Mafia Selangkangan

Mafia Selangkangan

Membahas Prostitusi di negeri ini, sama rumitnya dengan membahas pornografi/pornoaksi, karena seperti kita tahu bahwa 2 hal tersebut di republik tercinta ini masih menjadi sebuah bisnis haram yang menggiurkan yang mengalirkan rupiah tiada henti ke dalam kantong sang pelaku bisnis. Jika penafsiran arti kata pornografi masih merupakan hal yang debatable atau memang sengaja dibuat demikian oleh pihak-pihak tertentu dalam memaknakan arti harfiahnya seperti yang sering kita saksikan dalam pembahasan UU Pornografi, maka tidak demikian dengan prostitusi. Pornografi sering dibenturkan dengan kreativitas dan seni oleh segelintir manusia cabul agar pornografi tetap diberi kebebasan di negeri ini. Dengan dalih kesenian dan kebebasan berekspresi serta kreativitas itulah, arti kata pornografi seolah-olah menjadi ambigu, bias dan multitafsir sehingga masyarakat dibuat bingung, ragu-ragu dan gamang mencap suatu karya dll sebagai materi pornografi padahal dalam agama hal tersebut jelas-jelas termasuk dalam kategori pornografi. Hal inilah yang merupakan salah satu bentuk kesuksesan para pelaku bisnis esek-esek. 

Namun yang tak kalah ironis dari pornografi adalah masalah prostitusi. Pasalnya, pornografi memang selalu memiliki 2 kubu yang pro (seperti para seniman cabul, pelaku bisnis esek-esek dan oknum-oknum yang terlibat dalam lingkaran bisnis setan tersebut) dan yang kontra (agamawan, pendidik, orang tua dll) terhadapnya. Hal ini didasari oleh perbedaan penafsiran terhadap apa arti dari pornografi itu sendiri dan bagaimanakah bentuknya (materi yang termasuk dalam kategori pornografi). Sedangkan mengenai prostitusi, nampaknya semua elemen bangsa satu suara bahwa prostitusi adalah “kotor” dan “menjijikkan” namun ternyata bagi sebagian orang adalah sebuah lahan yang “menjanjikan”. Memang dasar watak dasar manusia yang menurut Freud sang Psikolog dunia berdarah Yahudi itu, banyak didominasi oleh Libido (yang berhubungan dengan nafsu seksual dan birahi semata). Dan hal inilah yang memang menjadi realita yang sengaja disamarkan. Dan yang lebih hebatnya lagi adalah sebuah berita di dunia maya yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat libido di dunia. Hal ini dapat dibuktikan salah satunya dengan fakta bahwa bangsa ini masyarakatnya adalah pengkonsumsi pornografi (terutama di internet) tertinggi di dunia.

Prostitusi yang merupakan pelecehan terbesar terhadap Hak Asasi Manusia dan Kehormatan wanita, kini nampaknya mulai menjadi bisnis yang menggiurkan. Banyak Germo dan Mucikari di negeri ini yang dengan leluasa memainkan bisnisnya yang konon terkadang dibekingi oleh oknum berwajib sehingga banyak kita jumpai tempat yang biasanya rame dan terkenal sebagai pusat prostitusi (lokalisasi) ketika akan digrebek mereka lari entah kemana karena mereka sudah mempersiapkan diri terlebih dahulu guna melarikan diri setelah operasi rahasia yang bertujuan men-sweepimg tempat-tempat itu berhasil diketahui oleh para pemuja dan penikmat bisnis esek-esek ini.

 Padahal ini negeri Muslim terbesar di jagad, namun mengapa masih saja sulit dalam memberantas hal-hal amoral di negeri ini. Germo/mucikari sudah sepatutnya disejajarkan dengan para koruptor, pengedar narkoba dan teroris dalam hal tingkat hukuman. Karena ketiga oknum itu sudah sangat membawa kerusakan besar bagi bangsa ini yang kian hari kian jatuh harga dirrinya. Salah satu hukuman yang pantas buat mereka adalah hukuman mati. Karena dalam masalah ini kita bangsa Indonesia yang konon mengaku sebagai bangsa bertuhan (Sila Pembuka Pancasila yang merupakan dasar negara) nampaknya patut malu kepada China (Tiongkok) yang konon merupakan negara tak bertuhan (Komunis). Pasalnya, negara dengan jumlah penduduk terbesar seplanet bumi itu memiliki komitmen dan konsistensi dalam bidang hukum. Mereka (meski Komunis) adalah bangsa yang sangat amat anti pornografi dan pornoaksi, korupsi, dan anti narkotika serta hal-hal amoral lainnya termasuk prostitusi. Mereka tak segan menghukum mati para pelaku dalam masing-masing bidang pelanggaran hukum itu. Koruptor, pengelola situs porno, pengedar narkoba tak ada tempat aman di negeri Panda tersebut.

 Dan khusus untuk kasus prostitusi, ada berita menarik dari negeri berperadaban besar itu. Seperti yang diberitakan oleh Jawa Pos pada hari Kamis 12 Agustus 2010. Diberitakan bahwa pada hari Rabu (11/08) pengadilan setempat menjatuhkan vonis mati bagi Wang Ziqi dan Tao Minggu yang merupakan dua bos besar pengelola sindikat prostitusi di kota Chongqing, kawasan barat daya Tiongkok. Disebutkan bahwa ratusan perempuan muda telah menjadi korban bisnis kotor yang dijalankan oleh duo Mafia Selangkangan kawakan itu sejak tahun 1994.

