleh para komunitas Muslim. Seperti yang dialami gereja legendaris Queen Peace yang telah berdiri sejak 1955 di jalan Genesse,Bufallo, kota New York yang jatuh ke tangan Yayasan Darul Hikmah setelah mengeluarkan dana sebesar 300 ribu US Dollar atau setara Rp 2,8 Milyar. Nasib serupa juga dialami oleh gereja St. Matthew yang berusia 140 tahun yang terletak di Indian Orchard. Gereja tersebut dibeli oleh komunitas Islam Turki-Amerika dengan harga 150 ribu US Dollar (Rp 1,4 Milyar).

Menilik fenomena tersebut, tak heran jika presiden Barrack Obama mengatakan bahwa Amerika akan menjadi salah satu negara Muslim terbesar di dunia. Dia menyampaikan pernyataan tersebut kala melawat ke beberapa negara Timur Tengah. Dan dalam wawancaranya dengan televisi Prancis “Canal Plus”, Obama juga berkata bahwa Amerika mungkin saja akan menjadi negara Muslim. Meskipun banyak kalangan yang berpendapat bahwa perkataan Obama tersebut mungkin saja bertujuan untuk mempersatukan pandangan negara Barat dan Timur Tengah terhadap Islam dan juga sebagai usaha untuk meredam pertikaian antara Israel dan Palestina sekaligus mengikis pandangan negatif beberapa pihak tentang Islam dan Amerika, namun toh dia sebenarnya telah se-objektif mungkin untuk berusaha jujur pada realita. Karena statement presiden kulit hitam AS pertama itu juga diperkuat dengan data yang bersumber dari Muslim Internet Directory melalui Google.com yang menyatakan bahwa jumlah penduduk Amerika yang beragama Islam berkisar 6 juta – 7 juta penduduk dengan tingkat pertumbuhan diatas 6% pertahun. Sedangkan jumlah penduduk Non-Muslim di Amerika berjumlah 307 juta penduduk dengan tingkat pertumbuhan 0,9% pertahun. Bukankah Perbedaan selisih jumlah tersebut begitu jauh. Dan dengan demikian, Amerika menempati posisi 34 dunia dengan jumlah penduduk Muslim terbanyak. Lantas butuh berapa tahunkah “nubuat” Obama yang menyatakan AS akan menjadi negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia akan menjadi sebuah realita ?. jika menilik data yang menyatakan bahwa tingkat pertumbuhan penduduk Non Muslim yang berkisar 0.9 % per tahun, maka jumlah penduduk Non-Muslim akan berlipatganda menjadi 614 juta penduduk pada tahun 2086. lantas bagaimana dengan penduduk Muslim?? Berapa tahun kah waktu yang di perlukan penduduk Muslim untuk mencapai jumlah yang sama dengan penduduk Non-Muslim yang akan menjadi 614 juta jiwa ?? Penduduk Muslim di Amerika akan berlipatganda setiap 10 tahun. Perhatikan angka berikut ini :

Tahun Jumlah Penduduk
2009 7 Juta
2019 14 Juta
2029 28 Juta
2039 56 Juta
2049 112 Juta
2059 224 Juta
2069 448 Juta
2079 896 Juta

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Amerika Non-Muslim akan berlipatganda jumlahnya pada tahun 2086 menjadi 614 Juta penduduk, yang berarti pula bahwa populasi penduduk muslim akan mencapai atau melebihi angka 614 juta penduduk Non-Muslim pada tahun antara 2069 atau 2079. Angka tersebut dapat berubah bergantung dengan situasi, misalkan penyakit, bencana atau perang. (Sumber : http://newsgila.blogspot.com)

Melihat berbagai data dan fakta yang berceceran tersebut, maka sebagai Muslim kita juga boleh berharap jika “Nubuat” Amerika akan menjadi salah satu negara Islam terbesar di dunia akan dapat terealisasi. Bukankah lebih baik memerangi “musuh” dari dalam ? Amerika yang hingga kini masih dicap sebagai musuh bersama oleh sebagian besar masyarakat negeri-negeri Islam dunia, boleh jadi akan perlahan terjinakkan. Karena dengan semakin pesatnya (menuju Mayoritas) jumlah Muslim di sana, tentu membawa manfaat tersendiri. Seperti semakin diperhitungkannya suara (aspirasi) Muslim agar kebijakan-kebijakan AS terhadap Islam dan pemeluknya yang selama ini dinilai selalu merugikan, perlahan akan berkurang dan berubah menjadi kebijakan yang sifatnya lebih ramah dan menguntungkan Islam. Inilah yang dimaksud “memerangi” dari dalam yang dilakukan oleh saudara-saudara Muslim kita di negeri Paman Sam tersebut. Dan sebuah kesimpulan besar yang dapat kita garis bawahi dari tulisan ini adalah semakin nyatanya kebenaran Firman Allah yang menyatakan dalam KalamNya yang agung bahwa akan datang masanya Islam akan jaya kembali merebut kegemilangannya yang dibuktikan salah satunya dengan semakin banyaknya wilayah di bumi ini yang mulai tersentuh cahaya Islam. “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya.” [QS.Ar Ra’d (13) : 41].

Allah mendatangi negeri-negeri kaum kafir untuk menyempurnakan dan memenangkan Dien Nya. Dan ini terbukti –salah satunya- dengan semakin meng-“hijaunya” Negeri Paman Sam.

Wallahu A’lam.

Diseduh Oleh: Musyaf  Senyapena

Diseduh Di      : Senyapandaan