Perjamuan Suci

Perjamuan Suci

Suatu hari Nabi Musa AS. naik ke atas gunung Thursina guna “berjumpa” dengan Allah. Seperti kebiasaannya kala akan “bercakap-cakap” dengan Tuhan, beliau melakukannya (mendaki puncak gunung tersebut) kali ini guna menyampaikan unek-uneknya yang merupakan aspirasi dari kaumnya, Bani Israel yang memang terkenal sangat “ndablek” meskipun mereka telah “digembalakan” oleh beberapa orang Rasul sebelum akhirnya kini sampai pada masa kenabian Nabiyullah Musa Alaihis Salam. Unek-unek Musa kali ini adalah lebih pada keinginan kaumnya yang ingin mengadakan sebuah Syukuran atau kendurian (Perjamuan) besar dimana saat itu Tuhan harus hadir pula sebagai tamu kehormatan. Sebenarnya Musa agak keberatan dengan usulan kaumnya itu mengenai acara mengundang Tuhan pada acara makan-makan itu. Namun apa boleh buat, seperti yang sudah mafhum dicatat oleh tinta sejarah termasuk yang direkam dalam Kalam Ilahi (Al Qur’an) bahwa kaumnya (Bani Israel) memang terkenal sangat bebal dan kekeuh terhadap sesuatu yang mereka ingini.

“Ya Allah, seperti yang telah Engkau ketahui bahwa kaumku ingin sekali mengundang Engkau dalam acara perjamuan yang akan mereka adakan nanti. Berkenankah Engkau menghadiri hajatan yang akan mereka gelar tersebut?” Musa mulai bercakap-cakap dengan Tuhan.

Hening sejenak keadaan syahdu ketika salah seorang anak manusia pilihan tersebut bercakap dengan Sang Penguasa Alam itu.

“Wahai Musa! Sampaikanlah pada kaummu bahwa Aku akan datang pada acara perjamuan mereka,” Tuhan menyanggupi permintaan Musa yang merupakan kepanjangan suara kaumnya itu.

Dengan perasaan yang masih tidak sepenuhnya percaya tentang bagaimana Tuhan benar-benar menyanggupi permintaan kaumnya, Musa kembali pada kaumnya dan mengabarkan bahwa Tuhan telah meluluskan permintaan mereka dan berjanji akan datang pada hajatan besar mereka. Betapa gembira bukan kepalang kaum Musa itu mendengar pinta mereka dikabulkan oleh Tuhan. Mereka membayangkan akan bertemu muka secara langsung dengan Tuhan. Mereka menaruh harapan tinggi akan hal ini dan mereka yakin Tuhan tak akan pernah mengingkari janji Nya.

***

Hari yang ditunggu-tunggu telah datang menziarahi. Persiapan Perjamuan Suci dengan Tuhan sebagai Tamu Istimewanya telah begitu matang dipersiapkan. Berbagai hidangan dan minuman lezat telah dihiasi dan dihidangkan sedemikian rupa di tengah tanah lapang yang mereka jadikan tempat penyambutan Tuhan. Betapa kerasnya detak jantung mereka mendapati diri mereka akan segera dapat melihat Tuhan secara langsung. Ah, betapa tak dapat dilukiskan dengan segala apapun di dunia ini perasaan mereka saat itu.

Namun setelah menunggu beberapa saat, ternyata yang dinanti tak kunjung datang. Musa pun mulai cemas akan hal ini. Betapa tak kalah perasaan campur aduknya menghadapi acara perjamuan suci ini. Sembari menanti kehadiran Tuhan, Musa melayani permintaan seorang tua yang datang padanya yang dari sisi penampilannya dapat disimpulkan bahwa dia adalah seorag fakir miskin yang sangat membutuhkan bantuan. Fakir miskin tua itu datang ke arah Musa yang tengah berada di antara kerumunan besar kaumnya yang sama-sama tengah menanti kehadiran Tuhan.

