Mona Lisa
Bukan Cinta Milik Manusia Biasa

Masih ingatkah anda dengan kisah romantisme cinta yang heroik Romeo dan Juliet yang hingga kini masih diagung-agungkan sebagian besar para pelaku cinta di berbagai penjuru negeri bumi ini. Kisah yang –konon- terinspirasi dari Roman Cinta Laila Majnun karya Syaikh An Nizami yang telah melegenda jauh sebelumnya ini, merupakan salah satu cerita cinta penuh pengorbanan demi menunjukkan kesetiaan pada sang kekasih yang dianggap paling hebat sepanjang masa. Seperti yang diketahui bersama bahwa pada akhirnya sepasang kekasih yang tak terpisahkan –Romeo dan Juliet- ini akhirnya memutuskan untuk mati bersama (meminum racun) sebagai tanda tentang betapa sejatinya kekuatan cinta mereka berdua. Cinta sehidup semati, demikian hal ini teristilah dalam kamus percintaan anak manusia.

Kita boleh saja menganggap dan meng-klaim bahwa kisah Romeo dan Juliet tersebut
-yang entah hanya sekedar fiksi atau terinspirasi oleh kisah nyata- sebagai salah satu pahatan prasasti cinta yang menggambarkan sebuah pengorbanan cinta terhebat dari sepasang anak manusia yang masih berdiri kokoh hingga kini.

Namun perlu kita ingat bahwa jauh sebelum kisah picisan Romeo dan Juliet itu terlahir, banyak kisah-kisah (nyata) heroik tentang pengorbanan cinta yang lebih hebat yang telah dengan indah tercatat oleh tinta emas sejarah anak manusia. Yang salah satunya terjadi pada masa Rasulullah silam. Berikut beberapa kisah pengorbanan cinta penuh ketulusan dari para anak manusia terhadap orang-orang yang dikasihinya.

Anda tentu ingat dengan pengorbanan cinta Rasulullah kepada kita (umatnya) yang sangat beliau sayangi yang bahkan dalam Al Qur’an dituliskan dengan indah, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah [09] : 128). Anda tentu masih ingat kala Rasulullah mengalami sakratul maut, yang sakitnya sungguh luar biasa hebat. Yang bahkan Rasulullah sendiri merasakan betapa maha sakitnya saat sakratul maut itu menjemput, sampai-sampai Jibril yang mendampingi beliau enggan (tidak kuasa) menatap wajah mulia sang nabi. Dan saat Rasulullah menanyakan mengapa Jibril enggan menatap wajah beliau kala merasakan sakitnya saat detik-detik Ruh akan keluar dari jasad, Jibril menjawab bahwa dia tidak kuasa untuk melihat wajah mulia sang nabi yang tengah menahan rasa sakit menghadapi masa sakratul maut. Dan ketika beliau mengetahui sendiri bagaimana sakitnya sakratul maut, beliau lalu berdoa memohon pada Allah agar separuh dari rasa sakit sakratul maut umatnya (manusia) dibebankan padanya saja. Dan doa Rasulullah selalu terkabul. Bukankah sangat besar pengorbanan cinta nabi pada kita segenap manusia yang merupakan umatnya. Bahkan salah satu kata-kata terakhir yang meluncur dari lisan beliau yang mulia di akhir hidupnya adalah, “Ummati, Ummati, Ummati.” Beliau menyebut-nyebut umatnya karena beliau sangat sayang dan selalu memikirkan nasib umatnya bahkan hingga detik terakhir masa hidup beliau di dunia. Bahkan beliau yang oleh Allah diberi keistimewaan untuk menduduki tempat di surga yang paling tinggi dan diberi kewenangan untuk membukakan pintu surga kelak bagi manusia, lebih memilih menunggu kita (umatnya) di depan gerbang surga. Dan sayangnya pengorbanan cinta maha hebat ini sering kita sia-siakan dan tak dihargai. Terbukti dengan semakin jauhnya kehidupan kita kini dari tuntunan petunjuk beliau.

