Sedekah Universal

Sedekah Universal

Haji, gelarnya adalah seorang haji. Aku sangat mengenal orang ini karena selama kurang lebih 2 dekade usiaku sebagai anak manusia, aku tumbuh hidup berdampingan dengan orang ini. Banyak kenangan kelam yang bergentayangan di otakku kala merenungi segala tingkah polah manusia yang masih ada ikatan darah dengan ibuku ini. Salah satunya adalah masalah ketidak-adilan yang kerap kali dialami ibuku dan keluarganya. Entah itu masalah penyerobotan hak yang dia lakukan terhadap sesuatu yang sebenarnya adalah hak ibuku sebagai anak dari mbah ku yang juga merupakan ibu dari orang yang kumaksud tersebut, dan masih banyak lagi contoh kezalimannya yang lain yang tak mungkin kusebutkan detailnya di dalam majalah ini. Tulisan ini tak bermaksud untuk membuka aib orang lain, namun hanya sebagai bahan renungan kita sebagai manusia yang ingin bercermin dari ensiklopedia kehidupan yang tiap lembarnya terbuka pelan-pelan dan “dibacakan” dengan lantang oleh segala polah manusia selaku lakon kehidupan ini dan agar ada poin-poin kebijakan yang bertambah dalam “rekening” kehidupan kita. Bukankah kisah kehidupan seorang manusia adalah cermin bagi hidup manusia yang lain. Dan bukankah seorang Mukmin adalah cermin bagi Mukmin yang lain, demikian kata Nabi kita yang mulia. Sekali lagi, semoga dengan membaca tulisan ini akan ada “sesuatu yang lain” yang dapat kita petik guna kita kantongi dalam saku nurani kita untuk dapat direnungkan lebih dalam lagi.

***

Salah satu hal yang paling menohok urat pikirku mengenai sifat tokoh yang kita bahas dalam tulisan ini adalah sikap kikir dan kedermawanannya yang unik dan nyeleneh. Mengapa aku katakan unik dan dalam satu sisi juga nyeleneh? Karena orang ini dalam hal sedekah dan memberi pinjaman hutang kepada seseorang suka pilih-pilih. Ketika orang yang berhutang adalah seseorang yang latar belakang kehidupannya cukup mapan atau dalam masyarakat memiliki status sosial yang lumayan dipandang, maka dengan senang hati tokoh kita ini akan menghutanginya meskipun hutangnya sampai bernilai jutaan rupiah. Padahal tidak jarang uang yang dipinjamkan tersebut hanya digunakan untuk sesuatu yang tidak begitu urgen. Namun ketika ada seseorang yang latar belakang kehidupannya kurang begitu meyakinkan dan dalam masyarakat status sosialnya tidak begitu dipandang dan terkesan masuk dalam kategori kurang mampu alias pas-pasan, maka dengan segala dalih dia akan menolaknya, padahal orang yang hendak datang meminjam uang padanya sangat butuh akan kedermawanannya karena kebutuhannya sangat urgen seperti untuk membayar uang sekolah anaknya dll yang kadang jumlah nominal hutangnya tidak begitu sulit untuk dipenuhi oleh manusia sekelas dia. Paradoks dari sifatnya itu adalah, ketika ada seseorang yang dalam pandangan matanya cukup sepadan dengannya maka dengan senang hati akan ia bantu meskipun orang itu hanya sebatas teman atau kenalan jauh. Sedangkan ketika yang hendak membutuhkan bantuannya adalah orang yang dalam “kacamatanya” tidak selevel maka pintu rumahnya akan selalu tertutup dan ketika dipanggil pun dia seolah tidak mendengar –padahal Demi Allah ku yakin dia hanya pura-pura tidak mendengar alias tuli sementara-. Tak peduli itu tetangga dekat bahkan saudara kandung sendiri, jika tak selevel dengannya maka jangan harap akan dia bantu.

