Teror Tabung Gas Elpiji

Teror Tabung Gas Elpiji

Noordin M. Top cs yang konon teroris paling ditakuti di negeri ini memang telah tewas, dan dalam minggu ini (tepatnya antara Sabtu malam-hingga Minggu dini hari (7-8 Agustus 2010) ) sekira 3 “teroris” juga berhasil dibekuk di wilayah Jawa Barat. Dan harapan terbesar petinggi-petinggi republik ini dengan keberhasilan para aparat berwajib terutama Densus 88 Anti Teror itu adalah semakin berkurangnya kecemasan masyarakat terhadap berbagai aksi terror yang belakangan banyak menghantui masyarakat. Namun terlepas dari “prestasi” pemberantasan aksi terorisme yang lumayan banyak memakan korban jiwa tersebut, kini masyarakat kita ternyata masih belum lepas sepenuhnya dari ancaman teror yang berupa ledakan yang akhir-akhir ini banyak merenggut korban jiwa di berbagai wilayah Indonesia mulai dari pusat pemerintahan hingga ke pelosok negeri nun jauh di sana. Jika dahulu aksi-aksi ledakan bom para “teroris” hanya berkutat pada tempat-tempat atau Instalasi tertentu yang mereka anggap vital dan me-representasi-kan kepentingan barat atau instalasi vital milik pemerintah Republik Indonesia, maka kini aksi teror “bom” tersebut jauh lebih berbahaya dan ekstrem. Karena telah terbukti mampu merenggut ratusan nyawa (dan jumlah ini diyakini akan terus bertambah) di hampir merata di seluruh negeri ini mulai dari kota hingga pelosok desa. Dan yang lebih “hebat” nya lagi adalah sebuah fakta ironis bahwa yang menjadi tersangka utama pelaku teror itu adalah negara kita sendiri melalui “bom-bom” aktif yang kini banyak dipasang di dapur-dapur masyarakat Indonesia.

Pemerintah melalui Pertamina menganggap hal itu hanyalah sebuah resiko biasa dan lebih diakibatkan kecerobohan dan ketidaktahuan konsumen tabung gas Elpiji 3 Kg (mayoritas karena merupakan dampak hasil dari program konversi minyak yang diselenggarakan Pemerintah). Jika korban yang berupa nyawa dianggap sebagai hal biasa nan sepele belaka maka patut dipertanyakan di mana letak nurani mereka, para penggagas dan penanggung jawab program pemasangan “Bom-bom aktif” missal di dapur-dapur penduduk negeri ini. Bukankah pemerintah yang merupakan “penggembala” masyarakatnya haruslah dapat melindungi dan memberikan rasa aman nan tenteram di tengah kehidupan masyarakatnya. Jika dalih pemerintah bahwa semua kejadian ini adalah karena masalah selang tabung yang tidak valid alias tidak ada label SNI (Standar Nasional Indonesia) maka kenapa baru berkoar-koar belakangan setelah banyak nyawa rakyatnya berguguran massal satu per satu. Kemudian jika dalih yang mereka pakai adalah karena banyaknya masyarakat (terutama di pedesaan) yang kurang mengerti prosedur pemasangan dan penggunaan tabung Gas Elpiji tersebut, lalu mengapa sosialisasi tidak digalakkan dengan massiv sebelum program peng-konversi-an tersebut. Sosialisasi nampaknya hanya menyentuh wilayah tertentu saja dan tidak merata ke seluruh pelosok negeri terutama ke pedesaan terpencil yang masih banyak warganya kurang begitu faham jika hanya disosialisasikan satu atau dua kali saja tanpa adanya pendampingan secara berkelanjutan agar mereka lebih benar-benar paham. Ingat, bahwa program ini merata digalakkan di seluruh pelosok negeri oleh Pemerintah sendiri. Maka sudah seharusnyalah pemerintah lebih aktif tanggap melakukan berbagai tindakan Preventif (pencegahan) terhadap berbagai dampak dari program mereka yang kini perlahan-lahan mulai nampak menjadi program paling “menakutkan” bagi masyarakatnya sehingga banyak dari masyarakat kita yang kembali mulai melirik minyak tanah dan kayu sebagai solusi alternatif terbaik. Apalagi menurut beberapa kabar yang banyak dilansir di berbagai Media Massa bahwa kabarnya Pemerintah selain akan menaikkan Tarif Dasar Listrik juga akan menaikkan harga Tabung Gas Elpiji 3 Kg, wuih sebuah kejutan apalagi ini. Di saat rakyat kewalahan menghadapi berbagai harga Kebutuhan bahan Pokok yang kian merangkak melangit, kini masih akan ditambah dengan kenaikkan harga 2 Instrumen hidup lainnya (TDL dan Elpiji) yang hingga kini masih belum bisa memberikan kepuasan dalam melayani kehidupan masyarakat dan tidak jarang malah lebih cenderung makin menyengsarakan rakyat sebagai konsumen “sukarela” karena merupakan kebutuhan pokok(seperti Listrik) dan sebagai Konsumen yang “dipaksakan” (dalam hal penggunaan Elpiji sebagai pengganti Minyak Tanah dan Kayu).

Sebuah saran dari saya selaku masyarakat kecil yang juga sebagai bagian dari bangsa ini, sudah seyogyanyalah pemerintah selaku penggagas awal program konversi Minyak tanah ke Elpiji membuat terobosan baru dalam hal sebagai langkah pengamanan masyarakat dari “teror” Tabung Gas Elpiji yang mereka banggakan tersebut, misalnya dengan membuat posko penanggulangan bahaya ledakan Tabung Gas Elpiji di seluruh wilayah Indonesia agar masyarakat dapat merasa lebih terdampingi dan aman dalam menggunakan Tabung Hijau tersebut. Atau juga membuat Satuan Tugas semacam Densus 88 Anti Teror yang bertugas sebagai penyelidik dan pencari fakta di lokasi kejadian ledakan Tabung Gas Elpiji, karena toh ledakannya juga sama membahayakan dengan ledakan bom para “teroris” kan???. Semua ini agar Pemerintah tidak dicap sebagai TERORIS oleh rakyatnya karena pemerintah sendirilah yang kini telah memasang secara massal “Bom-bom Waktu Aktif” yang siap meledak kapan saja di dapur-dapur masyarakat Indonesia.

Tulisan (Seduhan) ini sebagai bentuk rasa cinta saya kepada Republik Indonesia yang kini banyak masyarakatnya ter-teror oleh “Bom-bom waktu Aktif” hadiah dari Pemerintah Republik Indonesia yang kami hormati dan muliakan. Semoga bangsa ini mampu bangkit dari segala keterpurukan. 65 Tahun bangsa ini merengkuh kemerdekaan dan semoga sebentar lagi meski pelan-pelan, Rakyat Indonesia juga akan merdeka dari ancaman ledakan Tabung Gas Elpiji dan merdeka dari berbagai keruwetan Sosial lainnya, Amin.

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena (senyapena@gmail.com)
Diseduh Di      : Senyapandaan