Kemudian ada lagi kisah pengorbanan cinta maha hebat dari seorang anak manusia yang merupakan tanda kesetiaan cintanya pada sang kekasih. Adalah Khubaib Bin Adi yang merupakan salah satu sahabat Rasulullah yang kisah pengorbanan cintanya kepada sang kekasih Allah dan juga segenap semesta (Rasulullah) sungguh sangat besar dan diabadikan dengan indah oleh sejarah. Saat itu dia diutus oleh Rasulullah ke tempat kaum kafir Mekkah bersama beberapa sahabat yang lain. Dan singkat kisah dia akhirnya ditahan oleh para dedengkot kafir Mekkah yang sangat benci dan dendam pada Rasulullah, terutama setelah mereka kalah dalam sebuah peperangan dan banyak dari keluarga tercinta mereka yang tewas dalam perang melawan Rasulullah tersebut. Dan sebagai bentuk pelampiasan balas dendam, mereka kemudian menyiksa Khubaib Bin Adiy dengan cara mengikatnya dalam kayu berbentuk salib. Lalu sejurus kemudian batu, panah, dan berbagai dera siksa mendarat di sekujur tubuhnya. Setelah puas dengan bentuk penyiksaan maha hebat dan melihat Khubaib tak berdaya, salah seorang dedengkot kaum kafir Mekkah tersebut bertanya padanya, “Wahai Khubaib, seandainya Muhammad berada di tempatmu (disiksa) sekarang dan menggantikan posisimu. Apakah kamu rela?” . Khubaib yang mulanya terdiam tak berdaya sekonyong-konyong menatap dengan penuh yakin dan berbicara lantang pada mereka yang kata-katanya sungguh sangat indah dan dikenang oleh sejarah Islam. Khubaib berkata, “Demi Allah jika saja Muhammad hanya tertusuk duri sekalipun sedangkan aku saat itu berada di tengah-tengah keluargaku, sungguh aku tak akan rela sedikitpun.”
Jawaban yang sungguh hebat inilah yang kemudian dijawab oleh salah satu pemuka kaum kafir Mekkah, “Sungguh tidak pernah kudapati seorang anak manusia pun yang mencintai manusia lain melebihi apapun di dunia ini seperti yang dilakukan oleh para Sahabat Muhammad terhadap Muhammad.”

Kemudian ada juga kisah keluarga Sumayyah yang merupakan Sahabiyyah (Sahabat Nabi dari kaum perempuan) yang demi mempertahankan iman Islamnya dan kesetiaan cintanya pada Rasulullah, mereka rela disiksa dengan keji hingga akhirnya sekeluarga mulia ini gugur sebagai Mujahid dan Sumayyah adalah wanita pertama yang dicatat mati Syahid di masa nabi. Anggota keluarga ini ada yang dipendam hingga leher dan ada pula yang lebih keji seperti yang dialami oleh Sumayyah yang kedua kakinya diikatkan pada 2 kuda yang mana satu kakinya diikat pada seekor kuda yang menghadap ke satu arah dan satu kakinya lagi diikatkan pada seekor kuda yang lain yang menghadap ke arah yang lain (berseberangan) dengan arah kuda yang satunya. Kemudian 2 kuda tersebut dilecut dengan keras secara bersamaan sehingga lari dengan sekencang-kencangnya ke arah depan mereka masing-masing. Dan apa yang terjadi pada tubuh mulia Sumayyah, tubuh wanita mulia tersebut terbelah menjadi dua akibat siksaan maha hebat demi membuktikan kesetiaan cintanya pada agama Allah dan juga pada Rasulullah tersebut. Maka pantaslah jika Rasulullah sering menangis hebat kala menyaksikan penderitaan keluarga mulia ini demi mempertahankan Imannya dan rela bersabar dengan siksaan para musuh Allah di sekitarnya yang sangat membenci Rasulullah dan agama mulia yang dibawanya.

Sebenarnya terlalu banyak kisah pengorbanan cinta sejati yang ada di dunia ini. Seperti pengorbanan para nabi, Sahabat Nabi, Ulama’, pejuang-pejuang kita dan bahkan para orang tua kita (terutama Ibu). Yang mana mereka rela berkorban apapun termasuk nyawa demi orang-orang yang dikasihinya dan juga demi sang “kekasih sejati” (Allah dan Rasulnya). Hal inilah yang memang kiranya layak kita sebut sebagai pengorbanan dari sebuah bentuk kesetiaan cinta tersejati, karena cinta mereka memang “Bukan Cinta Milik Manusia Biasa.”

Wallahu A’lam

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena
Diseduh Di      : Senyapandaan