Dan satu keunikan serta kenyelenehan lain darinya adalah dalam hal sedekah. Dia lebih suka membagi-bagikan makanan atau sedekahnya yang lain kepada teman, tetangga atau seseorang yang dianggapnya cocok dengannya meskipun jarak rumahnya jauh -dan anehnya mereka bukanlah masuk dalam kategori orang fakir melarat-dibandingkan dengan membagikannya kepada orang-orang fakir atau tetangga terdekat yang tak cocok dengan hatinya dikarenakan ihwal status sosial. Padahal menurut sabda nabi yang paling berhak akan semua itu adalah tetangga terdekat. Bukankah telah jamak kita ketahui bersama bagaimana Rasulullah semasa hidupnya sangat getol menjelaskan dan mengingatkan akan hak-hak spesial tetangga yang layak didapat dari kita. Namun entahlah, ketika yang bicara hanya nafsu duniawi yang berpatokan gengsi dan materi maka segala yang benar seolah terkaburkan menjadi sesuatu yang salah.

Oh iya ada satu hal lagi yang tak kalah nyeleneh, yaitu mengenai pernyataannya yang menurut akal sehat sangat kontroversial yaitu tentang pendapatnya yang tak membolehkan memberi sedekah kepada seseorang yang tidak pernah terlihat mendirikan sholat –padahal tentang itu (sholat apa tidak) kan hanya yang bersangkutan dan Tuhan saja yang tahu-. Sungguh nyeleneh sekali pikiran orang ini. Dia seorang Muslim, bertitel haji pula. Namun cara beragamanya menyelisihi tuntunan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Karena kelakuannya yang tak mau memberi sedekah kepada seseorang yang menurutnya tidak pernah kelihatan mendirikan sholat sungguh sangat bertentangan dengan apa yang pernah diperbuat oleh Rasulullah semasa hidupnya dahulu. Kita tentu ingat tentang kisah nabi dan pengemis Yahudi buta di salah satu sudut pasar Madinah. Setiap hari nabi membawakan makanan (bersedekah) kepada pengemis Yahudi buta itu dan bahkan menyuapinya dengan tangan mulia sang nabi sendiri, namun apa yang dilakukan si pengemis Yahudi buta? Tiap kali Rasulullah membawakan dan menyuapinya makanan tiap itu pula si Yahudi mengingatkan beliau untuk berhati-hati terhadap Muhammad yang menurutnya gila dan tukang sihir. Pengemis itu masih belum mengetahui bahwasannya orang yang selalu dicacinya adalah orang yang tiap hari selalu menyuapinya makanan. Pengemis itu juga selalu mengumpat sang nabi tiap hari di depan khalayak ramai yang kebetulan berlalu lalang di depannya. Namun setelah nabi wafat dan suatu hari tugas menyuapi pengemis itu dilaksanakan oleh Abu Bakar as Shidiq, maka si pengemis baru sadar bahwa yang menyuapinya itu bukan orang yang biasanya (Rasulullah), pengemis itu bertanya dan oleh Abu Bakar dijawab dengan penjelasan yang lebar sembari menitikkan air mata ketika menceritakan kepribadian rasulullah yang agung yang meskipun tiap hari difitnah dan diumpat oleh si Yahudi namun beliau tetap saja membawakan bekal dan bahkan menyuapi orang yang selalu mengumpatnya tersebut. Demi mendengar penjelasan tentang betapa agungnya akhlak Rasulullah yang merupakan akhlak Qur’ani itu, si Yahudi langsung menangis dan saat itu juga meng-ikrarkan 2 kalimat syahadat.

Menilik kisah nabi tersebut, bukankah sangat jelas sekali bahwa sedekah adalah universal alias tak memandang kepada status dan kepribadian seseorang yang akan disedekahi, asalkan dia memang berhak ya saat itu pula sedekah boleh diberikan padanya. Jika tokoh kita ini tidak mau bersedekah kepada orang yang menurutnya tidak pernah terlihat mendirikan sholat, lantas bagaimanakah dengan keadaan si pengemis Yahudi buta itu. Jangankan sholat, memeluk Islam saja belum. Lantas timbul pertanyaan dalam benak kita, siapakah figur pengajar Islam yang dicontoh tokoh kita ini. Atau apakah dia ingin membuat agama sendiri yang dalil-dalil nash nya dia susun sendiri. Rasulullah saja yang merupakan manusia yang paling tahu ajaran Al Qur’an masih mau bersedekah pada si Yahudi yang tentu saja tak pernah sholat, lalu bagaimana bisa tokoh kita ini mengatakan tak mau sedekah kepada saudara semuslimnya yang tak pernah sholat dalam pandangannya. Apabila semua Muslim berkelakuan seperti tokoh kita ini, maka porak porandalah pondasi bangunan agama ini. Karena agama ini tidak ditolong oleh Allah melainkan karena adanya doa orang-orang lemah (termarjinalkan). Dan jika semua muslim berpandangan sama dengan tokoh kita, maka tak kan ada yang mau bersedekah dan saat itu juga persaudaraan Islamiyah kita akan perlahan terputus kala tak ada lagi nilai empati sosial dari masing-masing Muslim, terutama para Aqniya’ nya kepada para fakir miskin sekitar mereka.

