Penantang Tuhan

Penantang Tuhan

Kawan, pernahkah anda merenung tentang hakikat hidup kita ini. Pernahkah anda merenung lebih dalam lagi tentang bagaimana dan darimana kita berasal. Lantas apakah diri kita ini sebelum menjadi jabang bayi dahulu. Apakah kita masih berupa tanah, angin, atau unsur-unsur lainnya. Artikel ini berawal dari perenungan saya setelah menyelami salah satu ayat Al Qur’an yang berbunyi,” Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al Insaan : 01). Dari penggalan pertama pembukaan surat Al Qur’an yang bermakna “Manusia” tersebut kita telah dihentakkan sebuah tanya besar nan berat dari Tuhan tentang hakikat diri kita sebagai manusia yang pada suatu masa tertentu di kala lampau, bahwa diri kita ini belum dapat disebut dengan sebuah identitas nama. Kemudian di penggalan berikutnya dari surat tersebut Tuhan menjelaskan tentang kejadian berikutnya dari diri kita ini –setelah masa dimana diri ini belum dapat disebut dengan identitas nama- bahwa kita ini diciptakan dari air yang hina, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al Insaan : 02). Dari penjelasan ayat ke dua ini kita dapat menyimpulkan 2 hal besar sekaligus bahwa, asal mula kita adalah dari sesuatu yang hina dan “kotor” yaitu mani/sperma yang bersarang di tempat yang melambangkan tempat dimana dihasilkan dua produk “kotor” sekaligus, yaitu mani/sperma dan air kencing. Yang mana bila tubuh kita telah mengeluarkan ke 2 produk tersebut, maka kita diwajibkan bersuci terlebih dahulu sebelum melakukan lelaku-lelaku suci (sholat, membaca Al Qur’an dsb) dengan cara wudhu (untuk produk yang berupa air seni) dan Mandi Junub plus Wudhu (untuk produk yang berupa air sperma). Bukankah hal ini telah jelas menggambarkan bahwa sejatinya diri ini adalah hina dan kotor. Maka menjadi sebuah keanehan yang a-Logis manakala kita dapati sebagian manusia ternyata masih ada yang menganggap dirinya “suci”, bersih, mulia, dan layak disanjung sedemikian rupa mengingat status sosialnya di dalam kehidupan bermasyarakat. Yang bahkan ada pula kelompok manusia yang tokoh panutannya menyatakan bahwa Tuhan Telah Mati, seperti ucapan Frederich Nietcze si tokoh Atheis yang juga menjadi jargon resmi dan pandangan hidup sebagian manusia yang berpaham materialistis-komunis. Mereka menganggap bahwa manusia adalah yang berhak dan paling mengerti tentang dirinya sendiri. Dengan kata lain, kehendak manusia adalah “Tuhan” bagi manusia itu sendiri. Karena Tuhan telah mati, demikian pandangan hidup mereka.

Padahal jika mereka dapat jujur pada diri dan nurani mereka sendiri, mereka sebenarnya juga manusia bertuhan. Meskipun mereka berpaham Atheis yang me-nihil-kan keberadaan Tuhan. Karena mereka ternyata juga ber-Tuhan dan menghambakan diri mereka sendiri pada hawa nafsunya, demikian istilah Al Qur’an menyebutnya. Karena ber-Tuhan adalah sebuah Fitrah alami manusia dan tidak ada penyimpangan terhadap Fitrah tersebut. Kita tentu ingat dengan kisah Fir’aun yang merupakan tokoh Atheis terbesar dalam sejarah manusia yang kisahnya begitu merata dijelaskan dalam kitab-kitab Samawi, terutama Al Qur’an. Karena sehebat-hebatnya manusia abad ini yang meskipun mereka sekelas Hitler, Nietzche, Karl Marx, Stalin, Lenin , Darwin dan para dedengkot-dedengkot Atheis-komunis lainnya, mereka tidak pernah sekalipun berani memproklamirkan dirinya sebagai Tuhan, padahal mereka adalah tokoh-tokoh dunia yang paling getol menghapus keberadaan Tuhan bagi manusia di Dunia ini. Sungguh berbeda dengan Fir’un yang dengan terang-terangan mengklaim dirinya sebagai Tuhan dan mewajibkan manusia (Bani Israel) menyembahnya. Nah, sebagai bukti bahwa bertuhan adalah fitrah alami manusia, maka dapat kita simak kisah akhir hayat fir’aun dalam Al Qur’an. Bukankah sewaktu dia ditenggelamkan Tuhan di laut merah dia sempat bertobat kepada Allah (saat dalam keadaan sekarat) dan mengakui bahwa Allah adalah tuhannya dan tuhan segenap manusia. Meskipun tobatnya ditolak, namun hal ini membuktikan bahwa fitrah alami manusia adalah mengakui bahwa dirinya ber Tuhan.

Sebuah kesimpulan yang dapat kita ambil dari semua ini adalah bahwa semua manusia di dunia ini adalah mengakui adanya Tuhan, namun banyak dari mereka yang dengan terang-terangan ternyata berani menantang Tuhan. Yang salah satunya mereka lakukan dengan cara menyebarkan paham Atheisme, komunisme, Materialisme yang menuhankan materi semata dan berbagai tingkah laku manusia yang kurang baik lainnya seperti korupsi, membunuh, memakan hak manusia lain dll. Yang mana semua perbuatan tersebut menandakan bahwa kita sebagai manusia terkadang lupa bahwa Tuhan itu ada dan setiap saat mengawasi kita.

Sebagai penutup artikel ini cukuplah sebuah ayat yang sungguh sangat menggetarkan hati yang patut kita maknai lebih dalam lagi, “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” (QS. Yassin : 77).

Maukah anda menjadi penantang Tuhan???
Wallahu A’lam

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena
Diseduh Di      : Senyapandaan