 Wang Ziqi dan Tao Minggu terbukti mengoperasikan 9 rumah bordil (Pelacuran) yang mereka samarkan sebagai kedai teh, salon kecantikan dan hotel Megapolitan Chongqing. Demikian penjelasan seorang pejabat yang tidak mau disebutkan namanya dalam sebuah wawancara dengan China News Service seperti yang dilansir oleh AFP. Dan bisnis pemuasan nafsu birahi di kota berpenduduk 30 juta jiwa itu berakhir pada 2009 saat duo Mafia Selangkangan Top itu diringkus pihak berwenang.

 Selain kepada para germo itu, pengadilan juga menjatuhkan vonis bersalah kepada sekitar 28 anggota jaringan prostitusi tersebut. Mereka terbukti melanggar hukum antiprostitusi serta hukum criminal. Sebab, selama 15 tahun berbisnis mereka ternyata juga melakukan pemalsuan, penyuapan dan pemerkosaan. Namun ke 28 anggota bisnis lingkar aurat itu tidak sampai divonis mati seperti dua pimpinannya, karena mereka hanya diganjar dengan hukuman penjara.

 Konon pendapatan duo Mafia Selangkangan Chongqing dari bisnis prostitusi tersebut mencapai lebih dari CNY 100 juta (sekira Rp132 Miliar) yang selalu mereka sembunyikan dari pajak. Dan ternyata untuk memperlancar bisnis pelacurannya tersebut, duo Mafia Selangkangan itu juga menyuap pejabat lokal, termasuk juga Chen Tao yang merupakan mantan pejabat senior kepolisian yang kini harus rela menanggalkan baju dinas kebesarannya dan menggantinya dengan baju tahanan.

 Nah, jika China saja yang merupakan negara komunis alias anti Tuhan dapat melakukan hal sedemikian hebatnya bagi negaranya, dalam rangka memberantas prostitusi yang melecehkan kaum wanita dan hak asasi manusia, lalu bagaimana dengan bangsa ini yang diklaim sebagai bangsa muslim terbesar dan yang bangga menyebut dirinya sebagai negara yang Bertuhan dan bernorma ketimuran. Sudah sejauh manakah langkah tegas kita dalam memberantas bisnis esek-esek di negeri kita ini. Jawabannya nampaknya masih sangat amat jauh dari keberhasilan. Hal ini terbukti dengan semakin maraknya prostitusi terselebung yang memiliki 1000 wajah. Mulai dari prostitusi kelas bisnis, seperti salon plus-plus, jasa mandi uap dan pijit, karaoke with private room dan bisnis prostitusi yang hanya khusus bagi kalangan berjas dan berdasi yang pelanggannya adalah manusia-manusia elite saja. Hingga prostitusi emperan yang dilakukan di pinggiran-pinggiran kali, warung remang-remang, motel dan hotel kelas melati, dan lokalisasi-lokalisasi yang mudah terjangkau harganya oleh kaum biasa.

 Semua itu hingga kini belum bisa diatasi oleh pemimpin-pemimpin negeri ini. Menilik apa yang terjadi pada nasib perempuan dalam negeri (ingat bahwa korban terbesar prostitusi dan sejenisnya adalah kaum perempuan) maka tak heran jika nasib kebanyakan perempuan-perempuan Indonesia yang “terpaksa” mencari nafkah ke negeri jiran malah lebih parah karena disebut-sebut bahwa nasib mereka tak ubahnya seperti nasib budak, mereka selain tidak digaji juga dapat digilir (maaf) kehormatannya oleh majikannya sendiri. Setelah majikan tua maka gantian majikan muda dan demikian seterusnya dan pemerintah kita seolah tidak dapat berbuat apa-apa dalam melindungi kehormatan para warga negaranya terutama kaum perempuannya tersebut. Yang mereka tahu nampaknya hanya devisa yang lancar mengalir dan tak peduli jika para perempuan yang ketika berangkat dari tanah air dalam keadaan perawan namun pulangnya sudah berbadan dua. Maka tak heran jika tak sedikit kalangan yang menyuarakan agar para Srikandi Devisa itu ditarik saja dari luar negeri karena miris dengan kenyataan-kenyataan tersebut. Mereka (para TKW) tanpa sadar juga menjadi korban-korban “Prostitusi Terselubung” di luar negeri yang malah dilakukan oleh negaranya sendiri.

 Mungkin ada benarnya Taushiyah yang pernah disampaikan oleh salah satu dai kondang kita, K.H. Zainuddin M.Z. yang pernah mengatakan bahwa terkadang orang beragama tanpa sadar malah lebih komunis daripada orang Komunis asli. Dan sebaliknya terkadang orang komunis itu malah lebih beradab/berakhlak Islami daripada orang beragama tulen. Buktinya? Mudah, coba saja kita bandingkan Kebijakan-kebijakan hukum dan keberhasilan pelaksanaannya antara negeri China (Tiongkok) dengan negeri kita yang konon Bertuhan ini. Lebih berhasil yang manakah???

 Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena (senyapena@gmail.com)

Diseduh Di      : Senyapandaan