Sebanding Dengan Nilai Dunia

Di sebuah kedai minuman di sekitaran punggung gunung Arjuna, yang biasanya dijadikan tempat singgah para pendaki untuk sekedar melepas penat, dahaga, dan mengeringkan basuhan keringat yang segar mengguyur badan, 2 orang nampak sedang asyik mengobrol sembari menikmati 2 gelas air minum di tangan mereka. Dua pendaki itu memutuskan untuk singgah sementara di kedai itu setelah pendakian dirasa telah cukup melelahkan. Mereka beristirahat sejenak sembari menikmati semilir angin segar khas pegunungan sebelum melanjutkan kembali pendakian. Mereka juga terlihat tengah asyik mengobrol sembari sesekali diiringi tawa lepas dari salah satu keduanya. Namun di tengah obrolan santai yang mengalir itu terkadang juga diselingi oleh bahasan-bahasan yang lumayan serius, maklum saja karena 2 anak manusia pecinta alam itu memang sudah berencana jika telah sampai di base camp tempat para pendaki biasa mendirikan tenda, mereka berdua akan melakukan program Tadabbur Alam untuk merenungi kebesaran-kebesaran Tuhan guna menambah amunisi keimanan mereka.

***

“Rud ! seberapa besar nilai dunia ini menurut pandanganmu?” tanya Sholeh kepada Rudi sahabatnya yang nampak tengah asyik menikmati pisang goreng yang baru saja ditawarkan oleh sang pemilik kedai.

“Menurutku sih dunia itu senilai dengan mobil mentereng, rumah mewah, istri cantik jelita, dan kemenangan berbagai proyek tender dari proyek-proyek miliaran rupiah perusahaan-perusahaan raksasa,” jawab Rudi dengan santai sambil terus menikmati pisang goreng panas yang makin terasa nikmat di tengah hawa dingin pegunungan.

“Ah dasar otak pengusaha, yang ada di kepala kau hanya uang saja,” timpal Sholeh sambil tersenyum simpul menanggapi jawaban kawannya yang memang seorang Eksekutif muda di sebuah perusahaan elite asing tersebut.

“Hehe, memang demikian adanya kan. Bukankah semua orang di dunia ini memburu semua yang kusebutkan tadi,” kali ini Rudi menatap wajah sahabatnya dengan ekspresi yang lebih serius.

“Ya ada benarnya juga sih pendapatmu tersebut. Memang tiada yang akan memungkiri bahwa mobil mengkilap, rumah mewah, istri jelita bak bidadari dunia serta jabatan yang mapan adalah sebuah dunia yang diimpikan banyak orang. Namun itu semua hanyalah aksesori, Bro.” sahut Sholeh sembari men-setting Handycam yang dipersiapkan untuk merekam segala keindahan alam yang akan mereka temui di puncak Arjuna sana.

“Maksudmu bagaimana, Bro?”

“Ya, semua itu hanya aksesori dan merupakan bagian terkecil dari kebahagiaan dunia yang sayangnya ternyata banyak menipu pandangan mata manusia .”

Melihat sahabatnya yang mulai mengernyitkan dahi, Sholeh kemudian mengambil teko di depannya dan menuangkan air putih ke dalam gelas dan memberikannya pada sahabatnya tersebut. Rudi kemudian menerimanya dan meminum segelas air putih nan segar tersebut, Rudi hanya meminumnya separuh saja. Sholeh yang sedari tadi memperhatikan sahabatnya semenjak sama-sama duduk di bangku SMA itu tersenyum geli.

”Segar nggak air minumnya?”

“Seger banget Bro! Aku merasa air ini lebih seger daripada air yang biasa kuminum,” jawab Rudi.

“Namanya juga minum air dari kawasan pegunungan, Bro. Nah sekarang coba bayangkan, seandainya terjadi pada suatu saat dimana di dunia ini di hadapanmu hanya ada segelas air ini yang dengannya kamu dapat bertahan hidup karena tak akan ada lagi persediaan air setelahnya dan segelas air tersebut dijual dengan sangat amat mahal, apakah yang akan kau lakukan?”

“Seandainya hal itu benar terjadi, maka aku akan menukar separuh hartaku untuk membeli segelas air tersebut. Karena dengannya aku dapat menunda barang sebentar kematianku akibat dahaga yang amat sangat.”

“Lantas apa pula yang akan kau lakukan seandainya air yang telah masuk ke dalam tubuhmu tersebut ternyata juga membuatmu sakit yang mengharuskanmu mengeluarkannya sesegera mungkin agar tidak menjadi semakin berbahaya di dalam tubuhmu. Dan untuk melakukannya kamu harus mengeluarkan biaya yang tak sedikit bahkan dapat mencapai separuh harta duniamu.”

“Aku tak akan berpikir lebih panjang lagi karena aku akan menjual separuh hartaku yang masih tersisa guna menjadikannya biaya agar dokter segera mengeluarkan air tersebut dari tubuhku,” sahut Rudi dengan mimik wajah yang benar-benar serius.

Sembari tersenyum simpul dan menepuk bahu Rudi, Sholeh kemudian berujar, “Nah sahabatku, jika benar apa yang kamu katakan tadi, maka bukankah dapat kita ambil kesimpulan bahwa ternyata (nilai) dunia ini tak lebih dari segelas air.Yang engkau rela menghabiskkan seluruh harta dunia mu hanya demi segelas air tersebut, bukan?”

Rudi mulai tersadar dengan arah akhir obrolannya dengan Sholeh. Dan dalam hatinya mulai tersadar dan mengamini semua pendapat sahabatnya yang memang nyata benar adanya bahwa ternyata dunia yang selama ini diagung-agungkan manusia seperti dirinya yang menganggap bahwa dunia adalah mobil ngejreng keluaran terbaru, rumah mewah, istri jelita bak bidadari dan segala aksesori dan pangkat keduniawiaan lainnya memang tak lebih nilainya jika dibandingkan dengan segelas air.

***

Maka benar adanya jika Rasulullah menyuruh kita mensyukuri segala sesuatu yang saat ini sedang kita miliki tanpa pernah merisaukan harta dunia yang tak kita miliki. Karena sesuai sabda mulia beliau bahwa manusia yang paling kaya adalah manusia yang merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah padanya dan mensyukurinya sebaik mungkin karena hanya dengan syukur Allah akan menambah kan rahmatNya dan memberikan Barokah ke dalam harta yang disyukuri meski jumlah dan nilainya tak seberapa dalam kamus harta benda dunia. Karena “dunia” bagi para pengejarnya adalah seperti wortel yang diikatkan di depan kepala keledai yang membuat keledai tersebut berlari mengejarnya namun tak akan pernah akan mendapatkannya karena semakin dikejar maka wortel itu juga semakin menjauh.

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena

Diseduh Di      : Senyapandaan