Dan untuk mematahkan argumen tidak boleh bersedekah kepada mereka yang tidak mau sholat tersebut, maka selayaknya kita renungi kembali sebuah kisah yang termaktub dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim berikut yang justru menempatkan sedekah sebagai jalan hidayah bagi si penerima sedekah. Rasulullah mengisahkan pada zaman dahulu ada seorang lelaki yang bernazar bahwa dia sungguh akan bersedekah dengan satu sedekah. Pada malam pertama, dia keluar rumah dan menyerahkan sedekahnya kepada seorang pencuri. Orang-orang yang mengetahui hal itu berkata padanya dengan sinis, ”Malam ini engkau bersedekah kepada seorang pencuri.” Namun lelaki tersebut berkata dengan tenang, “Ya Allah segala puji bagiMu karena aku bisa bersedekah walaupun hanya kepada seorang pencuri. Sungguh aku akan bersedekah lagi dengan sedekah yang lain.”
Malam berikutnya dia keluar rumah dan bersedekah kepada seorang wanita lacur yang kebetulan dia temui. Melihat hal itu, orang-orang mencibirnya,”Malam ini engkau bersedekah kepada seorang wanita tuna susila.” Lagi-lagi lelaki itu berkata dengan tenang, “Ya Allah segala puji bagiMu karena aku bisa bersedekah walaupun hanya kepada seorang wanita lacur. Sungguh aku akan bersedekah lagi dengan sedekah yang lain.” Malam berikutnya dia keluar rumah dan bersedekah lagi, namun kali ini dia bersedekah kepada seorang yang kaya. Dan orang-orang yang mengetahui hal ini kembali berkata padanya dengan cibiran seperti malam-malam sebelumnya, “Malam ini engkau bersedekah kepada seseorang yang kaya.” Namun dengan tenang lelaki itu menjawab, “Ya Allah segala puji hanya bagiMu karena aku dapat bersedekah kepada seorang pencuri, wanita lacur, dan orang yang berpunya.”
Pada satu malam lelaki itu mendengar suara dalam mimpinya, “Adapun sedekahmu kepada seorang pencuri, maka mudah-mudahan dengan sedekahmu itu akan menjauhkannya dari perbuatan mencuri kembali. Sedangkan sedekahmu kepada seorang wanita lacur, maka mudah-mudahan dengan sedekahmu itu akan membuatnya berhenti dari perbuatan zina. Dan adapun sedekahmu kepada si orang kaya, maka mudah-mudahan orang itu dapat mengambil pelajaran dari sedekahmu sehingga ia mau menafkahkan harta yang dianugerahkan Allah padanya kepada manusia lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari kisah hadis di atas telah jelas bahwa ternyata sedekah mampu membukakan pintu hidayah bagi si penerima. Sehingga dalih tidak boleh bersedekah kepada orang-orang yang masih belum mau sholat adalah dalih sesat yang tidak ada dalilnya dalam agama yang memanusiakan manusia ini. Karena telah nyata bagaimana si pengemis Yahudi buta akhirnya mau memeluk Islam setelah dia menerima sedekah dari Nabi yang bukan hanya sekedar sedekah makanan namun yang lebih besar adalah bahwa ternyata tiap hari si pengemis yang fakir harta serta fakir akhlak dan ajaran agama itu mendapatkan sedekah akhlak dan kepribadian dari nabi.
Semoga tokoh dalam tulisan yang kubagi dengan para pembaca ini ini disadarkan oleh Nya akan beberapa kekeliruannya tersebut. Dan semoga kita dapat mengambil pelajaran berharga dari kisah ini.Amin.

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena
Diseduh Di      : Senyapandaan