Kenaikan Harga Bahan Pokok

Kenaikan Harga Bahan Pokok

Menjelang lebaran, harga kebutuhan pokok dipastikan akan ikut melonjak. Dan hal ini disadari betul oleh para ibu rumah tangga, karena merekalah yang paling tahu seluk-beluk kebutuhan dapur. Dan ternyata hal ini juga berlaku bagi ibu-ibu yang juga merupakan istri para pegawai plat merah di negeri ini.

Suatu hari, salah seorang ibu rumah tangga yang juga merupakan istri seorang pejabat pemerintah daerah di sebuah kota di jawa memutuskan untuk berbelanja di sebuah pasar tradisional di kotanya. Hitung-hitung ikut mencoba mendengar keluhan rakyat secara langsung dan juga dalam rangka mengenang masa lalunya kala dia masih hidup susah sebelum akhirnya suaminya beruntung karena pencalonannya sebagai Caleg ternyata berbuah manis. Karena saat masih hidup serba susah dia juga sering berbelanja di pasar tradisional.

Hari belum beranjak terlalu siang kala sang istri menginjakkan kakinya di pasar. Tanpa basa basi dia langsung bergegas menuju ke tempat langganannya dulu, siapa tau langganannya itu masih mengingat dirinya, begitu pikirnya. Setelah sampai di tempat yang dituju, si istri pejabat yang saat itu mengenakan pakaian biasa ala masyarakat kecil langsung menyapa si ibu penjual sayur langganannya dulu. Dan ternyata si ibu penjual tersebut masih ingat akan bekas pelanggannya yang dalam beberapa tahun terakhir ini seolah hilang entah kemana.

“Bagaimana keadaannya, Bu? Apakah baik-baik saja?” tanya si ibu penjual sayur

“Alhamdulillah baik, Bu! Ibu sendiri bagaimana keadaannya, wah saya nggak nyangka lho kalo ibu masih ingat sama saya.”

“Saya juga Alhamdulillah baik-baik saja! Wah mana mungkin saya lupa, wong sampeyan kan salah satu pelanggan setia saya kan dulu,” si ibu penjual tersenyum menjawab tanya mantan pelanggan setianya itu.

“Duh gimana neh Bu dagangannya, apakah masih lancar-lancar saja. Bukankah harga bahan-bahan pokok termasuk sayuran kini melonjak lumayan tajam?”

“Iya begitulah, Bu. Seperti yang anda ketahui, kami rakyat kecil ini kini makin mati-matian menyambung hidup. Apalagi saya yang kebetulan berdagang sayur-sayuran. Yeah, semoga saja kesabaran dan ketawakallan kami ini berbuah manis, Bu. Karena hanya pada Nya lah saya selalu berpengharapan tinggi. Tidak kepada yang lain, termasuk para orang-orang atas di negeri ini,” ungkap si ibu penjual sayur yang juga merupakan uneg-uneg sebagian besar masyarakat di republik ini.

“Iya neh Bu, apa yang anda katakan memang benar. Di negeri ini harga apa yang tidak naik, semuanya melonjak dan nampaknya gak ada yang turun,” si ibu istri pejabat mencoba berempati kepada si ibu penjual sayur.

“Sebenarnya ada juga sih Bu harga yang turun saat ini. Bahkan sangat tajam sekali turunnya hingga ke posisi paling murah.”

“Oh iya, harga apa itu, Bu?” si istri pejabat nampak penasaran.

“Apalagi Bu, kalau bukan HARGA DIRI BANGSA INI !!!”

Si istri pejabat kaget bukan kepalang mendengar jawaban itu. Namun tak dipungkiri dalam hatinya juga membenarkan perkataan si penjual sayur tersebut. Terngiang di relung pikirnya tentang deretan berita kasus-kasus korupsi besar-besaran di negeri ini, berita tentang tingkah laku para wakil rakyat di negeri ini dan berita-berita kebobrokan lainnya yang memang nyata makin merendahkan harga diri bangsa ini di mata dunia, dan lebih-lebih juga di mata Tuhan.

Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena
Diseduh Di      : Senyapandaan