“Wahai Nabi Allah, berilah hamba sedikit makanan dan air agar dapat kugunakan sebagai pelepas lapar dan dahagaku,” pinta si fakir tua dengan nada lirih namun tetap penuh hormat pada Musa.

“Sabarlah sejenak wahai hamba Allah yang saya muliakan. Karena sebentar lagi Tuhan akan hadir di tengah-tengah kita dan kita akan bersantap hidangan bersama-sama dan anda bebas memilih hidangan apapun dan sebanyak apapun sesuai inginmu,” jawab Musa menjelaskan pada fakir tua itu.

“Namun aku hanya butuh sedikit saja jatah makanan dan air sekedar kugunakan untuk menghapus lapar dan dahagaku yang telah sangat menyiksaku kini,” si fakir tua masih ngotot meminta dengan hormat kepada Musa.

“Tenanglah, sabarlah barang sejenak saja, Kek! Karena sebentar lagi anda pasti akan mendapatkan apa yang menjadi hajat anda itu. Namun setelah Tuhan datang, jadi mohonlah kiranya anda bersabar sebentar saja,” Musa masih saja tidak langsung meluluskan pinta si tua fakir itu.

Setelah lama menunggu dan rengekannya tak juga dihirau oleh manusia-manusia yang ada di tempat itu (termasuk Nabi Musa) maka fakir tua itu memutuskan untuk pergi meninggalkan kerumunan para penanti kehadiran Tuhan itu. Dan salam pamit kepergiannya itu nampaknya juga tidak terlalu dihirau oleh Nabi Musa dan juga kaumnya.

Setelah menunggu beberapa lamanya mulai dari hitungan menit hingga selang beberapa jam Tuhan tak jua datang, kaum Musa merasa kesal dan mulai menganggap Musa telah membohongi mereka. dan hingga sekian amat lamanya Tuhan ternyata tak jua datang dan dapat disimpulkan ternyata Tuhan tak jadi datang pada acara perjamuan suci itu. Musa sebagai nabi mereka tentu menjadi “samsak cercaan bersama” oleh kaumnya. Mereka menganggap Tuhan dan Musa telah mendustai mereka. betapa dapat dimaklumi kekecewaan mereka. Karena acara yang telah mereka persiapkan dengan sangat amat matang itu akhirnya kini sia-sia belaka dengan tak hadirnya Tuhan pada acara mereka.

Musa yan merasa tercoreng namanya dengan semua kejadian ini seakan tidak punya muka lagi menghadapi hujan hujatan yang seluruhnya mengarah padanya. Dan jalan satunya – satunya bagi Musa untuk “melarikan diri” dari semua itu adalah dengan menghadap Tuhan.

Setelah terengah-engah mendaki punggung Thursina, Musa akhirnya sampai di tempat dimana dia biasa bercakap dengan Tuhan yang merupakan tempat yang sama saat Musa menerima wahyu Tuhan untuk pertama kali (Ten Commandements).

“Wahai Rabbku, mengapakah Engkau mengingkari janji Mu untuk hadir pada acara jamuan kaumku. Sedemikian tegakah Engkau telah membuat wajahku kini menjadi merah karena malu yang sangat besar pada kerumunan anak Adam yang Engkau amanahkan padaku untuk ku gembalakan itu?” Musa mengadukan nasibnya pada Tuhan.

“Wahai Musa, senantiasalah berbaik sangka dan memohon ampun padaku karena Aku mengetahui apa yang tidak engkau ketahui,” jawab Tuhan singkat.

“Aku memohon ampun padaMu wahai Tuhanku dari apa yang tidak aku ketahui. Namun sudilah kiranya Engkau menjelaskan padaku manusia yang tak tahu apa-apa ini alasan mengapakah Engkau tidak hadir pada jamuan tersebut?” pinta Musa setelah sebelumnya mengucap Istiqfar atas segala kelancangannya “menyemprot” Tuhan dengan segala tanyanya yang terkesan menyudutkan Tuhan tersebut.

