Say No To Alcohol

Say No To Alcohol

Ada kabar memiriskan yang lagi-lagi terjadi di negeri ini dimana ternyata masih ada anak bangsanya yang mati konyol gara-gara minum khamr alias bir atau minuman yang memabukkan lainnya. Dan yang lebih tragisnya lagi, fenomena bunuh diri ini ternyata terjadi pada manusia-manusia yang akalnya seolah telah tertutupi oleh kabut gelap nafsu. Bayangkan, minuman keras yang telah bisa memabukkan meski dengan kadar alcohol yang tak seberapa masih mereka oplos dengan berbagai campuran lain yang tentunya sangat berbahaya seperti minyak tanah, spirtus dll. Hal ini mereka lakukan dengan dalih agar rasa memabukkan dari minuman keras tersebut lebih “nendang”. Dan benar memang setelahnya mereka akan merasakan sesuatu yang lebih “nendang” karena setelah pesta miras oplosan tersebut mereka terkapar mati konyol dan di dalam kubur tentunya mereka akan diberi sesuatu yang lebih “nendang” lagi oleh para malaikat Kubur.

Islam tak menolerir sedikitpun minuman yang memabukkan (khamr) karena seperti sabda Nabi bahwa pangkal dari segala kemaksiatan adalah Khamr. Khalifah Usman Bin Affan, pernah berkhutbah (seperti yang diriwayatkan oleh Az Zuhriy) mengenai manakah hal yang lebih berdosa, minum minuman yang memabukkan, berzina ataukah membunuh. Khalifah ke 3 tersebut mewanti-wanti umat agar berhati-hati terhadap minuman yang memabukkan karena merupakan pangkal dari semua hal yang akan menjerumuskan peminumnya pada maksiat yang lebih besar. Dalam khotbahnya beliau bercerita bahwa dahulu pernah hidup seorang ahli ibadah yang selalu tekun pergi ke tempat ibadahnya. Dan suatu hari sang lelaki sholeh itu berkenalan dengan seorang wanita cantik yang ternyata seorang pelacur. Dan singkat kisah sang lelaki sholeh itu jatuh hati pada si wanita cantik. Karena telah jatuh hati sedemikian butanya pada si wanita, lelaki sholeh itu menurut saja ketika disuruh sang wanita tuk memilih 1 di antara 3 permintaannya tentang kemaksiatan. Pertama, minum khamr, kedua berzina dan ketiga membunuh bayi. Dan si lelaki sholeh itu ternyata lebih memilih pada pilihan yang pertama yaitu meminum khamr karena dia berpendapat bahwa dosanya lebih kecil daripada 2 pilihan lainnya, berzina atau membunuh bayi. Dan setelah meminum air setan tersebut, apa yang terjadi pada si lelaki itu. Pilihan dosa yang disangkanya adalah dosa yang paling ringan dibanding dengan 2 kemaksiatan lainnya ternyata malah lebih membuatnya melakukan 3 dosa besar sekaligus. Karena setelah minum khamr itu, si lelaki ahli ibadah itu mabuk tak sadarkan diri dan akhirnya berzina dengan wanita pelacur itu dan membunuh bayi yang ada di sisi si pelacur (mungkin karena si lelaki merasa berisik dengan tangisan si bayi).

Dari kisah tersebut nampaknya telah jelas bagi kita yang jujur mencari kebenaran dan bukan pembenaran semata  bahwa ternyata bukan hal yang aneh ketika dalam Islam Khamr benar-benar 100 % halal dan tanpa ada kompromi  tuk mentolerirnya sedikitpun. “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al Mai’dah [05] : 90-91)

Maka benar jika Allah sering berkata dalam Al Qur’an bahwa Dia tidak menganiaya sedikitpun terhadap manusia tapi manusia itu sendirilah yang menganiaya dirinya sendiri dan salah satunya adalah dengan meminum minuman memabukkan (apalagi yang dioplos) yang nyata-nyata dalam agama ini sangat jelas diharamkan dan tak ada perbedaan sedikitpun di antara seluruh pendapat para Ulama dan manusia yang berakal mengenai keharaman  Khamr ini.  Jadi mulai sekarang mari galakkan kembali dengan sebenar-benarnya kampanye anti miras.  Stop pembuatan Khamr, stop peredaran Khamr, stop mabukl-mabukkan dan stop mati konyol.

Diseduh oleh : Musyaf  Senyapena

Diseduh di      :  Senyapandaan