“Ketahuilah wahai Musa bahwasannya Aku tak pernah mengingkari janjiKu sedikitpun pada semua makhlukKu termasuk dalam acara jamuan yang diadakan kaummu itu,” jawab Tuhan mencoba menenangkan hati Musa.

“Lantas mengapakah Engkau tak hadir pada acara mereka padahal Engkau telah berjanji akan datang. Bukankah hal ini akan membuat kaumku berburuk sangka pada Mu, wahai Tuhanku!” Musa masih tak mengerti dengan semua teka-teki ini.

“Aku telah hadir pada acara jamuan itu, wahai Musa. Namun kalian tak menghiraukanKu sedikitpun dan malah menyanggupiku agar terus bersabar. Padahal hajatku saat itu sangat penting untuk segera ditunaikan. Dan setelah menyaksikan ketidakpedulian kalian padaKu maka Aku memutuskan untuk pergi dari hadapan kalian karena toh kalian tak menyambutKu dengan penuh kelayakan sedikitpun,” jawab Tuhan membela diri dari semua tuduhan Musa dan kaumnya.

“Maksud Engkau?” tanya Musa penuh keheranan.

“Ingatkah engkau dengan seorang tua fakir yang datang padamu dan meminta sesuatu yang dapat dia makan dan minum saat itu guna mengobati lapar dan dahaganya?”

“Ya, tentu saja aku ingat.”

“Dialah yang mewakiliKu hadir pada acara jamuan kaummu. Dan ketahuilah wahai Musa bahwasannya barangsiapa yang memberinya makan maka berarti mereka juga ‘memberiku makan’ dan barangsiapa yang memberinya minum maka mereka juga telah ‘memberiku minum’. Ketahuilah wahai Musa bahwasannya seluruh jagad semesta ini takkan sanggup menampung Zat Ku. Karena Akulah Yang Maha Mulia, Agung nan Tinggi di alam ini dan takkan ada yang dapat menyamaiKu dalam hal apapun,” Tuhan mulai menjelaskan duduk perkaranya pada Musa.

“Maha Besar Engkau wahai Tuhanku dan aku berlindung dari segala ketidakmengertianku serta memohon ampunan padaMu atas semua ini,” ujar Musa penuh ketundukkan nan khidmat.

***

Kisah ini bertutur pada kita bahwa untuk memuliakan Tuhan tak perlu berpikiran yang terlalu jauh dan ruwet seperti yang telah dilakukan kaum Nabi Musa. Karena salah satu cara yang paling disukai Allah untuk dapat mendekatiNya adalah dengan memuliakan sesama manusia tanpa memandang atribut apapun yang melekat pada fisik mereka. terutama para fakir miskin dan kaum – kaum tak berpunya dan terpinggirkan. Seperti sabda Nabi kita Muhammad yang mengatakan, “Sayangilah apa yang ada di bumi niscaya engkau akan disayangi yang ada di langit.”

Dan satu hal lagi yang patut kita ingat bahwasanya hak- hak kaum fakir sangat besar dalam masyarakat. Mereka harus dimuliakan sedemikian rupa sesuai dengan yang telah diajarkan Allah dan RasulNya. Karena keberadaan mereka merupakan “ladang amal” yang sangat subur nan produktif dimana pahala dapat tumbuh mekar berbuah di segala sisinya. Hal ini juga menjadi perhatian serius Rasulullah yang dapat kita buktikan dengan mendengar rekaman pesan-pesan terakhir beliau sebelum menutup usianya di dunia ini yang salah satunya adalah menyuruh kita agar selalu mendirikan sholat dan memperhatikan orang-orang lemah di sekitar kita. Dua pesan utama yang bernilai ke-Ilahian dan kemanusiaan sekaligus yang masing- masing duwakili oleh Sholat (Hablum minallah) dan memperhatikan kaum-kaum lemah sekitar kita (hablum minan nas/kemanusiaan)

Semoga kita dapat bertafakur dari kisah ini.

Diseduh Oleh : Musyaf  Senyapena (senyapena@gmail.com)

Diseduh Di        : Senyapandaan